Category Archives: Dedicated

Ini merupakan kategori yang dikhususkan buat member yang telah memposting 10 atau lebih puisi.

Nyanyian se-ekor hati yang sakit, Kepada hati yang sehat

Aku bosan disini
Sengketa disana-sini
Biar pahit tetap madu – disana
Biar manis tetap jengki – disini

Kau buang aku kesini
Untuk dicaci-maki
Termenung, memejamkan mata
Kadang menetes embun

Aku tak tahan lagi
Sengketa disana-sini
Aku jalankan semua siksaan
Tak tahan malu dihati
Didepan semut aku dicambuk
Semut pun tertawa-tawa

Aku di caci-maki
Benarkah induknya merasakan nya
Jauh ku pergi
Ke Negeri bisu
Tak ada yang mau hati ku
Jauh dari kasih dan sayang
Ku ingin pergi ku ingin bebas yang tak terikat

Aku bukan semut yang mau ditekan
Atau anjing yang di caci-maki
Atau monyet yang ditertawakan
Atau burung yang ter kurung

Lenyap, semua lenyap
Hampa di hati
Hancur luluh pikiran ku

Aku bukan si peminta ulung
Yang merengek-rengek seperti anjing
Aku makhluk bodoh
Yang malu terhadap yang lazim
Semua pembohong
Harta, jabatan, martabat itu lebih penting
Pagi ini aku di caci
Seperti anak tanpa induk
Sore nanti aku di maki
Seperti tubuh tanpa hati

Tak ada seorang pun
Yang mau membeli hati ku
Ini lelangan terakhir hati ku
Sebelum hancur luluh seketika

MaMaT
2003

Ajal

Siapa yang tahu hujan kan turun
Siapa yang tahu gempa kan datang
Siapa yang tahu nanti malam tahlilan

Angin kencang
Suasana mendung
Dunia gelap

Ada dua berbaju putih di rumahku
Mengapa ajal begitu cepat

MaMaT
2002

Balada pagi ini

Masih sendiri
Meraba impi
Terseret umur
Yang kian makmur

Satu tahun kedepan dengan waktu
Yang mungkin masih seperti dulu
Ku ingin seperti pohon kelapa itu
Kian tua kian jadi
Lalu mati kala waktu

Nak!!!
Apa program itu
Apa rencana itu
Apa itu mungkin
Apa itu telah nyata
Atau hendak nyata

Tak bisa kuhitung tangan-tangan yang dermawan
Tak bisa kusadari sel-sel yang memikirkan
Tak bisa kuduga doa-doa yang sayang
Tak bisa kupilah cinta-cinta yang melayang

Betapa mereka untuk ku
Betapa aku untuk nya
Yang kadang hanya debu ditengah bejana

Tuhan!! Mungkin ini serius
Karena aku telah ambisius
Boleh Kau bubuhi saos
Tapi jangan yang pedes-pedes
Yang menyebabkan aku pupus
Karena hari ini, hendak ku urus

Tuhan!!! Andai aku bisa mencuri arsip-Mu
Lalu kulihat dead-line ku

Tuhan!!! Andai aku bisa bisa membujuk Mungkar wa Nakir
Adakah orang yang kikir

Tuhan!!! Bila Jibril-Mu enggan masuk rumah ku
Tolong ingat kan ku, bagian mana lagi yang harus ku sapu

Bukan apa-apa Tuhan!!! Aku takut
Ketika Izroil-Mu mendekat

Rumah ku masih kotor
Dendam ku masih berakar
Perut ku masih lapar
Hutang ku masih melingkar
Dan a-ku, Kau lempar

MaMaT
05:30
08/02/05

Ya….Maha Pencipta

Rencana apalagi untuk Negri ini
Tak pernah tersenyum, maniskan bibir
Apalagi yang ingin KAU jadikan di tanah ini
Hendak menaikan batu-bata, sudah gulung tikar

Pantesan… sayur “Asam keueung” enak sekali disini
Di Negri yang hidup belimbing wuluh
Kadang sedikit dia rasa manis
Datang hari Raya bikin Timpan, Meseukat

