Mumpung bulan haji, mumpung lagi musim kawin orang-orang, saya ingin mengangkat topik mengenai ‘hari-hari menuju hari H (pernikahan)’. Saya akan coba berbagi mengenai pengalaman saya, dan beberapa orang kawan mengenai hari-hari dan detik-detik menuju hari H, yaitu detik-detik setelah lamaran hingga akad nikah.
Pengkondisian
Ketika membaca tulisan ini, saya minta Anda tenang sejenak, letakkan alat tulis, kopi, rokok, bungkus-bungkus kondom yang sedang dibaca manualnya, dan segala macam yang dapat mengalihkan pikiran dari rasa tenang. Bayangkan diri anda duduk di ruangan yang nyaman, beraroma cemara, dinding-dindingnya dilapisi motif kayu berwarna cokelat. Anda duduk di sofa 1 seater (1 dudukan) yang cozy dan nyaman.
Setelah Anda merasa nyaman, sekarang nikmati kopi atau minuman apapun yang tadi sedang Anda nikmati, secara perlahan-lahan. Nikmati kopinya, tehnya, air putihnya, jus, air soda, limun water, apapun. Kalau minumannya sudah dingin, bayangkan itu hangat. Kalau minumannya adem-adem aja, bayangkan itu dingin menyegarkan. Kalau tak beraroma, bayangkan itu minuman dengan aroma minuman yang Anda sukai. Hmmmm, nikmaaatttt…
Lupakan semua hiruk pikuk sekitar, hiruk pikuk pekerjaan, hiruk pikuk persiapan pernikahan, hanya ada Anda sendiri di ruangan nyaman ini, di sofa yang nyaman dan lembut. Dan begitu Anda sudah rileks, bayangkan di depan Anda terbuka sebuah layar besar, berisi tulisan-tulisan di bawah ini:
(FADE IN) “Masa-Masa Menuju Hari “H” (pernikahan)”
- Merasa tidak pasti, was-was tanpa sebab mengenai ‘jadi-tidaknya’ hari H. “Eh, insyaallah gue mau married tanggal sekian, bulan sekian. Tapi lo diem-diem aja dulu ya, sampe gue kasih undangannya buat yang laen.” Ini perasaan yang umum sekali. Entah kenapa, ada rasa takut kalau terlalu banyak orang yang tahu mengenai tanggal jadi hari H dapat menjadi jinx buat acara pernikahan kita.
Word of the wise: Yes, it’s alright to keep it low profile first.
- Semua yang tersembunyi dari si dia mulai tampak ke permukaan. Tidak peduli sudah berapa lama (tahun) kita kenal dekat lewat jalur pacaran dengan pasangan kita, yang namanya manusia tetap ada sisi-sisi pribadi dan harapan tersembunyinya. Pada masa ‘pasca-lamaran s/d pra-nikahan’, hil-hal yang tadinya tersembunyi mulai terkuak sedikit demi sedikit. Dan tidak jarang hal tersebut cukup mengagetkan kita; “Loh, ternyata dia orangnya begitu toh?” Dan belek cinta yang sedari kemaren-kemaren nutupin mata kita mulai rontok, berganti; REALITA.
Word of the wise: Perkawinan sama seperti kita mulai berteman, mulai berpacaran, perkawinan adalah awal baru untuk mengenal seseorang lebih dalam lagi, dalam sebuah proses berkenalan (saling memahami) yang abadi antara kita dan pasangan kita. Untuk menghindari ‘rasa kaget yang tak perlu’, jangan pernah merasa yakin bahwa kita sudah mengenal seseorang 100% luar-dalam. - Makin sering berantem. Mendekati hari-hari bahagia, hari ketika semua orang mulai memaksa kita sekamar berdua (tidak seperti pas pacaran), hari-hari justru terasa dilewati dengan pertengkaran demi pertengkaran. Bahkan terkadang sampai ada pertanyaan; “Is he the one for me?” sambil sesenggukan di kamar atau curhat ke temen.
Ya kalo emang jodoh sama tu orang, pasangannya dapet temen curhat yang wise, yang nenangin. Tapi kalo gak jodoh, bisa jadi Tuhan ngasih temen curhat yang goblok, menyamakan saran buat orang yang mau nikah dengan saran buat orang pacaran; “Ya udah kalo gak cocok bilang aja, cegah dari sekarang, sebelum lo keburu dikawin” (apalagi kalau yang diminta saran statusnya belom kawin juga, gubrak aja deh).
