17 Juni 2004

BOOM!

(bagi sempet silakan baca, kata-kata puitis pada sesi ini ditinggalkan dulu)

Suatu hari, dipertengahan tahun 2003, terjadi suatu ‘Pengakuan Dosa’ dan perdebatan sengit di rumah Keluarga H. Sukarta. Itu adalah antara sang anak (Subhan Toba) dengan bapaknya. Disebut pengakuan dosa, karena sang anak mengakui keadaan studinya yang agak labil di tanah priangan, dan perdebatan antara, dia harus pulang ke kampung halamannya atau tidak.

Bapak : Kenapa kamu nggak mau pulang?
Toba : Saya ngerti yang bapak mau, intinya nerusin usaha keluarga kan? Iya saya ngerti, tapi saya belum mau.
Bapak : Kenapa?
Toba : Saya masih muda, pengen ngelanglang kesana kemari, dan yang paling inti adalah masih ada sesuatu yang saya cari,… dan .. saya belum nemuin hal itu.
Bapak : (sedikit tertawa) Apa yang kamu cari?
Toba : …… Saya nggak tahu pasti hal itu apa, tapi saya tahu pasti hal itu belum saya temukan dan bener-bener saya cari.

Tanpa banyak kata, seorang ayah itu menghisap rokoknya dalam-dalam dan segera mangkat ke kamarnya. ‘Adegan’ parahyangan terus berlanjut.

Hari ini (pertengahan tahun 2004) terjadi lagi dialog serupa, masalah, haruskah saya menetap di priangan atau pulang ke rumah (beserta segala konsekuensinya). Sekarang beliau bicara dalam nada yang lebih tinggi, dan pernyataan yang lebih memaksakan.

Bapak : Bapak nggak mau tahu, kalau kamu terus disana, bapak nggak sanggup nolongin lagi.

Pada intinya, si anak harus pulang. Gue, sebagai anak itu, sebelum beliau berkata keras begitu, sudah memutuskan dalam hati “Apa yang terjadi, terjadilah”, “Come what may”, jadi pemaksaan beliau itu menjadi bukan pemaksaan lagi buat gue. Pembicaraan terus mengalir, diawali dengan nada yang sama tinggi antara gue dan babeh (padahal pernyataan gue pun nyetujuin beliau, tapi aneh nadanya tetep aja keras, emang satu darah kite ini hehehe), sampe akhirnya cair karena gue gak tahan tawa (???).

Gue ketawa bukannya sinting (disaat serius kok ketawa???), tapi karena kesadaran yang datang tiba-tiba, gue harus pulang, dan gue akan pulang. Makin jauh beliau terus ngomong soal konsep hijrahnya Muhammad, dari madinah yang awalnya bernama yastrib, hingga ketika nabi hijrah menjadi Madinah. Tiba-tiba gue teringet lagi, waktu SMA di Bandung gue punya kontrakan bernama Yastrib, dan entah kenapa, gue berpikir, sekaranglah saatnya gue rubah nama yastrib itu jadi Madinah (lagi-lagi tawa gue makin lebar, nyokap agak heran disini).
Kalimat-kalimat terus mengalir dari segala sisi, Bapak, ibu, adek, kakak, semuanya gak pernah menganggap gue kalah, nggak nganggap gue residivis kambuhan, tetap seorang anak, adik, kakak. Di satu titik puncak kericuhan kalimat-kalimat tersebut, semuanya tampak jadi putih dan ada satu rantai ilham yang kebuka di jidat gue; ini dia, mungkin ini yang selama ini gue cari, sebuah rumah, sebuah keluarga yang bener-bener terasa. Sejak SMP sampai detik ini, gue gak pernah tinggal lama di rumah (total 8 tahun sebagai outsider).
Akhirnya babeh pun curhat, dia pengen bener-bener ngerasain punya anak laki-laki di rumah. Duh gusti, mungkin bener, bukan pembuktian akan idealisme, atau pembuktian tentang keberhasilan atau kegagalan sebuah prinsip, atau tentang kekuatan seorang anak laki-laki menentang arus kebudayaan keluarganya yang gue cari dan pertanyakan selama ini. Rumah, cuma rumah, yang nerima kita apa adanya, yang nganggep kita berguna dan juga diharapkan. Bagaimanapun, gue senang, nyokap senang, bokap senang, tapi kepala gue kelewat ‘spaneng’ karena dari pagi sampe detik ini terlalu banyak informasi dan ‘tanda-tanda alam’ yang harus masuk ke kepala.
Waktu main-main udah cukup, jenggot makin panjang, gigi mulai pada copot satu-satu, rokok mulai nggak bisa se-lokomotip dulu (kecuali samsu). Time to go and do something worthy. A new journey, a new adventure (seperti semangat MAT), a new life, new identity, Subhan Toba son of H. Sukarta will go HOME.
(Buat yang capek bacanya dan nganggep terlalu dramatisir, saya minta maap. Tapi kalo seandainya ente ada di dalem kepala gue saat ini, kata-kata ini nggak seberapa. Gue cuma anak bodoh yang sering telat nyadarnya.)
Note: Untuk segala urusan hutang-piutang finansial, akan diselesaikan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.

One thought on “17 Juni 2004”

  1. lio

    ba..heuhue..akhirnya lo balik juga ke ciputat..lumayan kan ciputat bisa aman dari ganguan kolor ijo..btw..nanti gw balik..amen ke rumah lo pokoknya..masakin nasi goreng ya heuheuhueh

    Reply ↓

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

27 + = 37