Saya Menunjuk Kesana

Sambil iseng, saya jadi teringat sebuah cerpen dari Sutardji Chalzoum Bachri, lantas gue menunjukan jari saya ke arah asal-asalan. Terbayang tangan gue nembus tembok kamar, nembus tembok rumah tetangga, kamar orang, masjid, gereja, halte bus, perkantoran yang masih sibuk, pasar yang mulai sepi, jalanan Jakarta yang macet. Melewati orang yang sedang mandi, suami-isteri yang bercengkrama, anak kecil yang sedang diomeli, imam masjid yang tengah memimpin ibadah, muda-mudi yang asyik-masyuk, redaktur majalah yang sedang pusing, mahasiswa yang ngedumel di tengah macet, programmer yang senewen dengan kode-kode, tikus-tikus DPR yang mengotak-atik angka dan beberapa orang yang hendak di bunuh. Tapi entah kenapa, kepala ini berkehendak menghentikan petualangan telunjuk jari saya di tanah paling timur Indonesia; Papua. Berhenti pada adegan sekumpulan orang papua yang tengah berkumpul dan mengeluhkan tentang pelarangan melakukan penambangan atas tailing PT. Freeport Indonesia. Tentang kekesalan mereka, kesulitan hidup yang menghadang mereka, tentang rasa terpinggirkan mereka, dan tentang pencurian sumber daya alam mereka yang entah apa mereka menyadarinya atau tidak. Dan saya disini tengah duduk menimang-nimang apa yang sekiranya enak saya lakukan saat ini.

Dan mereka berkata: “Kitorang hanya ambil dorang punya sampah”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

67 − 60 =