Jadi persoalannya adalah ke-siap-an. Seperti peraturan panggung, sekali kita melangkah melewati tirai, memasuki petak terpinggir area panggung sekalipun, kita dituntut siap, tak boleh lagi a-e-o menyiapkan diri, munculnya seorang aktor di panggung, harus selalu bersama dengan sebuah kesiapan. Sebab panggung adalah tempat beraksi, bukan bersiap lagi.
Tuhan tak pernah mencampuri urusan kita dengan begitu semena-mena. Bila dalam suatu perjalanan kita menemukan tali yang terikat kusut, menyerimpet kaki, tangan kita juga yang membuhulkan kekusutan-kekusutan itu dengan sistem kridit di waktu yang lalu. Bukan karma, benci saya menyebutnya demikian. Cuma tali yang pernah kita ikat sembarang -entah sadar-atau-tidak, entah demi keselamatan sementara kita kala itu-, lantas ikatan asal itu terus terseret-seret sendal kita, dan kita, dengan sadar atau melupakannya, terus membawanya. Terperosok, kita rubuh, muka nyusruk di antara benang ruwet itu. Memaki dengan kesal: “Goblok! Kenapa Tuhan kasih cobaan ini??!!”.
Seperti gempa, cobaan itu mungkin sesuatu yang bisa diprediksi awal kedatangannya, entah dari aroma, suara, dan segala ciri geografis dan mistis lainnya. Karena tangan kita juga yang memahatnya.
Tuhan tak pernah menjorokkan hamba dengan semena-mena (walau jelas, Dia Maha Usil), justru Ia begitu baiknya, setelah kita tersungkur Dia berkata arif: “Datanglah kepada-Ku, kembalikan keruwetan (yang kita bikin) kepada-Ku, Penciptanya dan kau.” Kita kembalikan, dengan tulus. Dan setelahnya, kita berkhianat ke dalam gelap.
“Tiadakah kaulihat, bahwa kapal-kapal berlayar di lautan dengan karunia Allah, agar Ia dapat memperlihatkan kepadamu tanda-tanda-Nya? Sungguh, dalam yang demikian itu ada tanda-tanda bagi setiap orang yang selalu sabar dan banyak bersyukur. Bila ombak melingkupi mereka seperti atap, mereka menyeru Allah, ikhlas ta’at kepadaNya dalam agama. Tapi setelah Ia selamatkan mereka ke daratan, hanya sebahagian diantara mereka yang memilih jalan yang benar. Namun tiada yang mengingkari ayat-ayat Kami kecuali mereka yang berkhianat dan tidak tahu berterima kasih.” (Qur’an. 31 : 31, 32)