Malam ini
aku bercengkrama dengannya
bermuka-muka, mengangkat
bergelas-gelas anggur manis
melupakan dunia
menuruti kehendak sendiri
aku tertawa
-dia tertawa lebih keras-
aku tersenyum
-dia menyeringai-
“sobat, sesloki lagi,
sebelum matahari benar-benar tinggi”
Sedikit ragu,
anggukan kecil jawabku
kusulang sloki baru
anggur itu pun menggeliat
memuncratkan kemanisan tak berperi
ruangan penuh desah
meja berantakan -basah-
dia mundur ke sudut ruang
menatap pergulatan kami
di atas meja bundar
di tengah ruang yang lebar.
Dan tertawa sekeras-kerasnya
Dunia pun gelap
samar-samar dia menyodorkan
kartu nama
“Tuan Dia Yang Terkutuk”