Ada hal yang cukup menyenangkan belakangan ini kalau berkunjung ke kedai komik ataupun toko-toko buku besar. Apa sebab? Adalah semakin tingginya frekuensi kemunculan judul-judul komik baru dengan tema yang makin beragam. Nggak Cuma masalah cinta, perang, berantem, ataupun monster-monster aneh yang harus dibasmi atau dikoleksi. Tapi juga tema seputar politik, olahraga, kedokteran, musik, masak, bahkan tentang petugas pemadam kebakaran dan masih beberapa tema-tema unik lainnya.
Hal ini kalo di luar negeri, ya katakanlah di Jepang sudah bukan hal baru lagi. Karena dengan banyaknya saingan pembuat komik tentu akan memaksa para pembuat komik untuk menyuguhkan racikan-racikan komik yang baru segar dan fresh. Bukan hanya dari segi teknik grafis, tapi juga tentu dari tema. Mau bukti? Coba aja tengok ke www.anip.homeunix.com/manga disitu kita bisa liat betuapa buanyaknya judul dan tema komik yang sudah beredar di negeri seberang (dan kita juga bisa download hihihihi). Dan gue pribadi bersukur tema-tema ‘langka’ itu mulai ramai bermunculan di dunia perkomikan tanah air kita. Pada akhirnya komik bener-bener bukan Cuma buat anak kecil atau abegeh aja. Hal ini tidak dipungkiri juga didorong oleh munculnya penerbit-penerbit komik baru, sehingga nuansa komik tidak di ‘monopoli’ oleh satu penerbit mapan saja yang mana sensornya ketat, jadi agak mengurangi nilai asli komik itu :p. Selain mengurangi ‘nilai asli’ komik itu, karena kebijakan sensor yang ketat, tentunya akan mempengaruhi proses pemilihan tema komik yang diterbitkan. Bahkan ada penerbit yang khusus menerbitkan tema-tema yang berbau mesum, ada juga yang menghususkan diri menerbitkan komik untuk dewasa dengan jalan cerita yang lebih kompleks. Entah apakah ini termasuk dampak dari kebebasan pers atau apa. Sejauh pemantauan gue pribadi, fenomena ini terjadi sejak jaman reformasi. Ya semacam efek dari sebuah ‘pembebasan’ dari kekangan. Lo semua juga tentu pada merhatiin bahwa begitu reformasi dinyatakan mulai bermunculan majalah atau tabloid-tabloid yang memuat foto-foto seksi wanita. Saat itu pula komik yang bertema mesum berani muncul terang-terangan. Itu efek buruknya (buruk gak ya??
), nah efek lainnya ya muncul tema-tema komik yang beragam, yang dewasa (tapi bukan fokus pada tema mesum) pun ikut muncul.
Keragaman tema ini mengobati kekosongan minat yang terjadi selama ini. Karena gak semua orang selera mbaca jagoan dengan kostum aneh plus pedang yang lebih gede dari badannya ngalahin monster yang keliatan sangar padahal sekali sabet K.O. Contoh, sekarang mulai ada komik politik, sebut saja judul Kunimitsu yang bercerita tentang perjuangan seorang remaja desa yang jadi sekretaris politikus, dan bercita-cita menjadi politikus hebat yang mampu merubah negara, kemudian ada juga judul Ministry of Finance, atau juga yang berbau-bau diplomasi Yu Go; the negotiator. Ada juga tema kedokteran seperti God Hand Teru yang menceritakan perjuangan seorang dokter bedah muda yang berjuang mencapai ahli bedah legendaris bergelar ‘God Hand’ seperti ayahnya, ada juga The Nurse (yang ini gue belum baca), ada juga Homunculus yang menceritakan tentang efek samping teknik bedah Trepanasi (membuat lubang di tempurung kepala) terhadap seorang pria bernama Susumu. Dari tema musik, mulai terbit komik Beck yang bercerita tentang kehidupan membosankan seorang anak smp yang berubah setelah ia bertemu dengan musik yang menggugah jiwanya. Daaaaan masih banyak lagi tema lainnya yang masing-masing hadir untuk pangsa pasarnya sendiri. Sebulan sekali ke toko atau kedai buku selain beli nomor baru juga beli judul komik yang baru terbit. Aaaah menyenangkan sekali ![]()
PS: terbetik juga dipikiran; ‘gimana nasib komik indonesia’, duh gak tau deh, gue berposisi sebagai konsumen disini, dan belum ada komik indonesia yang menarik minat gue…. jadi nungguin someday sajalah