Dalam dunia pemrograman komputer, ada satu teknik pengembangan aplikasi yang disebut dengan pair programming. Yaitu suatu paradigma pemrograman yang melibatkan 2 orang bekerja melakukan coding dengan hanya 1 komputer atau laptop. Yang satu mengetikkan baris kode ke dalam komputer, dan satunya lagi mengawasi, mengoreksi, mengarahkan. Yang mengetikkan kode disebut driver, sedangkan rekannya yang mengawasi disebut observer (atau navigator). Dan peran ini bisa berubah sewaktu-waktu, bila kondisi membutuhkannya. (coba baca Avesena: Pair Programming )
Saya sedang ingin mengembangkan kemampuan menulis saya, dan saya ingin mencoba untuk masuk ke dunia yang sedari dulu saya hindari (dan takuti), yaitu penulisan cerita. Karena itu, saya ingin belajar kepada teman yang pernah menghasilkan karya nyata berbentuk buku. Saya pun berkarya melalui blog ini, tapi saya tetap menganggap orang yang sudah menerbitkan karyanya dalam bentuk buku beberapa derajat lebih tinggi dari saya. Hal itu karena saya tahu prosesnya lebih berat dan panjang ketimbang memasang karya di internet.
Maka saya datang menghampiri dia, dengan sebelumnya menyodorkan beberapa puisi baru saya untuk dibantai. Seperti dugaan saya, pandangan dia terhadap puisi saya berbeda dengan pandangan orang lainnya. Saya mendapatkan kritik yang saya butuhkan setelah sekian waktu berkarya didepan tembok bisu. Terjadi obrolan-obrolan via IM yang singkat namun menarik.
Dia berkata ada puisi yang berpotensi untuk dijadikan cerita, dan sebuah pertanyaan mengapa saya tidak menulis cerpen, melihat dari kecenderungan unsur naratif saya yang lebih dominan pada tulisan saya belakangan ini. Pucuk dicinta, ulam pun tiba, itu memang respon yang saya cari. Saya memang tidak terpikir untuk mulai menulis cerpen, tapi kebetulan sebelum obrolan di IM tersebut, saya menemukan cerpen-cerpen saya yang hilang dalam catatan lama istri saya.
Saat itu saya tertarik dengan pikirannya, dan memasrahkan puisi saya untuk diterjemahkan oleh nya ke dalam sebuah kerangka cerita, atau sebuah ide cerita, yang dari situ bisa dikembangkan ke dalam sebuah cerita utuh. Tapi karena salah penyampaian, saat itu dia menolaknya :P.
Dan puncaknya ketika seminggu yang lalu saya chatting dengan dia lebih jauh dan lebih lama lagi (sampai mengganggu jadwal tidur si tante as a mother :p). Pembicaraan-pemikiran, referensi-referensi bersentuhan, resensi-resensi bertukaran, ilham-ilham bermunculan. Bahkan ketika dia sedang berbicara perihal A, saya terilham tentang soalan F, dan begitu seterusnya. Perbedaan pendapat rupanya memancing pikiran dan ingatan saya akan hal lain, baik yang berhubungan dengan topik yang dibicarakan ataupun tidak. Saya lihat kreatifitas bisa tumbuh subur disitu. Bahkan dari chatting malam itu saya dapat menuliskan 4 topik artikel untuk dituliskan dalam blog ini, yang 3 diantaranya langsung selesai segera setelah obrolan di IM berakhir.
Maka saya pun mengutarakan niat kenapa saya mulai diskusi lagi dengan dia. Saya bilang butuh sparring partner untuk berkarya membuat cerita. Menjadi ajang latihan baru dan menabrak dinding yang lazim menghalangi jalan para penulis. Utamanya bagi saya adalah untuk switch dari penulisan puisi, kemudian kepada prosa, dan ingin bisa bercerita. Ini berpotensi untuk menjadi momen penyegaran buat kedua pihak. Saya yang belajar hal baru, dan dia melangkah ke tingkat berikutnya berbekal pengalaman sebelumnya, dengan pendekatan yang baru: Pair Writing.
Reaksi pertamanya bernada pesimistis, sebab katanya pernah ada yang mengajaknya menulis cerita bareng, dan berakhir dengan kegagalan, karena keduanya menghilang dan akhirnya kehilangan momen, pun cerita yang dihasilkan menjadi hambar. Yang saya tanyakan adalah, bagaimana model ‘kerjasama’ yang mereka lakukan. Dan dia bilang, mereka menulis satu cerita yang sama, secara bersama-sama. Saya lega, sebab yang ingin saya ajukan sama sekali berbeda dari hal tersebut.
