Ketika raga ini bergerak
Menusuri tapak demi setapak nyawa
Memberikan arti nikmat meracik cinta
Hamparan sengatan sel-sel darah memacu cepat terengah
menuju tulang tak berdaging bersama mengerasnya puting susu
aku tak lebih atau bahkan sekurang dari hewan
ketidaktakutan mereka untuk membunuh dan bersimbah darah
kepada jiwa ini aku bermain,
berlari dan bermain di atas mata pisau
layaknya Endymon,
bujang yang jatuh cinta kepada peri
yang hanya mengunjungi dan bercinta dalam mimpi*.
keinginan hati me-mustuskan,ketidakbutuhan perasaan
karna tidak akan guna ketika masuk menusuri kelambu kesedihan.
surga akan sempit tanpa neraka
gelembung pun berbuih
memenuhi semua lapisan organ tubuh ku
busa putih keluar dari pori-pori
menusuri kulit-kulit yang tak berdaging
aku lah jiwa ini.
—
Agam