Kalau kau membunuhku, aku akan gentayangan di antara sepi dan luka yang kau puja-puja. Lihat saja, kau akan ketakutan dan pucat pasi. Bukan karena darah yang menetes dari tikaman jarum-jarum hujan itu, tapi karena kelembutanku yang menggodamu.
Kau akan sesak nafas melihat butiran-butiran cahaya arwahku di cermin kamar mandi. Juga pada kunang-kunang jelmaan kuku-kuku tanganku yang beterbangan di gelap matamu. Lalu, aku yakin seyakin-yakinnya kau akan pingsan saat kubuka tabir rahasiaku yang menopang waktu.
Jadi, kuperingatkan kau agar jangan pernah berani membunuhku. Biarlah aku tetap menjadi rahasia yang membatu.
25 januari 2004