Baru saja aku bicara dengan seorang wanita. Dia ingin meninggalkan cinta dan luka. karena semuanya mengerat lehernya dan meninggalkan perih yang dalam.
“Aku tak ingin mencinta penuh-dalam, tapi hati ini melawanku, ia jelas mencinta dan mendamba, lalu setelahnya aku terjebak diruangan luka”
“Itu haknya sayang”
“Ia menangis, cengeng”
“Itu hak kalian berdua sayang”
“Aku tak ingin luka, tak juga ingin menjadi cengeng. Aku harus kuat”
“Kekuatan tidaklah dipaksakan, tapi ia tumbuh, luka adalah pupuknya, bahagia adalah angin yang meniupinya.”
“…….”
Ia diam, tercekat. Karat dihatinya tak jadi keluar semua.