Updates from August, 2019 Toggle Comment Threads | Keyboard Shortcuts

  • Nyenius 11:38 am on August 7, 2019 Permalink | Reply  

    Bolehkah Aku 

    Bolehkah kuharap tatapmu pagi ini
    Sedetik kerlingmu cerahkan hatiku

    Bolehkah kupinta senyummu pagi ini
    Permata yang kucari sejak mata terjaga

    Bolehkah kunanti suaramu pagi ini
    Seperti pengemis menanti di ujung jalan

    Gelora ini
    Meluap-luap
    Dan penantian,
    membuatnya tak tertahankan

    Bolehkah

    Aug, 7, 2019

     
  • Nyenius 10:02 am on June 25, 2019 Permalink | Reply
    Tags: ,   

    Berita Itu Mematahkan Hatiku 

    Berita-berita itu
    mematahkan hatiku
    Tentang kenyataan buram
    dan penolakan tak komprehensif

    Membuatku termangu
    tak dapat bersedih atau kecewa
    karena Kau disana
    tatap-Mu menusuk tajam
    mencengkam

    Jangan marah padaku
    Tuhan
    Aku akan menahan
    retak hati yang tak kupahami,
    sakit yang berdenyut halus di dada

    Berita-berita itu
    berdengung dihatiku
    walau gelap akan apa dan kenapa
    aku percaya

    25 Juni 2019, 9:59 AM

     
  • Nyenius 1:15 pm on June 18, 2019 Permalink | Reply  

    Ada Sajadah Menanti 

    Ada sajadah menanti
    terhampar
    dipanasi mentari, dibayangi hujan

    membujur ke titik yang mulia

    Ada sajadah menanti
    tanpamu dia terus bersujud
    menanti kening pendosa tersungkur atasnya

    membujur ke rumah yang tua

    Ada sajadah menanti
    terbaring dengan taat
    disinari mentari, terpapar kelembutan Tuhan

    membujur ke ujung usia

    Ada sajadah menanti
    luapan air mata hambaNya
    sang pesujud
    yang entah sampai kapan berkelana

