Death
Kita tak pernah benar-benar menyadari, bahwa setiap waktu kematian bermain-main di sisi kita. Bahwa semua ini akan kembali menjadi nol dan semua yang kita perjuangkan akan hancur. Kesibukan deru nafas dan tiang-tiang pancang perobahan suhu budaya, melupakan mata kita akan Dunia Berikutnya, negri keabadian, Mahkamah Agung sejati. Kulit ini nanti menyerpih, wajah yang elok, semangat yang menggelorakan, nantinya tinggal tulang saja, sekedar tulang dari makhluk yang pernah berjuang, tak lebih. Usus yang mencerna berjuta keserakahan kita, nantinya membusuk, melahirkan belatung-belatung utusan Tuhan, dan kita sudah tak dapat berbuat apa-apa. Kita bukan apa-apa, sama sekali bukan apa-apa saat itu.
Kita sudah terlanjur lahir ke dunia, berjuanglah untuk hidup, terus hidup, dan BENAR-BENAR HIDUP. Dan jangan pernah lupakan batasan kita, batasan hidup dan batasan ke-manusia-an kita.
“… kau tak akan pernah tahu, kapan, dan diatas bumi mana kau akan mati…”
Inna Lillahi Wainna Ilaihi Rojiun,siang dihari kemarin gua melihat(di tv) sebuah tindakan teroris yang menyebabkan tewasnya beberapa orang.
Sebelum tidur gua menonton adegan tentang perang yang menewaskan banyak orang, Pas tidur gua akhirnya terbangun, gara-gara ngeliat pada suatu ketika disebuah mushala atau masjid banyak (kira” 5)orang yang akan dishalatkan, dan secara tidak sengaja gua terpanggil untuk langsung ikut menggendong/mengangkat salah satu jenazah. dan setelah gua terbangun (4:14,Jumat) gua melihat sebuah tulisan teman gua tentang kematian. Pada akhirnya gua cuman bisa bilang bahwa “kita hidup hakekatnya untuk menjemput sebuah kematian, namun bagaimana kita,pada saat kita mati?”
KULU NAFSIN DZAIKOTUL MAUT.
semoga kita termasuk orang yang khusnul khotimah….amin