Sepi, hari berlarian cepat. Dengan tandas minggu berjumpa minggu dan aku berusaha menggaruk habis kebodohanku, di kamar ini. Mencoba istirahat dari entah apa, tersenyum berdasarkan ketidakpedulian.
Kulihat, takdir itu percabangan. kondisi-masa-depan yang pasti dan sudah terdefinisi. Dihamparkan dalam ranting-ranting kemungkinan – yang semuanya sudah pasti -. Dan kita yang menentukan susunannya. Itulah mahkota kita, kemampuan untuk memilih. Menurut atau membangkang, berjuang atau menyerah, terus mencari atau menunggu, bergerak atau digerakkan.
ketika seorang penyair sedang mengupas kata-kata, tak lain, jiwanya lah yang dia kupas. ketika seorang pematung mengukir batu-batu, tak lain jiwanyalah yang dia gurat. Ketika seorang pekerja tengah menyelesaikan pekerjaannya, tak lain, dia sedang menyelesaikan keutuhan dirinya.
Angin yang tanggung seperti tak putus menerpa. Dan pertanyaan usang segera menyergap: “Kapan usai?” Ah, kenapa selalu terburu-buru? hendak kemana kaki itu berlari? sedangkan hidup disusun pada saat ini.
Aku bertanya, apakah kenyataan harus menunggu? Apakah saat ini belum kutemui dia? Akankah dia hanya berlaku pada atau setelah suatu waktu dan suatu kondisi? Ataukah dia telah terdefinisi dengan jelas jauh sebelum kelahiran kita? Dan sedari kita belum ada, lahir, hingga mati, dan lenyap musnah, dia telah berjalan-jalan memenuhi semesta?
Sepertinya tak bisa kita berkata : “Kau belum menghadapi kenyataan yang sesungguuhnya.” Semua orang punya kenyataan masing-masing, tidak terdefinisi dalam satu keyakinan tunggal, baik pribadi maupun jamak. Dan kenyataan selalu sungguh-sungguh. Masa lalu adalah kenyataan yang lewat, saat ini adalah kenyataan yang nyata, masa depan adalah angan-angan.
Dalam beberapa hal, aku akan belajar untuk tidak peduli. Kulemparkan jiwaku ke pantai, bersama Bob Marley. Dan akan terus kucoba menuruti Muhammad kekasih Tuhan.