Word of the wise: Ini sebetulnya pertengkaran biasa. Yang membuatnya terasa intens adalah karena Anda sedang intens kerja bareng memenuhi dead-line rencana bersama anda. Dan seringkali dibumbui perasaan melankolis “padahal kita kan gak lama lagi mau nikah…”, stop it! Ketahuilah, Anda berdua hanya sedang capek saja, batasi curhat-curhat mengenai pertengkaran Anda kepada pihak yang tak kompeten, karena tidak ada yang bisa menyelesaikannya kecuali Anda berdua. Pelankan bicara, dan mulai mendengarkan, memahami. - Bingung dengan permintaan-permintaan dari dua pihak keluarga. Guys, girls, ketika kita akan menikahi seseorang, harap juga disadari, bahwa kita pun akan ‘mengawini’ keluarganya, dengan kita dan keluarga kita. Tarik menarik kepentingan dari dua keluarga menjelang pernikahan itu wajar. Sebab ini baru pertama kali mereka berinteraksi. Ditambah lagi, pada acara sepenting ini, tak jarang mereka punya harapan-harapan/keinginan tersendiri. Soal bentuk acaranya, tempatnya, tamu undangannya, hidangannya, sampe kita-kita mikir; “Ini siapa siiih yang mau kawinnnnnn??”
Word of the wise: Ketika keluarga Anda dan keluarga pasangan seperti sedang tarik menarik kepentingan, jangan memihak (bahkan ke keluarga anda sendiri)! Solusinya adalah, Anda berdua yang harus kompak. - (Guys only) Semua wanita tampak available dan mudah didekati. Tidak peduli sebelumnya Anda petualang cinta atau bukan, setelah saya survey secara personal ke 2 jenis pria itu, saya dengan yakin mengatakan; mata mustang Anda, mata kuda liar yang terpendam di lubuk hati Anda akan terbuka (atau semakin terbuka) lebar.
Banyak perempuan -baik di lingkungan Anda, maupun yang baru lewat- menjadi terlihat seperti mengundang, available, mulut lebih ringan untuk memulai pembicaraan dengan lawan jenis, dan obrolan yang dulu nggak kepikiran mengalir begitu saja, sampai akhirnya berfikir; “Anjrit, kemana aja gue kemaren-kemaren? There are lots of them, and I don’t catch them all.” wakakakakakakaka
Word of the wise: Kalau anda pernah penasaran kenapa bapak-bapak pada genit, dan ibu-ibu candaannya jadi pada mesum, ini awal mulanya :p. Keberanian Anda berbicara dengan lawan jenis, mungkin didasari dari psikologis Anda yang mengatakan “Ah, gue udah punya seseorang yang pasti, jadi nothing to lose-lah kalo ‘ditolak’ sama cewek manapun” Dan mungkin memang pada taraf tertentu, pria berkomitmen terlihat lebih menarik dan menantang bagi sebagian wanita. Hahahahahahahaha (ketawa ngelirik Aves). Jangan terbuai, anggap itu cobaan aja. - Baru sempat menghapal ijab-kabul beberapa jam sebelum akad nikah (kemana aja selama ini *nohope*). Saking sibuk dan bingungnya mempersiapkan segala sesuatu buat hari H, justru kalimat pamungkas seringkali terlupakan. Begitu pagi hari menjelang akad baru deh tanya sana-sini soal kalimat ijab-kabulnya. Yang ngeselinnya, udahan baru ngapalin, ternyata ada dua versi pengucapannya:
1. “Saya terima nikahnya, anu binti anu dengan mas kawin perhiasan emas seberat 35,6 gram dan seperangkat alat solat dibayar tunai.”
2. “Saya terima nikahnya, anu binti anu dengan mas kawin tersebut dibayar tunai”
Saya sendiri waktu itu bingung, mesti pake yang mana. Uwa saya menyarankan yang mudah, sedang yang lain bilang yang lafalnya harus lengkap. Saking bingungnya, sewaktu acara sambutan-sambutan sebelum akad, saya menghampiri mertua lelaki calon istri saya, yang notabene saya belum pernah kenal (maklum backstreet :p ), dan nanya, “Pak, akadnya pakai yang mana?”
Word of the wise: Di sela-sela studi anda mengenai ajaran Kamasutra dan ajaran ‘posisi sex yang aman dan nyaman walau di luar kamar banyak orang’, luangkanlah waktu untuk menanyakan perihal kalimat ijab-kabul ini kepada orang tua, sesepuh di lingkungan anda, dan terutama kepada calon mertua Anda. Terkadang adat kebiasaan di tempat sana agak (atau jauh) beda dengan kita. - Bantuan ajaib soal biaya pernikahan. Sebelum saya mendapat ‘panggilan’ untuk menunjukkan keseriusan saya, kondisi keuangan saya sedang minim, karena belum punya kerjaan tetap, masih kuliah pula. Ndilalah nya, begitu saya menyanggupi untuk datang ke Jogja (dari jakarta), seminggu sebelum ngelamar, saya dapet proyek pengadaan interior warnet, yang cukup untuk acara lamaran nanti. Dan setelah lamaran, menuju hari H, alhamdulillahnya saya dapet proyek yang lebih besar lagi, cukup untuk nutupin keperluan hari H.
