Girls and Screen Saver

Wanita-wanita bertebaran dimana-mana. Beredar rumor bahwa rasio antara
pria dan wanita adalah 1:9. There are good girls, bad girls,
good-looking girls, fat-bottomed girls etc. Hmmm, para feminists pasti
langsung jengkel waktu baca kalimat gue barusan; “kok cuma mandang
cewek dari segi fisik aja sih, seolah-olah kita ini cuma objek…
bla… bla.. bla…” But thats the fact. Sebagian besar kita (terutama
pria), masih suka dan rela ‘tertipu’ oleh mata, oleh apa yang dipandang
(tolong garis bawahi kata-kata “rela”). Bahkan bukan hanya suka dan
rela, secara alami kita mencari ‘pemandangan’ tersebut (hehehe
feminists ngamuk lagi neh ;P). Tapi memang di lapangan, mereka (wanita)
seolah-olah berlomba untuk memberikan ‘tontonan’ yang terbaik bagi
mata. Hufff, kalian mungkin memprotes pernyataan tersebut dengan: “Itu
kan hak mereka untuk mengekspresikan diri, karakter, dan pribadi mereka
dalam fashion? Kalo you yang ngeliat jadi ‘senewen’, ya itu urusan
‘dapur’ you.” But gals, tak ada asap tanpa api. Dan reaksi ‘senewen’
itu adalah salah satu hal yang paling alami yang melekat pada diri tiap
manusia (pria dan wanita, hanya saja reaksinya berbeda). Ok, kita
hentikan sampai disini perdebatan abadi itu, gak akan beres, sumpah dah.

Mendiang nenek gue punya komentar mengenai wanita; “Yah kalo soal cewek mah gak ada abisnya, kita kemari ada yang cakep, pindah kesono, ada yang lebih cakep lagi….”
Yup betul sekali nek, gak ada abisnya, biar kata kita kawin/pacaran
seratus kali juga pasti selalu ada yang lebih, lebih, dan lebih.
Padahal kalo aja kita lebih concern pada satu pribadi, rela menelan
pahit-manis keringat yang dia keluarkan, mungkin kita bakal lebih
sadar, ada sesuatu yang lebih ketimbang physical attraction, apa itu???
Ah, jawab aja sendiri hehehe ^_^

Dan juga, bagi pria-pria yang mau sedikit lebih jeli, mereka hanya akan
melihat wanita-wanita ‘wah’ itu dengan sepintas lalu. Mata, hati,
bahkan kakinya akan dapat terpicing kaku ketika dia melihat wanita yang
berlumuran cahaya kecantikan, yup, betul, inner-beauty! Yang ketika
melihatnya seperti melihat pemandangan alam yang megah, sehingga
kata-kata yang keluar bukan lagi cantik, tetapi indah. Indah bukan
dalam artian sebagai benda atau objek, tetapi sebagai hakikat dari
kata-kata indah itu sendiri, ‘indah’ yang terlepas dari benda-benda
ragawi keduniawian, saripati dari kata-kata indah itu sendiri. Seorang
wanita yang ketika melihatnya, semua aspek-aspek jasmaninya tak
terlihat lagi, yang terlihat adalah langsung jiwanya, bersinar-sinar,
memancarkan cahaya yang memanggil belahan jiwanya. Dan sebagaimana
teori pencahayaan, bahwa benda yang berwarna merah tidak dapat dengan
sendirinya terlihat berwarna merah, tetapi warnanya akan ‘keluar’
sempurna begitu mendapat pancaran cahaya yang mengandung spektrum warna
merah yang sempurna juga. Begitulah mungkin jiwa-jiwa yang berpasangan
saling memanggil. Yang satu menunggu spektrum cahaya yang tepat, yang
lain terus memancarkan cahaya spektrumnya, mencari jiwa yang memberikan
refleksi sempurna spektrum yang dipancarkannya.

And when you found that girl, stand by your side, faithfully, you just
can say: “Those girls are screen savers, but she’s the real thing for
me, she’s my processor, dia adalah rumah tempat pulang, dia adalah
pandangan mata, dia adalah dunia tempatku hidup, dia adalah kenyataan.”
Seperti yang Tuhan katakan bahwa Dia ciptakan segala sesuatunya
berpasangan, yang berarti siang akan mati bila tidak ada malam, kering
akan musnah bila tidak ada basah, juga bahwa kita akan cacat tanpa
kehadirannya (begitu juga sebaliknya).

PS: pernyataan terakhir
tidak berlaku buat para bajingan yang berprinsip; “cewek ini mah buat
maen-maen, nah yang satu lagi buat serius”. No, NOT AT ALL!!!

3 thoughts on “Girls and Screen Saver”

  1. vamos

    makhluk klingon satu ini memang slalu tajam pemikirannya tentang wanita..memang sebagai salah satu pendiri mustang society ini tidak memalukan..memang,memalukan hehe3

    Reply ↓

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

75 − 72 =