Tag Archives: thoughts

When we fail our mother

Hari ini gue terlibat pembicaraan yang cukup menarik di kampus, sama temen gue Tince dan satu kenalan baru bernama Lusy. Obrolan itu terjadi setelah kami mengikuti seminar tentang Kebudayaan, Desain dan bla bla bla. Banyak yang kita obrolin, salah satu yang pengen gue ceritain adalah obrola kami tentang pilihan.

Omongan itu disulut oleh pernyataan Tince mengenai kemampuan multi-tasking seseorang. Bagaimana seseorang seharusnya dapat melakukan dua hal berbeda secara proporsional. Contoh kasus adalah kerja dan kuliah (reguler). Gue dan Lusy yang berada dalam posisi tersebut mengatakan nasihat ‘pandai-pandai membagi waktu’ itu adalah omong kosong, menurut gue yang ada adalah penentuan prioritas antara hal-hal tersebut. Dan itu ditentukan oleh kecondongan seseorang terhadap sesuat, mana yang paling dia pilih, kerja atau kuliah.

Begitulah, pembicaraan terus mengalir sampai pada akhirnya gue bilang, pilihan itu gak ada yang salah, selama kita bertanggung jawab atas pilihan itu. Dan kalo kita terus tunduk pada ‘apa kata orang’, maka gak ada habisnya, kita harus menentukan pilihan kita sendiri. Tiba-tiba aja si Lusy nambahin, dan yang paling gampang adalah kalo kita ngejalanin apa yang direstuin orang tua kita, pasti jalannya dimudahin tuh, ya mungkin ada yang gak percaya sama Tuhan, tapi entah kenapa hal itu kerasa kok.

Disitu gue langsung nyambungin, mengiyakan dengan tegas sambil senyum. Secara agama, itu jelas dilarang, jangankan nggak patuh, bilang ‘ah’, ‘uh’ aja dilarang. Lantas terbetik sesuatu dikepala gue, sebuah penjelasan yang bukan berasal dari hukum agama. Mungkin begini, gue bilang, ibu itu kan asal muasal kita secara jasmani, jadi ketika kita mengingkari dia, sama saja kita mengingkari asal muasal kita, jati diri kita, yang mana orang yang mengingkari dirinya sendiri pasti akan selalu merasa bingung dan tak pasti akan langkahnya, kehilangan akar.

Gue tambahin, tapi gue yakin, meskipun kita mengingkari orang tua kita (baca, tidak mematuhi), kita tetep bisa ngeraih mimpi dari jalan yang udah kita pilih, tapi melalui jalan yang penuh kesakitan…

Hubungan antar manusia

Tahu hubungan antar manusia-mesin? Berikan perintah, lantas mesin itu akan melaksanakannya. Ingin tugas yang lebih rumit diselesaikan? Berikan perintah yang rumit dan menyeluruh, mendetail bila perlu, maka mesin itu pun akan melaksanakannya. Tapi bagaimana hubungan manusia-dengan-manusia bila keadaannya seperti itu?

Mungkin bentuk seperti itu biasanya lebih tepat berada dalam pola hubungan atasan-bawahan. Itupun bila bawahannya cakap, ia akan mengimprovisasi perintah yang didapatnya itu sesuai dengan karakternya dan dengan maksud mencapai tujuan dari perintah tersebut. Biar bagaimanapun, masih tidak seperti mesin bukan? Karena improvisasi dari pekerja itu kemungkinan variasi nya akan sangat besar. Bos mungkin hanya memberi perintah “Buatkan meja makan”. Dan pekerja tersebut tanpa mesti disuruh sudah mengerti bahwa untuk membuat sebuah meja ia harus memotong kayu, menyerutnya dan mengatur ukurannya agar tepat. Ketika memotong kayu bisa saja pekerja itu melakukannya sambil berdiri, duduk, sambil merokok dan lain sebagainya.

Tapi bagaimana jika itu terjadi pada hubungan yang setimpal? Yang berada pada satu garis horizontal yang sama? Apa yang dirasakan oleh individu yang terus-menerus memberikan ‘perintah’ agar partnernya melakukan sesuatu demi tercapainya tujuan bersama? Ia akan mendapatkan ‘rasa berhubungan dengan mesin’. Padahal aksi unik apapun yang dilakukan oleh partnernya (dengan mepertimbangkan keinginan partnernya) dalam rangka mencapai tujuan bersama sangat berharga, dan membuat segalanya jauh lebih hidup, tidak mekanistis.

Sekali dua kali perilaku minta diperintah, minta diberi petunjuk tentang bagaimana melaksanakan ini-itu, dipelihara, perilaku itu dapat terpupuk dalam di dalam diri seseorang. Menyebabkan jadi kecanduan, hilangnya inovasi penyelesaian masalah, dan tertutupnya keunikan karakter pribadi. Itu sama saja mencabut nyawa hubungan antar manusia perlahan-lahan.