    18 juni 2019 1:11 pm

     
  • Nyenius 11:13 pm on July 2, 2016 Permalink | Reply  

    Datang Lagi 

    Dan hujan mengguyurmerutuki kekosongan

    membasahi relung hati dengan sepi
    sepetik nada blues menggores dindingnya

    memberikan sedikit manis pada pahit

    ruang membuatku ingin pergi

    ayat suci membuatku bersalah

    blues menjadi masuk akal
    Dan hujan mengguyur

    membasahi lahan ketidakpastian baru

    bukan, bukan masa depan menggundahkan

    bukan pula kemalangan menggulanakan

    aku kesepian
    waktuku dan waktunya dan waktu mereka

    tak bertemu padu

    pertemuan menjadi singkat

    perpisahan berasa berat
    hatiku meratap

    merutuk

    sendirian di dalam ruang

    ruang membuatku ingin pergi
    mataku seluruhnya

    tak sanggup memandang Tuhan

    malu sangat
    rasanya tidak ada dimana-mana

    rasanya tidak terasa apa-apa

    rasanya ruangan ini terlalu besar dan kosong

    ruang membuatku ingin pergi
    hatiku menjerit

    dengan derit kaki lemari yang bergeser

    mungkin lelah

    atau entah
    Rasanya rasa ini tak asing lagi

    rupanya, ada waktunya dia kembali

    22:13, 2 Juli 2016

     
  • Nyenius 11:12 pm on July 2, 2016 Permalink | Reply  

    Datang Lagi 

    Dan hujan mengguyurmerutuki kekosongan

    membasahi relung hati dengan sepi
    sepetik nada blues menggores dindingnya

    memberikan sedikit manis pada pahit

    ruang membuatku ingin pergi

    ayat suci membuatku bersalah

    blues menjadi masuk akal
    Dan hujan mengguyur

    membasahi lahan ketidakpastian baru

    bukan, bukan masa depan menggundahkan

    bukan pula kemalangan menggulanakan

    aku kesepian
    waktuku dan waktunya dan waktu mereka

    tak bertemu padu

    pertemuan menjadi singkat

    perpisahan berasa berat
    hatiku meratap

    merutuk

    sendirian di dalam ruang

    ruang membuatku ingin pergi
    mataku seluruhnya

    tak sanggup memandang Tuhan

    malu sangat
    rasanya tidak ada dimana-mana

    rasanya tidak terasa apa-apa

    rasanya ruangan ini terlalu besar dan kosong

    ruang membuatku ingin pergi
    hatiku menjerit

    dengan derit kaki lemari yang bergeser

    mungkin lelah

    atau entah
    Rasanya rasa ini tak asing lagi

    rupanya, ada waktunya dia kembali

    22:13, 2 Juli 2016

     
  • Nyenius 9:59 am on May 28, 2016 Permalink | Reply  

    Selisih Antara 

    Purwa waktu

    Purna waktu

    Diantaranya pembuktian makna

     
  • Nyenius 3:56 pm on January 28, 2013 Permalink | Reply  

    Kebodohan Tanpa Batas 

    Dunia menyingkap roknya
    Hamba berlari mengejar
    Ceceran pakaian dalam kupungut satu-persatu
    Tak ada habisnya

    Sampai kehampaan menampar
    Kecantikannya lenyap berganti rupa
    Setumpuk dalaman yang membusuk
    Kehilangan arti

    Seseorang menabrakku
    Dan terus berlari tanpa menoleh
    Dia mengejar tumpukan mayat dan tanah
    Penuh nafsu
    Persis diriku

    Saat lubang semakin dalam
    Datang seorang gadis
    Berpakaian sopan
    Menempelkan dadanya ke wajahku kemudian pergi

    Aku berlari mengejar bayangnya

    —————–
    28, jan, 2013 – 15:56

     
  • Nyenius 3:08 am on December 8, 2011 Permalink | Reply  

    Tetapi Kita Pergi 

    Andai kau gigih
    mempertahankan hijau cemara rasa
    atasku

    mungkin tidak begini
    jalannya novel kita
    satu-dua kecup harusnya bertukar
    tutur canda dan tangis amarah
    mungkin saling berserah

    andai aku sedikit bersabar
    menapaki langkah-langkah
    menujumu

    mungkin penyesalan menjadi tawa
    dan namamu tidak hanya terbayang

    bila saja
    kita bertahan disitu
    pada titik stagnan tanpa arah

    tidak begini,
    tentu tidak begini.

     
  • Nyenius 2:23 am on November 21, 2011 Permalink | Reply  

    Pengantin Baru 

     

    Dan setelah panggung dangdut selesai.

     

     

    ——–

    21/nov/2011

     
  • Nyenius 2:30 am on October 26, 2011 Permalink | Reply  

    Semalam Bersamanya 

    Malam ini
    aku bercengkrama dengannya
    bermuka-muka, mengangkat
    bergelas-gelas anggur manis

    melupakan dunia
    menuruti kehendak sendiri

    aku tertawa
    -dia tertawa lebih keras-
    aku tersenyum
    -dia menyeringai-

    “sobat, sesloki lagi,
    sebelum matahari benar-benar tinggi”

    Sedikit ragu,
    anggukan kecil jawabku
    kusulang sloki baru
    anggur itu pun menggeliat
    memuncratkan kemanisan tak berperi

    ruangan penuh desah
    meja berantakan -basah-

    dia mundur ke sudut ruang
    menatap pergulatan kami
    di atas meja bundar
    di tengah ruang yang lebar.
    Dan tertawa sekeras-kerasnya

    Dunia pun gelap

    samar-samar dia menyodorkan
    kartu nama
    “Tuan Dia Yang Terkutuk”

     
c
Compose new post
j
Next post/Next comment
k
Previous post/Previous comment
r
Reply
e
Edit
o
Show/Hide comments
t
Go to top
l
Go to login
h
Show/Hide help
shift + esc
Cancel