Daun yang tersobek tak menangis
Menyisakan hidupnya ditanah
dan mati
Perih pada tiap seratnya
Tak dihiraukan
dia tak menyalahkan
Dia tak menghancurkan orang lain
dengan marahnya
cuma tersenyum :
“Lihat lukaku, menggores indah
membelahku, dari sini akan lahir
tanah dan harapan baru”
Tak ada yang bersedih
Orang-orang hanya berlalu
menginjaknya, menambahkan luka
Tetap tanpa jerit
Tetap tanpa duka
Tanpa pengumuman kematian di masjid-masjid,
di koran-koran
Ia serap dalam senyum, dalam
kehijauan yang semakin pudar
Saat mengering dan wajahnya kaku
dalam senyum tak henti
-sedang luka sudah tak terhitung-
Ia mencapai nirwana
25 Februari 2003