Kutipan #1

…………
…………

Warung itu maju. Bakso, krupuk udang, dan es kelapa, jadi pasangan serasi. Pembeli berjejal.

Anak-anak Kamin, empat orang, semua sekolah. Biayanya, ya, dari warung kecil itu. Biaya sekolah dari situ. Biayahidup dari situ. Mereka hidup tntram.

hardi mulai tertarik. Ia mencoba mengamati lebih dekat, lebih dalam. Setelah salat bersama pada suatu hari, mereka dialog. Tapi, Kamin itu pendiam. Ia bicara sedikit.

“Apa doa kang Kamin sehabis salat?” tanya Hardi.
“Saya serahkan hidup ini pada Tuhan,” jawabnya, polos.
“Warung Anda maju. Apa rahasianya?”
“Tidak ada. Semua terserah Tuhan.”
“Anak-anak Anda sekolah. Apa rencana Anda untuk mereka?”
“Semua saya serahkan Tuhan.”
“Maksudnya?”
“Saya orang bodoh, tidak tahu apa mereka bisa jadi pegawai, buruh, atau tukang bakso juga. Saya percaya, Tuhan mahapengatur. Jadi, semua terserah Tuhan.”

Hardi pernah mendengar, orang Barat yang mengagumi Soedjatmoko menganggap bahwa almarhum adalah jenis orang yang belum dirusak oleh sistem pendidikan tinggi. Ia masih murni. kamin, si tukang bakso ini, iman dan dakwahnya juga murni, dan total.

Hardi sujud. Bijaksana Pak Kiai mengirim dia ke Kamin. Ketulusan macam Kamin itu, memang, yang belum dimilikinya selama ini.

===========================
Dikutip dari buku Kang Sejo Melihat Tuhan, hal. 92, terbitan PT. Gramedia Pustaka Utama, penulis; Mohamad Sobary (kata pengantar: Gus Dur).
===========================

Tuhan, dalam menuju-Mu, masih jauh aku dari yang benar. Hukuman dan Imbalan masih menggertak keras di dada. Cemar betul rasanya, coreng moreng wajah ini, hawa selalu terasa panas saja. Dimana tangga itu Tuhan, atau setidaknya tunjukkan undakannya yang paling pertama. Biar bisa kunaiki, atau se-hina-hinanya, kuniatkan melangkah kesana. Disini penuh kabut, kekotoran-kekotoran tumpang-tindih ikut warnai jiwa setiap saat. Dosa itu betapa mudahnya, Tuhan! Seperti menadahi air di hulu-nya, seperti melepas kentut disaat dan tempat yang tepat.

Keserakahan menjadikan tanganku sebagai tentakel-nya. Kegelisahan, kesedihan, dan rasa takut, menutupi batinku dari pemandangan akan Kau.

==

Berjauh-jauh kalimat yang kubicarakan, yang dilakukan masih kulit-kulit juga. Jeritanku jadi ngaco, Tuhan, pandangan sering mengabur, dan kaki ini keluyuran di muka bumi, tanpa kepercayaan akan alur-Mu, alur kuasa-Mu, rentetan sebab akibat, dan juga runutan peristiwa yang telah Kau cipta sempurna.

Doa-doa dilontarkan, panjang, terlalu panjang. Tak satupun dari mereka yang ber-ibu.

5 thoughts on “Kutipan #1”

  1. nazla

    hmmm..buku ini kalau ngga salah gw kasih perpustakaan SMUTH. masih ada kaga ye? apa perpustakaan pesantren ya? yg jelas perpustakaan aja.

    Reply ↓
  2. Toba

    Buat Kuyeng: Nyeng, buku Kang Sejo Melihat Tuhan itu sejenis sama bukunya Emha (Secangkir Kopi Jon Pakir), jadi orang males baca kayak elo pasti suka …. Buat yang laen juga, nih buku asik buat santai.

    Reply ↓
  3. koenje

    saya sedang membaca rumah kaca, cerita blora, itu yang cerpen santai
    kadang gue baca di bawah bendera revolusi, madilog, das kapital,
    kadang kadang juga baca, mathematical method in physical sceince,
    yah boleh lah buku santai kayak kang sejo itu

    Reply ↓

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

+ 66 = 70