First of all, buat para nasabah asuransi (terutama teman-teman saya yang baik), do not get offended of what I’m gonna write, this is just my humble personal opinion. Secara pribadi, saya tidak suka asuransi. Laporan, keluhan tentang beberapa kegagalan klaim asuransi terdengar terlalu menyakitkan bagi telinga saya. Betapa mereka telah menghabiskan tahunan untuk ‘menabung’ asuransi mereka, tapi pada saat yang seharusnya mereka gagal mengklaim hak mereka tersebut. Mungkin kalau menurut buku Black Swan, ketidaksukaan saya ini disebabkan oleh ‘konfirmasi yang salah’. Yaitu satu berita buruk mengenai suatu hal, mengalahkan statistik terindah yang penuh hal positif akan hal tersebut.Tapi tetap saya memang tidak suka konsep asuransi dari sejak awalnya.
Asuransi bertugas memberi assurance atau insurrance kepastian dan jaminan kepada nasabahnya. Padahal dibalik itu besar sekali ketidakpastian dalam pengelolaan dana asuransi itu sendiri. Pengelolaan yang menurut Nassem Nicholas Thaleb berada di wilayah ekstrimistan, wilayah yang sekalinya untung bisa banyak sekali, dan sekalinya merugi bisa jatuh hingga kandas. Selain itu, yang dijaminkan pun sesuatu yang ajaib, masa depan.
Percaya atau tidak, di tengah kehidupan kota yang seperti ini, ketika mata dan pikiran dipenuhi hiruk-pikuk soalan fisik dan material, posisi Tuhan dalam hidup manusia akan sangat mudah tergeser oleh apapun, terutama oleh janji rasa aman di masa depan. Dan manusia jadi merasa aman karena memiliki asuransi (misalnya kesehatan, jiwa, kendaraan dll).
Saya juga tidak suka dengan konsep penjualannya (sebagaimana konsep penjualan produk kecantikan dan sebagian besar produk-produk sekarang ini), mereka menjual rasa takut dan tidak aman, lantas berusaha memastikan merekalah yang dapat memberi kepastian itu. Mereka berusaha meyakinkan merekalah penyelamat dalam masa-masa kritis di masa yang akan datang. Mereka berusaha memastikan situasi di depan (yang sangat tidak pasti) dengan ‘tawaran kepastian’ berikut segala detil syarat dan ketentuan yang berlaku. Mereka menjual rasa aman, yang dalam beberapa hal menggeser posisi Tuhan.
Ketika seseorang sudah bergantung dan merasa yakin dan aman akan kepastian suatu momen (sekolah anak 5 tahun ke depan misalkan) kepada asuransi, di situ terjadi serangan terhadap akidah dan kesehatan hati. Tanpa disadari dia telah membeli rasa aman semu dari sebuah sindikasi ‘jual-beli rasa takut’, yang dalam terjemahan bebas saya ke dalam bahasa arab adalah ‘jual-beli iman, kepercayaan’. Yang besar kemungkinan membuat seseorang (bahkan sebuah keluarga) lupa tentang siapa Penjamin Keamanan Sejati.
Ketakutan mengenai masa depan, ketidakpastian, merupakan lahan bisnis yang basah. Karena sudah sifatnya masa depan itu samar atau tidak terlihat sama sekali. Dan sudah naluriah manusia untuk terus berspekulasi mengenai yang tak pasti. Jadi ketika bayangan masa depan dibelokkan sedikit saja dengan satu bayangan buruk, manusia lantas menjadi khawatir, bahkan cenderung menambahkan sendiri dugaan-dugaan buruk tersebut sesuai dengan kondisinya masing-masing.
Dan di saat itu masuk sebuah produk yang mengatakan “worry no more, count on us, we shall guarantee the unpredictable events in the future“. Jatuh cintalah kita, inilah yang kita tunggu, sebuah penjamin yang nyata, yang kita bisa berdialog langsung dengan customer care-nya. Yang kita dilayani (dipresentasikan tepatnya) segala seluk beluk jaminan tersebut. Yang mereka dapat menjawab pasti: Bagaimana kalau 5 tahun nanti, ketika si kecil butuh masuk sekolah, suami kita meninggal? Bagaimana kalau nanti tiba-tiba kita sakit parah butuh opname, duit darimana mendadak gitu? Bagaimana kalau ini terjadi? Bagaimana kalau itu terjadi? Bagaimana kalau semuanya terjadi dan kita tidak siap? Jawabannya: asuransi.
===
Dulu, saya termasuk orang yang membela konsep ‘jimat itu halal’. Karena, meskipun itu barang sudah dibawa kemana-mana, dibela-belain menjaga pantangan demi menjaga keampuhannya. Bahkan seolah larangan mo-limo itu adalah larangan yang bersumber dari ke-jimat-an, bukan dari agama. Sang pengguna tetap berkata ‘pada akhirnya kita tetap memohon pertolongan Tuhan melalui perantara jimat ini’. Ya, setelah semua usaha tirakat pra mendapat jimat, hingga semua ‘laku soleh’ pasca jimat dibawa-bawa, yang notabene dilakukan demi si jimat, sang pengguna tetap berkata; itu tidak musyrik. Sebelum mendapat dan sesudah mendapatkannya, sang pengguna sudah berharap dan menggantungkan harapan agar jimat itu memberikan tuah yang dititipkan Tuhan melalui barang tersebut.
Dan berjalanlah jawara itu dengan tenang ke sebuah acara ngibing*** di kampung sebelah, di pinggangnya tersemat golok dibalut kain kuning, kalung berisi rajah yang membuatnya kebal dibacok. Itu semua kalau-kalau nanti disana terjadi keributan antara dia dengan jawara lain. Dengan kalung tersebut, dia berharap beberapa jam ke depan kalau terjadi duel, lehernya tetap aman ditempatnya. Dan hakikat pun terbalik-balik, dia menggantungkan keselamatan lehernya pada kalung yang tergantung dilehernya.
***Acara nanggap jaipong, yang mana biasanya para pendekar silat dari berbagai kampung datang untuk unjuk kebolehan ngibing, atau menari dalam gaya pencak. Biasanya kalau suasana berubah memanas, tidak jarang terjadi duel atau perkelahian antar pendekar. (**sumber dari uwak di Banten)


Asuransi adalah sistem ijon hidup anda 🙂
owh, gitu alesannye. kirain kenape
@jafar, ya simpelnya demikian, marvelous!
@nyurian, jadi sikap musyrik biasa aja re? padahal itu SATU-SATUnya dosa yang gak diampuni tuhan.
Pingback: Rizky Avesena » Blog Archive » Mencari Rasa Aman?
Sebagai bacaan suplemen dan pembanding, silahkan baca tulisan berikut ini : http://rizky.avesena.net/2010/10/22/mencari-rasa-aman/ 🙂