11 Oktober 2004

“Dan segala badaipun reda”

Kata-kata santun yang dituliskan seorang gadis pada puisinya, teralamatkan buat jiwaku. Aku mencelos, kesal pada diri tak terhindarkan, tapi tak pelak kata maaf kehilangan pengantarnya. Kejahatan yang terlupakan, harus hadir kembali tanpa sengaja. Aku meminta maaf padamu, tangan halus yang merombak badai hari-hari menjadi asap, kepada hati tulus yang pernah memberikan segalanya, kepada jiwa yang menulis kata-kata santun itu, yang telah kulukai kusia-sia.

3 thoughts on “11 Oktober 2004”

  1. adjeng

    gw inget sekaraaaang…… ini pasti berhubungan ma obrolan kita di ruang tamu kosan gw soal “timing” itu ya Bhan?? bener gak tebakannya?? heuheuheuehueuuuuu……. ^_^

    Reply ↓

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

5 + 4 =