Dependency dan Identitas Universal
(satu dari entah berapa tulisan)
Sepertinya semua ilmu adalah ilmu hidup -terlepas dari hitam atau putihnya-.
Kita hidup bergantung pada ‘Nadi Besar’ semesta, kita cuma sesuatu yang menclok dan ikut berjalan-jalan bersamanya. Hukum sederhananya, sesuatu yang kecil bergantung pada yang lebih besar, sesutau yang lemah mengharap pada yang kuat, dan ketiadaan atau ‘bukan apa-apa’ bergantung pada suatu yang bernilai (ada). Kita, manusia, inti fisiknya adalah sperma yang sering dibuang kemana-mana. Sperma yang ‘bukan-apa-apa’ itu bergantung pada manusia yang wadagnya lebih dulu ada, dan manusia bergantung pada Nadi Besar yang sudah berjalan lebih dulu darinya, Nadi Besar yang lebih dulu ada itu bergantung pada Yang Selalu Ada; dalam bahasa kita: Tuhan.
Ketergantungan-ketergantungan ini menjadi syarat mutlak kehidupan segala mahluk, seperti bentuk ‘hubungan dasar’ antara yang bergantung dan tempat bergantung (‘anak’ dan ‘induk’). Isi dari hubungan dasar ini adalah penurunan sifat-sifat dari ‘induk’ ke ‘anak’, penambahan atau pengurangan karakteristik itu pun selalu dikendalikan oleh ‘induk’ tempat bergantung (‘sesuatu yang lebih besar’ itu). Sehingga tak pelak lagi, terjadilah kemiripan-kemiripan sifat dan proses kerja pada segala unsur ‘anak’ dan ‘induk’ tadi. Pembedanya hanyalah sifat dan fungsi yang unik dan mutlak pada masing-masing pihak. Juga terjadi degradasi kadar (takaran) sifat-sifat itu tiap kali terjadi penurunan sifat tersebut, semenjak pertama ditularkan oleh Tuhan kepada yang dibawah-Nya dan dari yang di bawahnya ke yang di bawahnya lagi dan begitu seterusnya. Pada titik ini, kesetimbangan adalah omong kosong, karena sama rata dalam fungsi, identitas, dan takaran sifat pada segala hal hanya akan berbuntut pada chaos dan kenihilan. Sifat-sifat ini sudah ditanamkan begitu kuat dan mendasarnya pada tiap mahluk, Penanamnya tak lain adalah tempat bergantungnya segala sesuatu tadi (Tuhan).
Kita yang hidup sebagai manusia, terus berkomunikasi dengan tempat bergantung kita yang paling verbal (paling jelas), yaitu alam. Sifat salah satu induk kita itu tertanam dalam kita, bahkan terlalu dalam sehingga sifat-sifat tersebut telah menjadi kita sepenuhnya, kita susah merasakannya secara sadar dalam keadaan biasa. Dan umat manusia harus berjalan ribuan tahun untuk menerjemahkan-ulang dirinya, -dengan media alam disekitarnya-. Tak habis mereka catat pencapaian proses penterjemahan-ulang itu ke dalam jutaan rumus, buku-buku, filosofi-filosofi dan berbagai cabang fak-fak ilmu. Semuanya itu dibalut dalam bahasa, diimplementasikan pada alat-bantu-alat-bantu mekanis dan terus diuji kebenarannya sepanjang waktu.
Manusia, terus berkembang dalam ‘tanah induk’nya masing-masing, pencapaiannya berbeda-beda, tapi hasilnya tetap, selalu ada jalur yang sama pada tiap hal/ilmu yang mereka rumuskan, pada cara kerja alat bantu yang diproduksi. Tak peduli itu ilmu hitung, ilmu bahasa, ilmu gaib, ilmu bintang, tak peduli alat bantu itu pacul atau traktor, semuanya punya POLA YANG MIRIP.
(bersambung…)
“Tak peduli itu ilmu hitung, ilmu bahasa, ilmu gaib, ilmu bintang, tak peduli alat bantu itu pacul atau traktor, semuanya punya POLA YANG MIRIP.”
mirip dari adanya? atau mirip untuk menuju yang sama?