Januari 4

Teruslah menyanyi kawan, isi kemudaan ini. Pelabuhan-pelabuhan dan halte-halte telah menanti di depan. Kita tak akan berhenti disini, dan jangan mencoba berhenti. Jangan cepat rebah pada nasib. Bahasa Tuhan terlalu rumit untuk terus dipikirkan, mainkan saja, tembus saja, selama tangan masih bertenaga, selama langkah masih ada jiwanya. Rebut kemudaan ini, jangan cemar oleh urusan-urusan kedewasaan. Aku lelah bicara tentang tahi kucing, -cinta, kesetiaan, dan keluarganya- jiwaku menjadi ketergantungan, gandrung pada hati yang tak tercapai. Sudahilah diskusi global ini, jiwaku sendiri hilang, hatiku berhenti bicara, mulutnya ditambal luka-luka.

Setelah tahun-tahun berjalan mengusung sebuah hati, menjaganya dari kebocoran-kebocoran, merajutnya ke dalam mimpi-mimpi, aku terbangun pada siang harinya dan ditampar hatiku yang datang bersama kenyataan. Luka membekas di jiwa bertuliskan, “Aku ini hanya tipuan dari Tuhan, bodoh!”. Aku diam, hilang keyakinan, dan jalinan yang terbangun kubanting seketika. Aku muak, tetapi takut untuk marah pada Tuhan. Dia tetap agung dan tak terjamah salah. Seorang murid yang salah mengartikan bahasa-bahasa angin, jatuh karena kebodohannya.

“Kita semua belajar”, ucap suara-suara jamak.

Diam! Aku tak butuh ucapan pamer kekuatan-diri. Aku cuma bertanya, apa ada hati yang benar tulus mengelus?

Kita memang sendirian
benar-benar sendiri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

+ 4 = 5