Barusan nonton Rambo bedua bini gue di bioskop. Begitu film itu dimulai, rada kaget juga dengan adegan-adegan pembantaiannya -genosida tentara pemerintah terhadap etnis Karen-. Yang kepikiran di kepala gue: “Mmm, eksplisit juga ya aktion nya…” Ya mungkin buat para penggemar genre sadism, itu semua belum seberapa, tapi lumayan nyentak buat kaum dramais dan komedis adamSandleris seperti saya. Adegan pembantaian dengan semena-mena dan sadis yang ditampilkan memang tidak sampai membuat perut saya mual, seperti biasanya kalau saya liat video ato foto korban pembunuhan yang suka berkeliaran di internet. Tapi cukup membuat miris ngeliatnya.
Itu bagian pertama, ketika urutan dramatik sebuah film pada umumnya baru sampai pada penjabaran tentang kekuatan, kejahatan, kemenangan pihak antagonis. Nah, pada ‘babak’ berikutnya, tatkala pihak ‘jagoan’ mulai beraksi, dengan kata lain, Rambo mulai membantai pihak ‘musuh’, perasaan nyaris-mual yang saya rasakan itu hilang, berganti dengan perasaan senang dan lega. Malah terkadang tertawa gregetan dan berteriak seru seperti homer yang nonton tim bisbol nya menang (“woohooo”), ketika layar menampilkan kepala prajurit musuh hancur ditembak rambo, atau bergumam ‘mampus!’ tatkala Rambo perlahan-lahan merobek tenggorokan musuhnya dengan tangan kosong. Juga sewaktu Rambo Cs. membantai pasukan musuh dengan senapan mesin kaliber gede (yang biasanya ditongkrongin di mobil tentara dan pelurunya segede batere) seperti membunuh sekawanan nyamuk, saya tidak merasa miris apalagi mual. Padahal cara matinya sama mengenaskan dengan adegan rakyat kecil yang dibantai, bahkan sebagian tampaknya lebih brutal.
Film hampir habis dan saya menyadari ‘perubahan rasa’ itu. Saya jadi bertanya-tanya sendiri; “Kenapa ya?”
Ketika Menonton Rambo IV
Leave a reply