Biarkanlah manusia-manusia ‘idealis’ bernafas dengan ‘idealisme’nya. Walau anda tahu itu (hampir pasti) akan gagal, biarkan saja, siapa tahu dia memang ditakdirkan mengubah ‘sejarah’ kegagalan itu. Tak ada yang tahu pasti tentang masa depan, perhitungan tak seratus persen akan tepat -waktu, dunia beserta hukum-hukumnya akan ikut menentukan hasilnya. Susah ‘melawan’ mereka, merepotkan dan mengesalkan, karena tak jarang, karena saking yakinnya dengan pikirannya itu, mereka cenderung meremehkan hal-hal lain, seolah semuanya tak ada yang terlewat dari perhitungannya. Tapi terkadang sulit untuk membiarkan begitu saja, mengiyakan begitu saja, apalagi jika hal itu menyangkut nasib Anda sendiri ke depannya. Entahlah (???)
Penyakit orang idealis biasanya adalah rasa superior, karena dia merasa memiliki ‘konsep’, yang orang lain tidak memilikinya (atau bahkan tidak terpikir). Rasa superior akan semakin membesar seperti bola salju yang bergulir, apabila yang bersangkutan tidak awas terhadap rasa superioritas yang dikandungnya ini. Semakin besar rasa itu, semakin besar juga dampak negatif bagi dirinya sendiri, dan juga orang lain. Rasa superior yang akut akan membesarkan kepala, meremehkan orang/hal lain, dan parahnya bisa menghambat kemajuan dirinya sendiri. Hal lainnya lagi adalah tidak mau kalah, mungkin karena merasa pertimbangannya telah/lebih matang.
Jadi keinget dosa-dosa gue sendiri pada beberapa momen tertentu. Salah satunya (masih seger di kepala), beberapa tahun ke belakang, waktu rapat organisasi alumni SMA, waktu itu gue mempunyai usulan yang ternyata usulan itu mendapat sambutan hangat dari peserta rapat, semangat gue naek dan dengan jumawa terus memaparkan ide-ide. Dari hanya beberapa ide sampai kemudian berkembang, dan orang-orang semakin semangat mendengarkan. Setelah itu ada alumni senior yang menyampaikan sedikit pertanyaan atas ide gue ditambah pandangannya sendiri, emang dasar gue nya udah terlalu ‘up’ sambil cengar-cengir cengengesan gue lontarin balik jawaban ke dia yang disambut senyum dukungan dari peserta rapat lagi, parahnya dengan sikap yang seolah-olah mengatakan‘ah gampang ituuu’. Dia yang mengajukan saran/usulnya dengan serius, melihat gue yang seolah nggak serius nanggepinnya kontan saat itu juga menampakan wajah tersinggung, tidak banyak omong lagi setuju aja tapi dengan wajah ‘Ya udah, gue kerjain aja tugas gue, kalo ada masalah ga tau deh’. Padahal usul gue juga sebenernya masih gak jelas bener apa nggak.
Gue minta maaf sama orang-orang yang pernah merasa ‘terintimidasi’ oleh sikap arogan gue, baik dalam kehidupan sehari-hari, organisasi, atau apapun. Gue minta maaf karena udah ga ngehargain mereka (pribadi maupun pikirannya). Dan kalau kebetulan lo (yang baca) termasuk salah satu dari orang-orang itu, gue minta maaf dan semoga perlakuan buruk gue itu dibales dengan kebaikan buat hidup mereka kemudahan atas urusan-urusan mereka.
reeko cuma bisa tersenyum dan cengengesan (like usual) saat baca blog ini.