Terang Bulan

Pada saat terang bulan begini, hal yang paling menyedihkan adalah berada di dalam rumah. Ya bulan megah dengan lingkar pelangi mengelilinginya, awan yang berarak menyala putih seolah domba-domba di padang luas, bintang-bintang yang mengintip di langit. Sungguh menyedihkan berada di dalam rumah waktu purnama berlagak. Warga kota, melirik langit sekejap, takjub, lantas kembali menutup pintu. Memaksakan berdiam memandang pun tak bisa, karena atap-atap rumah yang tumbuh tak beraturan telah memangkas pemandangan megah ini. Tak ada lagi sudut yang benar-benar sempurna untuk menikmati malam seperti ini. Padahal tayangan Box Office pun dijamin tak mampu menandingi secuil keindahannya. Belum lagi kesibukan yang menunggu untuk segera diselesaikan lekas-lekas.

Ah terkenang kawan-kawan lama. Ketika ‘memandangi langit’ sambil melambungkan apa yang ada di benak masing-masing telah menjadi satu agenda penting. Apalagi purnama yang seperti ini, pasti kami akan segera repot menyiapkan perlengkapan untuk menemani menikmati suasana, kopi, teh manis, rokok, gorengan. Tak peduli belum makan seharian, atau baru makan sedikit tadi siang, sedikit tawa yang riuh cukup untuk melupakan kegaduhan di perut. Ya, saya merindukan mereka, saya merindukan langit yang seperti malam ini, saya merindukan langit ini dengan mereka didalamnya. Sekarang tak bisa lagi, karena terpisah tempat tentu, tapi juga mungkin disebabkan hal lain, mungkin karena kami sudah terlalu ‘dewasa’ untuk mengurusi ‘hal-hal remeh’ seperti itu lagi, mungkin karena tenggelam dalam kesibukan dan kebutuhan-kebutuhan. Tak ada yang abadi, semuanya bersifat sementara, datang dan hilang dengan segera. Tak ada yang permanen, semuanya hanya keadaan sementara. Suasana, nuansa, kebersamaan, tak bisa begitu saja kita masukkan ke dalam termos atau pendingin untuk menyimpannya lebih lama. Mereka seperti saraf pada otak kepala, lahir dan berguguran setiap detik.

Langit dengan purnama seperti ini terlalu berat muatannya. Memang itu cuma bulan yang mencapai titik bulat, memang itu cuma awan yang menyala seperti neon, memang itu cuma bintang yang berkelip seperti kunang-kunang, tapi bulan yang seperti ini yang memanggil kembali ratusan tawa dari kawan-kawan lama, yang bercengkerama dalam sebuah rumah, yang walaupun didominasi lampu bohlam, tetap saja senyum dan candanya menerangi relung hati. Tapi langit begini yang memanggil kembali seribu rangkul persahabatan yang lepas bebas. Itu kenangan manis, itu kenangan termanis yang mendekam di dada, tapi kenapa begini pedih mengingatnya.

Sumpah, pengen nangis.

2 thoughts on “Terang Bulan”

  1. Bayu

    Beberapa malam yang lalu ketika gue mengendarai motor ketika sedang melintasi fly over Kiaracondong (gw lupa tujuannya darimana mau kemana,mungkin memang cuma pengen keluar rumahm karena seharian di meja komputer)terbersit di kepala;

    Aku hampir melupakan indahnya malam,
    Kerlip lampu di kejauhan,
    Tempat yang tinggi,
    Langit tak berbintang (bagiku langit yang bersih lebih indah ketimbang berbintang,
    Udara yang sejuk.
    Ironi, aku merasakan keindahan dan ketenangan di tengah gemerlapnya malam,
    Mungkin ini hanya perasaanku seorang, mungkin karena aku tak peduli keramaian di sekitarku,
    Mungkin karena aku sendirian?,
    Tak ada jawaban yang tepat untuk itu,well mungkin diriku yang tidak tepat?,
    Dalam masa yang terakhir ini kuingat indahnya malam karena seseorang mengajariku demikian, seorang sahabat jauh disana, sahabat dan suasa bersamanya yang kurindukan,bersamanya bersama mereka, malamku tak pernah lebih sepi dari malam-malm sebelumnya (jiwaku sepi, jiwa mereka hamp, tapi..hey! bukankah jiwa yang sepi bersama lebih baik dari jiwa yang hanpa sendirian?),
    Tiba-tiba suara itu terdengar menyenangkan (saat ini), suara yang kukenal, yang berkata “for the old time dude..for the old time”
    Aku tersenyum membayangkannya (ya..for the old time).

    Reply ↓

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

83 − 73 =