Hidup saling membahu, mati syahid
Itu!! tak boleh hilang
Perang melawan kegoyahan iman
Itu!! harus didepan

Kadang perang kadang bencana
Aku tak sanggup mendengar selonsong itu
Aku-pun tak mampu melihat darah yang mengalir itu
Baru kuingin tersenyum…

Sudah KAU sentil dengan Tsunami
Terantuk-antuk dengan Lumpur hitam
Meraba-raba pada kayu panjang
Tumpah air mata, tuk lapangkan hati

Ya Allah…..
Jangan KAU habiskan air mata ini
Ku simpan sedikit tuk hari esok
Aku ingin tersenyum untuk Negri-ku
Dengan Air mata haru

Ya…Maha Pencipta
Semalam Aku melihat syuhada itu
Sedang memasuki gerbang syurga-Mu
Dan anak-anak yang tak berdosa itu….
Sedang bermain ditaman Firdaus

Ya….Maha Penyata
Aku mohon…
Nyata-kan tutur kata ku
Ya….Maha Pewujud
Aku mohon….
Wujud-kan impian ku

MaMaT
23:20
09/01/05

Tanah Rencong = Serambi Hikmah

Sungguh mulia ada-mu Aceh
Sungguh berbudi hadir-mu Aceh
Sungguh berhikmah pengorbanan-mu Aceh
Sungguh-sungguhnya Aku, ucap-ku tak lebih

Kau satukan kami dalam beberapa hari
Yang tak peduli, bendera apa yang kami bawahi
Ya…Aku mengerti!!
Kau ingin kami penghuni surgawi

Yang tak bercerai
Yang tak terderai
Yang tak berderai
Yang tak terkhianati
Yang tak memusuhi atau termusuhi

Aku juga melihat pulau-pulau yang tak Kau sentuh itu
Aku juga amati rumah-rumah Mu yang tak Kau habisi itu
Aku juga paham terhadap makam-makam pernghuni surgawi
Aku juga tak heran terhadap hamba Muhammad yang Kau hanyuti

Sungguh berhikmah pengorbanan-mu
Wahai saudara tua-ku
Pada dirimu, bisa kulihat tanda-tanda kebesaran Tuhan-ku
Dan aku masih diberi waktu

MaMaT
03/01/05

Jaitan itu pun belum dicabut dari negri-ku

aku pun sudah risih tentang jaitan itu
aku pun muak mendengar jaitan itu
kami pun lelah tentang luka
kami pun pasrah terhadap fana

luka negeri ku tak kian kering
jika tetap kau jahit dengan benang loreng
kenapa tidak dengan benang putih bersih?
Kenapa tidak kau pahami sejak perjuangan terhadap kaphe?

Apakah kau tahu santun nya?
Apakah kau paham panik nya?
Baju loreng, sepatu rakyat, jarum laras panjang!
Baret ijo, coklat, merah, kuning
Ahg…………semua kelabu!

Tak tahu kah kau,
kami merindukan sorban putih, peci bersih?
Tak tahu kah kau,
Hati kami lebih tertarik trerhadap serbuk pembangunan?

Semakin hari, luka ini pun semakin perih
Benang loreng itu pun semakin berani…
Terhadap tubuh ku!
Saudara ku!
Mata pencaharian ku!
Anak gadis ku!
Dan jaitan itu pun belum dicabut dari negeri ku.

MaMaT
10/10/04

Kata-kata yang berulang-ulang

Kadang aku bingung
Kadang aku bimbang
Kadang aku sedih
Kadang pula aku tertawa haha….hah
Ya…kata-kata yang slalu berulang-ulang

