Log 2005: Terminal suara-suara

Kehangatan hembusan angin, nyamannya tempat berlindung, janganlah melupakan keharusan. Pekatnya suasana dan kebingungan, dipadu-tambal jadinya tawa! Bawa serta segelas kopi dan sebatang kretek pengusir flu, kita nongkrong disini, bicarakan yang-perlu-dan-tak-perlu. Sebab bicara adalah tuntutan jiwa, maka bicaralah. Disini saya sambut jiwamu dengan senyum dan warna-warna, bicaralah. Saya buatkan terminal kecil berwarna oranye, tak lupa beberapa tiang buat tempatmu menggantungkan mantel -walau itu bukan budaya kita-, agar kita bisa terus bicara, peduli nyambung-atau-tidak, bicaralah, jiwamu yang senyum dan merengut, saya akan tetap senang mendengarnya. Disini, terminal kecil berwarna oranye ini, adalah persembahan kecil dari jiwa -dan untuk jiwa- yang terus bertanya-tanya, yang penasaran akan rahasia atom, isi bumi, hingga urusan kadar gula dalam kopi tetangga.

Selamat datang. Sebutlah terminal kecil berwarna oranye ini, milik kita.

Note: Bila ada sudut yang mengganggu, katakan saja ๐Ÿ™‚

2 thoughts on “Log 2005: Terminal suara-suara”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

+ 16 = 23