Malam ini tanggal 24 Mei 2008, hari pertama BBM dinaikkan harganya, gue nganterin bokap gue ke dokter. Dari rumah di daerah Ciputat ke Pamulang. Gue berdua naek angkot. Begitu sampai di Pamulang, ada orang lain yang turun di tempat yang sama. Perempuan itu turun duluan, dia membayar supir dengan uang 2000 rupiah, tarif angkot Ciputat-Pamulang seperti biasanya. Tapi tiba-tiba supir angkot menegur dengan nada marah; “Kurang seribu bu!” Sambil tangannya menunjuk-nunjuk kertas fotokopian tarif yang ditempel di kaca depan. Dengan muka cemberut perempuan itu menambahkan uang yang diminta. Setelah itu giliran gue dan bokap bayar, kita kasih lima ribu, tetep dengan nada kesal sopir itu bilang “Enam ribu pak!”.
Pulang dari dokter, naek angkot lagi. Tak lama angkot berjalan, ada penumpang yang mau turun, membayar ongkos, dan lagi-lagi seperti supir yang tadi, supir angkot itu marah-marah dan mengatakan uangnya kurang. Setelah penumpang itu turun, mobil melaju lagi. Sambil supir angkotnya misuh-misuh sendiri sama penumpang yang ada disampingnya, mengatakan bahwa tadi ada penumpang yang bayarnya kurang dan ia tidak terima uangnya karena kesal (entah kenapa, mungkin si penumpang menolak bayar lebih). Rupanya dikursi belakang ada teman penumpang yang diomongin supir, dengan ketus dia bilang “Nanti dibayar sama saya Bang!”, “oh, iya” jawab si supir dingin. Baru tuh supir diem gak ngomong apa-apa lagi.
Begitu para penumpang turun di ciputat, kami membayar ongkos (orang lain duluan), tetep saja sesekali si supir ngomel minta tambah ongkos. Hanya bedanya kenaikan ongkos oleh supir ini Cuma 500 perak, sedangkan yang tadi naeknya 1000. Huahh, kesel juga sih liatnya, kan bisa dia minta ongkos tambah tanpa perlu marah-marah. Tapi mungkin awalnya mereka sopan kali ya, tapi mungkin orang pada nolak, jadi pas udah malem gini dia langsung marah biar gak didebat.
Besokan harinya gitu juga gue denger dari kakak gue yang ke toko naek angkot, supir-supir itu minta tambah ongkos sambil marah-marah. Yang gue liat, mereka kesel, jengkel, tapi akhirnya pelampiasannya ke penumpang, mahluk yang paling deket dan paling beralasan untuk dimarahi. Padahal pemerintah sendiri belum menentukan berapa kenaikan tarif angkutan umum, tapi mereka udah ‘berlomba-lomba’ menaikkan tarif.
Ya yang ribut sesama rakyat jadinya.
Siangnya gue ngobrol sama mpok pemilik warung mie disamping toko, dia lagi bingung nyari gas. Karena didaerah sekitar persediaan gas kosong. Daerah Pamulang dan Ciputat stok gas kosong semua. Dari ibu itu juga, dia dapet info dari tv bahwa harga gas 13 kg sudah melambung jadi Rp 90.000,-


Siang itu juga, gue ngelayanin orang yang mau beli lemari, gue ngeyakinin dia bahwa harga yang diberikan itu adalah masih harga lama, kita belum naikin harga. Dia menjawab dengan sok tau, “ah apa hubungannya BBM sama ginian (furniture).” Gue Cuma tersenyum dan menjelaskan perlahan-lahan hubungan erat harga BBM dengan proses distribusi barang-barang. Dalam hati Cuma berpikir, andai tuh orang tau bagaimana dampak kenaikan BBM terhadap harga bahan baku, transportasi barang, terutama terhadap bahan-bahan yang terbuat dari kimia seperti Thinner, spirtus, dan lain sebagainya. Beberapa bulan sebelum BBM naik aja, harga spirtus dan thinner sudah naik lumayan tajam.
Yah, yang ribut sesama rakyat juga jadinya.
Sore hari, gue buka sumber-sumber berita di internet, portal berita ataupun milis. Nyari berita tentang apa aja yang terjadi (terutama di ibukota) setelah pengumuman kenaikan BBM.
Kampus UNAS diserbu aparat kepolisian, lebih dari 100 mahasiswa ditangkap, beberapa bangunan dan kendaraan rusak. Dengan alasan mereka berdemo dengan anarkis dan melakukan aksi demo di malam hari. Ada juga puluhan orang dari ormas yang melakukan demo di depan istana negara yang akhirnya diinapkan semalam di kantor polisi, padahal mereka hanya berorasi, tidak anarkis. Alasannya karena aksi dilakukan pada hari menjelang malam juga.
Di Kompas juga (beberapa hari sebelum kenaikan BBM) beberapa pejabat desa dan kelurahan menolak BLT. Ada yang karena katanya tidak mendidik, ada juga yang beralasan keamanan. Memang kasihan, sampai ada rumah kepala Desa yang hampir dibakar, gara-gara urusan BLT. Mereka berada di posisi yang terjepit, disatu sisi masyarakat miskin menuntut agar dirinya dimasukkan ke dalam daftar penerima BLT, disisi lain pemerintah ngotot menggunakan data kemiskinan tahun 2005.
Kan yang ribut sesama rakyat juga akhirnya.
Walau begitu, gue juga berusaha berpikir berimbang, tidak begitu saja menyalahkan pemerintah. Dari semua alasan yang diutarakan pemerintah, intinya mereka ingin menyelamatkan perekonomian negara, menyelamatkan APBN 2008 dari defisit yang berlebih. Gak kebayang juga kayak apa jadinya kalau negara Indonesia Raya ini bangkrut.
Beberapa hal yang gue gak ngerti. Mengapa prosentase lifting minyak Indonesia terus menurun, bukannya meningkat atau minimal stagnan? Mengapa salah seorang menteri dalam iklan propaganda mengatakan bahwa “rakyat kita sudah memiliki ‘bantalan’ yang cukup, sehingga kita bisa meningkat ke kebijakan yang lebih sulit”? Dan sebagainya, dan sebagainya….
Gue tegang, membayangkan seberapa besar harga bahan baku furniture bakalan naik? Dengan harga yang sekarang aja (normal) orang udah pada protes?
Berikut file yang berisi penjelasan pemerintah mengenai kenaikan BBM : http://www.depkeu.go.id/Ind/News/NewsControl.asp?cdcate=Penjelasan_BBM_230508.doc



Gua juga tegang, Setiap Isi bengsin… Sama mikirin biaya rumah sakit buat lahiran Bini gua nanti…