Cerita semacam ini gak akan habis, karena begitu saya tanya teman saya, karyawan saya yang hidupnya saya tahu pas-pasan. Semuanya memiliki cerita yang serupa. Sebab itulah saya gak pernah terima alasan orang yang belum mau nikah karena alasan biaya. Karena entah kenapa, begitu kita menyatakan ketegasan hati untuk menikah, seolah Tuhan mengerahkan alam seisinya untuk membantu kita mewujudkan pernikahan itu.
Word of the wise: Yang terpenting adalah tekad Anda untuk menikah, untuk berbuat baik dengan pernikahan itu, untuk menghalalkan sesuatu yang tadinya haram. Selanjutnya teruskanlah ikhtiar yang sedang Anda jalankan, dan biarkan Tuhan memainkan matematika-Nya. Disitu Anda akan lihat, betapa 1+1 tidak sama dengan 2. - Lupa apa yang terpenting. Konflik, gengsi, bayangan resepsi ideal, mas kawin yang wah dan unik, berpotensi menghalangi mata dari apa yang utama sesungguhnya di balik semua itu; Anda akan menjadi suami-istri. Anda akan mengizinkan ‘orang lain’ hidup bersama Anda, berbagi makanan dan minuman, berbagi kasur dan selimut, hidup bareng selama 24jam x umur hidup Anda, berbagi teman dan berbagi musuh, berbagi hak dan kewajiban, berbagi jiwa dalam persatuan rasa pengertian.
Word of the wise: Resepsi adalah resepsi, inti dari resepsi pernikahan adalah memberitahukan orang banyak bahwa si anu menikah dengan si anu. Yang paling penting adalah hari-hari sesudah resepsi. Hari-hari dimana hanya ada Anda berdua, tanpa tamu-tamu resepsi yang mengagumi betapa serasinya Anda, mewahny jamuan pesta Anda. Hari-hari Anda menghadapi jalan pernikahan dengan segala variabelnya.
Sekian sedikit share dari saya, berdasarkan yang pernah saya dengar, tahu, dan rasakan. Apabila ada poin yang perlu ditambahkan atau dikoreksi, jangan sungkan untuk menyampaikannya pada bagian komentar tulisan ini :).
Bbbeuuuh, lu kaya kakek2 yg udah nikah puluhan taun
nah, nulis yang bermutu kayak gini.
forward ke milis pernikahan 🙂
Wooww… Keren tulisannya kak…
Gw mau nikah bln desember nanti, harus dibaca jg nih sama pacar gw kak…. 😀
Nice Share gan,,,, mayan buat bekel 😀
hoho..
two thumbs 4 u bro…
it`s real… i have feel it..
pasti ada plugin nye. bangsat. guwe akan biin lw komen dengnan nyaman di tempat guwe…!!!
guwe demen tuh pengkondisian nya.
*untung layar guwe gede ba.
tambahan poin 5, cewenya ngomong “yakin nih gak mau TUKER TAMBAH…”
*komen pertama gak penting, komen kedua cuman baca awal doangan, komen ketiga abis baca semuanya… 😀
@nazla, gak ngerti darimana kesimpulan itu terjadi…
@fahdi, ini semua karena kamu nyek,,,
@pipit, waaah gitu, selamat-selamat, semoga sukses sampai tujuan 😀
@reza, bekel makan apa bola bekel? :p
@diana, ya kan terinspirasi dari curhat lo juga na :p
@nyurian1, perhatian kalimat itu merupakan dendam positif gw kepada nyurian, karena dia mengeluh gak nyaman komen disini kalo mesti isi name, email, webshit… Sekarang dah gue bikin bisa login pake web service apapun… demi kamuuu reeeee
@nyurian2, kalo butuh pengkondisian-pengkondisian lanjutan, you know my number, siapin aja minyak (???)
@nyurian3, dibales, “kalau sistem gadai aja gimana neng?”
to all: gue tambahin poin baru, poin ke delapan (8) 🙂
@nyurian3 @nyenius: ada buy back warranty (klu tyt ga puas) ga??
overall, ini adalah satu tulisan yang baik. Penjelasan yg dilakukan cukup gamblang dan mengena. Bagi anda yang belum menikah dan ingin menikah, atau sedang dalam proses akan menikah, ingatlah petuah dari aki @nyenius.
Dan bagi anda yang telah menikah, ingatlah… “Mandilah SEBELUM dan sesudah berhubungan suami istri”
Njoeh bro……;)
Gw gak duga broo… ternyata ente bertalenta jadi pemusik…
@sigalingmaut, hehehehehehehe, kawiiin maaaanggggg! :))
@ipatah, hah?
Eh monyooooong, gw nulis komen itu!! ga dijawab???
@jafar1, soal mandi itu memang pengingat yang penting, terutama bagi anda bung, biar orang lain gak infeksi 😛
@jafar2, wakakakakakaka maaap bang, ane kagak liat, jangan digrebek ye bang 😛
tarik maaaaaangggggg…..:D
hoho.. nice inpoh gan.. setuju2.. ^^