Disana perang
Disini bencana
Disana korban, orang hilang
Disini tewas, luka-lukua, rawat jalan
Disana rumah dibakar, sekolah dibakar
Disini musuh, pengkhianat, pembelot, pemberontak
Disana orang tak dikenal
Disini orang dikenal tapi jadi musuh
Disana darah mengalir
Disini banjir, petir
Disana daging manusia dipotong-potong, tubuh makhluk dikuliti
Disini kuburan masal
Disana kampung janda
Disini tangis, airmata, lalu setetes senyum
Disana orang gila, stress, struk
Disini janji, perjanjian, kesepakatan, janji – dan janji
Disana ditembak-tertembak, diculik, disekap, lalu mati
Disini mayat bergelimpangan, membengkak, tapi harum syurgawi

Kemarin tangis – airmata – luka – duka – lara –
luluh – lantak – nestapa – nyawa – harta – benda
Hari ini masih tangis – airmata – luka – duka – lara –
luluh – lantak – nestapa – nyawa – harta – benda

Disana – disini, disana – disini, kemarin – hari ini, aaghhh……
kenapa harus di negri itu Tuhan…
Disana – disini, disana – disini,
kata-kata yang berulang-ulang itu
Ya masih disana – disini, di satu…Tanah Rencong

MaMaT
31/01/05

Negri Cerminan

Aku bertanya!!
Siapakah yang bisa membuka lebar bibir Aceh
Dan menjaring senyum dan menuai setetes tawa dari Negri itu!

Malam lalu, aku bermimpi
Yang tak adil bila terjadi
Pagi minggu ku-dikabari
Yang tak enak untuk dilanjuti

Di gelap malam..
Dan awan yang tak kian membisu
Dengan hati yang tak kian damai
Ku ukir beberapa bait
Demi tersenyumnya hatiku
Didaun yang bewarna putih,
Dengan tinta yang bewarna-warna

Negri Cerminan
Kenapa KAU slalu jadikan Negriku
Cerminan bagi mereka yang tak kian berfikir

Setelah KAU goyang dengan peluru
Kau siram dengan air yang bewarna merah
Tak puas sampai situ
KAU goyang dengan kuasa-Mu
Lalu KAU siram dengan Air dan Lumpur-Mu

Aku mengerti kuasa-Mu
Aku paham Ada-Mu
Sudah cukup….
Tak usah KAU goyang lagi dengan penyakit
Atau KAU siram dengan cholera
Dan negri cerminan itu-pun tak kian tersenyum

-Sebuah pengaduan terhadap KAU-

MaMaT
02:30
28/12/04

To: You

Indah terpandang, itu kamu
Kenapa malaikat meneteskan sifat nya padamu
Sampai menarik hatiku karena harum mewangimu

Lupakan sengketa yang dulu, yang tercoreng
Buang peka dihati, bisikan, dan omongan yang tak bertanggung jawab
Karena sekarang saatnya hati berbicara

Dulu hanya kupandangi
Dan tak berani ku sapa cintamu
Karena aku tak ingin bekukan es dimatamu mencair
Dan ketika aku menyapa, semua itu telah lenyap
Dan aku tak tau, masih adakah cintamu yang tersisa

Terkadang aku berfikir
Buat apa tinggalkan hati untuk dicaci
Sekarang ku hanya bisa mengimpi-impikan impian
Dan mengharap-harapkan harapan
Karena dunia ku sekarang
Sudah tak bersahabat lagi dengan ku
Jauh dari kasih dan sayang

Tapi sekarang
Aku bangkit untuk menikmati semua nikmat Nya
Dan yang terakhir
Masih adakah harapan bagi si pengharap?

MaMaT
05/12/02

Tentanng mu

Titik terang disana
Sayup mengintai kelana
Curi! Pandang ter nga-nga
Sandung sapi betina

Terang karna aku tak ucap gelap atau fana
Damai karena aku tak harap konflik
Senyum karena aku tak ingin tangis
Cinta karena aku tak ingin benci atau hampa

Kisah ini dimulai…
Ketika seekor lebah menari didepanku
Dengan kantung manisan nya yang dermawan
Kala ini aku berdiri seorang diri,
Diterangi pisau belati,
Dengan rasa malu sekali

Apakah keindahan perlu dinamai?
Adakah keindahan perlu dinamai?
Senyum-mu teman!
Barangkali juga keindahan

MaMaT
Nov/04