Sebagaimana orang-orang pada umumnya, saya punya idola, inspiring people with inspiring minds. Bisa seseorang bisa sebuah grup lawak, atau grup musik. Dan dari semua idola saya, ada satu hal yang baru saya sadari belakangan (sadar setelah chatting dengan kawan saya Lulu, seorang penulis tenar), bahwa saya senantiasa menjaga jarak dengan personal individu sang tokoh.
Saya menyukai Rendra, tapi tak pernah benar-benar ingin bertemu Rendra. Saya menyukai Suede, tapi begitu grup musik itu datang ke Jakarta, saya tak lantas bela-belain bisa nonton konsernya, tidak seperti teman saya yang malah belum lama suka sama grup itu. Saya suka Emha, tapi itu tidak menguatkan tekad saya untuk ikut pengajian padang mbulannya. Dan seterusnya, dan seterusnya.
Saya anggap mereka itu matahari, cukup dimanfaatkan sinarnya, tapi tidak perlu sampai didekati secara fisik. Teman saya langsung nembak, “Takut rusak ya image mereka di kepala lo?” Ya, ada benarnya, tapi saya koreksi, lebih tepat kalau dibilang, saya tidak ingin konsep pikiran/karya yang mereka utarakan rusak oleh ke’manusia’an mereka.
Saya suka Suede, The Cure, tapi saya tidak suka menonton konser dimana Robert Smith dan gitarisnya berciuman bibir (walau Robert SMith tetap punya anak dan istri). Saya tidak akan suka menonton konser Suede yang ternyata dipenuhi orang-orang yang berdandanan gay. Itu semua merusak citra karya mereka di mata saya pribadi.
Saya merasa cukup untuk mengambil saripati makna yang mereka tuangkan dalam karya dan pemikiran mereka, tapi lantas tidak ikut memuja pribadi personalnya. Mungkin ini sama seperti wanita yang menginginkan anak tapi tidak menginginkan suami (ya, itu ada guys, LOL).
Amat sayang sekali kalau karya yang bagus, pemikiran yang indah rusak karena ke-alpa-an seseorang. Coba lihat Kahlil Gibran, puisi-puisi cintanya sangat romantis dan tinggi, tapi kehidupan pribadinya hancur lebur, pemabuk, dan sendirian sampai mati. Dan kebetulan ada tokoh nasional yang saya sempat berada di bawah bimbingannya, yang akhirnya saya lebih memilih sikap “Lihat apa yang disampaikan, jangan dilihat oleh siapa itu disampaikan”, alias mending tutup mata biar gak lihat dia, dan lebih mendengarkan tulisan-tulisan atau pidatonya.
Saya yakin kekayaan dan kedalaman maksud dari karya pikiran manusia itu berasal dari Tuhan, bersumber dari yang Agung. Karena yang benar dan indah hanya datang dari inspirasi-Nya. Dan saya tidak mau, hal itu rusak oleh karena wadag manusia yang tidak sanggup membawa makna dan keindahan secara sempurna.
Ngga tau deh apa gue bisa baca karya Goenawan Muhamad tanpa terbayang tweet2nya lg atau ngga ๐
Weh, avatar gue knp yg itu ye
Apa yang dipikiran para Fans2 nya Ariel ya ๐
@nazla, foto anak tetangga dijadiin avatar
@aves, NAH itu salah satu contoh konkrit. Lirik lagunya kan bagus-bagus tuh, lumayan dalem.
@toba: ga nyangka dalam hal lirik lagu ariel, loe ternyata sependapat dengan kunye hahaha. mantap ba.