Malam ini bulan hampir bulat sempurna, tanggalan pun mendekati pertengahan bulan hijriyah. Bintang-bintang bergantungan begitu saja menjadi manik-manik langit dan diantara awan yang jarang berangkatlah engkau menyeberang ke alam sana. Nenekku tercinta, berangkatlah dengan tenang, dan kalau Tuhan mengizinkan dari sini kubacakan cerita suci dari surah Yaasin. Bila Tuhan memperkenankan, aku mengiringi langkahmu, ruhmu yang dicabut malaikat maut dengan cerita pemuda dari ujung kota yang mengakui keimanannya, yang lantas terbunuh karenanya, dengan cerita manisnya anggur-anggur sorga, sungai-sungai jernih yang mengalir dibawahnya dan ucapan salam sejahtera langsung dari Tuhan kepada para penghuninya. Aku doakan kau berada disana, bercengkerama dibalik pokok-pokok surga.
Pada saat-saat terakhir itu, kau terlihat cantik, penuh dengan sinar kemudaan. Gelombang aral yang berpuluh tahun mendera luruh seketika. Ya, ketika semua nadimu mendadak berhenti, akar-akar rambut mati dan menjadikannya terjuntai ke belakang, dua-tiga nafas terakhir yang tercekat, lepaslah kau selepas-lepasnya, dunia kehabisan tipu dayanya atasmu, tinggal bulir-bulir zikir dan kebaikan yang selama ini kau rajut sedikit-demi-sedikit terus hidup dan bekerja.
Tepat sebelum azan isya berkumandang, di tengah tuntunan kalimat tauhid para kerabat
semua kulit melepas letihnya,
semua urat berhenti berdenyut dan darah
seolah amblas ke dalam tubuh,
-kusebut Allah-,
-air mata menitik-,
matamu terpejam
tubuh dingin kaku
-kusebut Allah-
saat itulah kau pergi.
Selamat jalan, salam sejahtera atasmu.
Innalillahi Wa Innaa Ilaihi Rooji’un
Telah berpulang ke rahmatullah,
Hj. Suanah Binti Sepul
pada 11 Februari 2006 M, 13 Muharrom 1427 H,
Selamat jalan nenekku…
gw turut berduka cita sedalam-dalamnya.