18 Juni 2004

The First Infiltration

( Ini bukan cerpen )

“Sebelum menguasai suatu daratan, kita harus menguasai pantainya terlebih dahulu prajurit! Disana telah berbaris ratusan ranjau dan ribuan personel musuh dengan senjata terisi penuh. Mereka adalah batu, mereka adalah kerikil yang menghalangi kita mencapai tengah daratan. Hancurkan mereka, tumbangkan.”

Teriakan-teriakan perjuangan terus menggaung, kadang mengalir dalam laku, kadang hadir lewat lamunan waktu menatap seorang pedagang asongan. Inilah frontier perjuangan, garis terdepan yang harus siap mati. Infiltrasi pertama memang begitu menyakitkan, beratus prajurit-sel-otak mati begitu mendarat, tapi yang baru segera hadir menggantikan mereka. Komandan utama tak boleh berpikir dua kali (atau makin banyak yang mati), yang boleh hanyalah; pertimbangkan dan putuskan! Ayo terus, … komandan sudah lelah… ayoo terus.. komandan tertembak bahu kirinya.. ayo terus! .. komandan mulai menangis… anak buahnya mati satu persatu begitu turun dari kapal, mereka mati bersama beribu kenangan dan jasa yang tak bertepi…

“Ayo komandan, menangislah, tapi tetap acungkan jarimu, keluarkan perintah-perintah, atau makin banyak diantara kami yang mati”

… komandan matanya mulai kabur tertutup air mata, tenggorokannya tercekat isak tertahan… komandan….

“Begitu menyesakkan…”

Satu kata terucap, dan jutaan cahaya doa memancar dari hatinya. Ia doakan mereka akan segalanya, akan hidupnya, akan karierna, akan matinya, juga diucapkan terima kasih pada nyawa-nyawa kenangan yang pergi bersama roh mereka.

Pecahan granat nyrempet dipipinya. Ia sadar, tangis yang akut segera diusap dengan lengan baju, biar tercampur debu, biar makin perih matanya, tapi infiltrasi ini harus berhasil, pantai ini harus terkuasai agar daratan tercapai. Terkadang kedamaian harus dibayar dengan perang, kehidupan yang sehat harus ditebus dengan kematian.

Infiltrasi berjalan lambat, seolah tak akan henti, desing peluru dan ledakan-ledakan terdengar makin jauh dan asing, sepi dan sesak datang beruntun menghimpitnya, tapi kepalanya tak sempat memikirkan itu semua, ia adalah komandan! Ia sudah tak mampu berpikir apapun lagi, kecuali maju, maju, maju. Tak ada ruang buat cinta yang asing di dadanya, tak ada gerak bagi pertimbangan gundah dikepalanya. Ia harus maju, walau sebenarnya pikirannya sudah kosong seperti abu. Bidikannya selalu meleset tak seperti biasa.

“Infiltrasi pertama. Infiltrasi?? Apa yang sedang aku lakukan?”

Mortir jatuh lima meter disampingnya, dan ia terus maju.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

81 − 75 =