Hal ini terpikir oleh saya didorong untuk memanfaatkan ‘potensi rasa malas’ dalam diri saya dan diri sang sparring partner. Saya bisa menuliskan cerita, membuatkan alur, menciptakan tokoh, membumbui dialog, tapi malas untuk memikirkan kerangka cerita, dan hal-hal yang bau garis besar cerita.
Saya punya pengalaman itu, ketika menjadi penulis skenario sinetron untuk MqTV. Saya bisa menghasilkan 30 episode skenario berdurasi 40 menit (1 jam berikut iklan), dalam waktu kurang lebih 3-4 hari (siang-malam udah kebalik-balik dah 😛 ). Dengan catatan, garis besar cerita atau sequence-nya sudah ada. Jadi dalam hal cerpen atau cerita, saya lebih cenderung jadi ‘penulis’, ketimbang author, atau pengarang. Sedangkan teman saya ini sudah berpengalaman menerbitkan sebuah kumpulan cerpen, yang saya nilai, dia telah mampu memaksa dirinya membuat sekian belas kerangka cerita, berikut menuliskannya, and that’s something I don’t have.
Pembagian peran dalam pair writing ini lebih kepada, seseorang membuat kerangka cerita, dan yang lain mengembangkan. Dan dari satu sumber itu, kita bisa mengembangkan cerita yang berbeda. Saling mereview, dan mengamati perkembangan satu dan yang lainnya. Masing-masing punya porsi dan wilayah sendiri. Yang pada akhirnya, ini pun berarti dia punya wilayah untuk mengeksplorasi satu sumber yang sama, yang disepakati (misalkan mengangkat cerita dari satu puisi), untuk dia jadikan tulisan yang berbeda, menurut versinya sendiri.
Dan percikan dari pertemuan pengembangan cerita yang berbeda itu saya yakin mampu menggoda imajinasi kreatif untuk mengalir keluar, menunjukkan orisinalitas masing-masing. Karena kecenderungan dasar manusia adalah survival, bertahan hidup, bukan hanya atas unsur fisik, bahkan juga terhadap unsur idea dan kreatif. Ketika dua kepala dipertemukan, ‘benturan-benturan’ kreatifitas akan membangkitkan unsur pertahanan kreatifitas personal yang unik.
Dan jawaban, beserta pernyataan fahamnya teman saya adalah sebagai berikut:
Jadi temanku yang cerdas, mau dikemanakan pikiran yang liar itu? Mau dikemanakan empirik dalam menulis itu? Kenapa menghianati tangan yang mengetik dengan cepat? So, let’s pair it, let’s hit The Wall 😀 .
***Untung lo nggak menjawabnya dengan kalimat yang bertaburan kata ‘tapi’ Lu :p
Yaaa, that’s indeed a good idea. Elu semangat nulis gue juga jadi semangat. Mudah2an partnership-nya masih jalan kayanya udah lama jg ga tukeran ide lagi .
Tengkyu ye!
Gue ngga pernah diajakin kaya ginian, gua kan juga pernah nulis buku Ba
****ngambek mode ON 😀
Gw seperti biasa… ga peduli.. tulisan gw mau lu tulis jadi buku ato apapun.. hahaha
Yang penting gw mah nulis ajah.. biar kepala gw ga meledak.. (*maklum pengen disejajarkan dengan Murtadha Mutahhari tapi versi barang lokalnya, KW-2, hahahaha)
@nazla, ya, sejak senin kemarin, ‘pair writing’ kita dah resmi dimulai. Gw dah ngirim resensi sampah gue kan? hehehehe tinggal nunggu sampah lo aja lu ;))
@aves, eh, gue editor buku lo ye, kontributor TERBESAR, ingat itu 😛
@jafar, ya masih mending KW, daripada gak ada 😛
@aves & @jafar : gue mau ngajak kalian triplet writing dengan pembahasan soal Faroidh. Sayang kalau ‘rapat’ kemaren malem ilang begitu aja 😀 😀 😀
oooh gitu… 😀 berarti review gw sedikit keliru kemaren. gini kalo ga baca bener.
Pingback: Kucing: Si Pemalas dan Manja | Kumpulan Blog Teman-teman nyenius
Pingback: Kucing: Si Pemalas dan Manja — Kumpulan Blog Teman-teman nyenius