A letter to someone…

Untuk kau nun-disana, yang kusayang dalam galau dan senang. perlu kautahu, dan perlu berulang kali kau tahu, bahwa kerinduan terhadapmu sudah menjadi makananku sehari-hari, bahkan terjadinya lebih sering dari kegiatan makanku yang kadang sehari sekali. Catatlah, dan catatlah lagi sebanyak perulangan yang mungkin kau lakukan, bahwa rasa sayangku padamu tidak sempit terpentok kepada baskom perak bernama nafsu -walau kuakui akupun membutuhkannya. Tentang rasa sayang ini pun terasa sedikit aneh. Ia terus tumbuh seperti tumbuhan menjalar, terus melilitku. Entah karena ‘ilham gaib’ yang kudapat dari kitab suci pada suatu subuh, waktu kuajukan kamu sebagai pilihan kepada-Nya -sepertinya kau jawabannya.

Ya, ya agak rancu memang, disatu sisi aku bicarakan nafsu padamu, disisi lain kuungkit tentang kitab suci. Ini memang masalah pelik sayangku. Entah apa ‘return value’ dari perhitungan fungsi yang rumit -dengan variabel saling bertentangan- ini. Pembelaanku, salahkan kemudaan kita, tanyakan zaman yang kita tempati. Ah, sudahlah, tak habis kita omongkan yang itu. Adanya sekarang adalah begini: Kau disana dan aku disini, cukup aman untuk sementara waktu.

Kepada Adinda yang hatinya kusayangi. Kuulang kembali apa yang sudah kautahu sejak kaum Nuh asik mancing diatas perahu raksasanya, bahwa kau telah menerima seorang lelaki bodoh, egois, labil, (sedikit) sukar dipercaya, dan sulit mengatur uang, adakah syarat seorang pendamping yang baik padaku? Entahlah, karena saat ini aku lebih pusing memikirkan logika fungsi search yang efektif dan aman dengan php, ketimbang memikirkan seperti apa tampang dan kelakuanku saat ini. Tapi kuyakini kau tak rugi sepenuhnya, bahwa kamu tak tidak rugi ‘bertemu’ aku, karena aku ingin mengatasi jarak yang selama ini kutakuti, aku ingin belajar menyayangimu dengan baik, menghancurkan apa yang terlalu tinggi dalam diri, aku ingin terus mengenal diri ini agar ia bisa memperlakukanmu lebih baik lagi, dan beberapa hal yang tak mungkin disebut disini hehehehe….

Tapi sayangku, nampaknya harus ada yang kau tambah pada catatanmu, cukup sebuah notes kecil di pojok bawah: Aku pun takut. Mengenai angin yang menghembusi kita, mengenai awal bertolaknya pelayaran kita, dan tentu, arah-pelayaran kita. Tapi juga, seperti yang telah dibicarakan, ketakutan bukanlah alasan yang kuat untuk tidak mencoba dan berjuang bukan? ๐Ÿ˜€

Catatlah, bila capai tanganmu, tuilskan sekali dan bacakan dalam infinit loop bahwa: “up time kerinduanku mampu bersaing dengan up time-nya google, rasa sayangku padamu memang (tidak boleh) melebihi sayangku pada Nabi, engkong, ayah dan ibuku, tapi diantara rasa sayang terhadap lawan-jenis, sayangku padamu menempati POSISI TERATAS. Dan bacakanlah dengan sayang dan syahdu, lelakimu punya ketakutan kecil di lubuk hatinya.

Lumatlah aku, lumatkan dalam pelukmu.

4 thoughts on “A letter to someone…”

  1. someone

    iya.. kita memang sedang mencoba dan berjuang sekarang.. tapi, bolehkan sesekali aku mengeluh..?? (hehehe gak sesekali ding..)
    aku cuma pengen kamu ngerasa aku ada disisimu (dan.. begitu juga sebaliknya :D)
    jangan khawatir.. udah kucatat kok semuanya.. ๐Ÿ™‚

    Reply ↓

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

48 + = 51