Tagged: yang Toggle Comment Threads | Keyboard Shortcuts

  • Nyenius 1:11 am on November 5, 2011 Permalink | Reply
    Tags: , , yang   

    Caraku dan Caramu: Preferensi Pribadi 

    Cara bertindak, bahasa, menjadi kulit terluar manusia dalam mempresentasikan bagian dalam dari diri mereka.

    ‘Kualitas’ tampilan tersebut sangat dipengaruhi oleh kondisi psikologis mereka. Mereka bisa berbicara tegas dan jelas atau melantur. Bisa rasional atau irrasional, tergantung keadaan batin dan kontrol atas diri sendiri. Terkadang kita dipenuhi dengan prasangka atau dilain waktu bisa menjadi sangat adil dan berhati-hati.

    Seringkali perbedaan cara ini yang membelokkan pandangan dari tujuan yang sesungguhnya, yang seringkali sebenarnya sama.

    Semua orang ingin dimengerti dan karenanya mereka terus bicara. Lupa untuk mendengarkan. Kebanyakan orang berusaha mempengaruhi dan menolak pengaruh.

    Ah kampret..

     
    • re 6:15 pm on November 5, 2011 Permalink | Reply

      eh kampret, makanya dengeriin..

    • ahmad munif 10:03 am on November 23, 2011 Permalink | Reply

      gan saya pengen buat alat pengayak pasir yang kaya agan buat TA, klo boleh saya mau di ajarin dong,,,, tng ja gan bkan buat komersil ko….heheh trimakasih

  • Nyenius 6:08 am on June 30, 2011 Permalink | Reply
    Tags: , , , yang   

    Hati yang Berkarat 

    sekerat daging
    berdenyut menjaga hidup tuannya

    sebuah ruangan
    bersinar, hingga akhir hidup tuannya

    sekerat daging membiru
    denyutnya satu-satu
    sebuah ruang, temaram
    cahaya hanyalah percik-percik belaka

    pada antara dimensi daging dan roh
    sebuah jiwa teronggok,
    diliputi karat,
    hanya sebuah mata terlihat
    menatap harap

     

    30/06/11 – 06:00 am

     
  • Nyenius 5:28 pm on May 15, 2011 Permalink | Reply
    Tags: , , , yang   

    Kelewat Peduli 

    Baca satu tulisan blog kontributor lifehacker.com berjudul ‘how to not give a fuck’ cukup menggelitik penuhnya kepala gw dalam beberapa hari ini. Semakin seseorang fokus terhadap sesuatu, semakin tenggelam dia ke dalamnya, semakin intens, semakin tak tersentuh.

    Ya, tulisan itu membahas tentang hal umun yang seringkali menjadi kekhawatiran banyak orang. To be look bad.

    Orang beropini atas kita dan begitu juga kita atas mereka. Orang berusaha saling mempengaruhi, merasa bahwa mereka tahu solusi terbaik untuk orang lain. Dan tak terasa terlalu lama hidung kita nangkring di dapur orang lain sampai lupa dapur sendiri.

     
  • Nyenius 2:44 am on May 12, 2011 Permalink | Reply
    Tags: , Jawabmu Dan, yang   

    Anomali yang Menagihkan 

    “Kutegaskan, tak ada yang lain.”
    Kataku

    “Kutegaskan, akan ada yang lain.”
    Jawabmu

    Dan kita tersenyum

     
    • Kunyuk 9:19 pm on May 13, 2011 Permalink | Reply

      Wakakakaka Iya gw juga ikutan Ketawa dah eh tersenyum
      **garuk-garuk kepala

  • Nyenius 3:46 am on May 11, 2011 Permalink | Reply
    Tags: , , , yang   

    Pada Suatu Malam Berangin 

    I

    langit,
    dan angin malam
    hembusi seluruh jiwaku

    menguak sejarah tahunan
    lampau
    galau purba datang bersamanya
    menyelimutiku penuh seluruh

    Dan angin bercerita
    tanpa diminta:

    II

    Kenapa tak mengerti juga,
    aku mencintaimu
    menginginkanmu

    dinding yang kau sodorkan
    menghantam penuh dera
    sedemikian takutnya
    kau pada cinta?

    "Dibaliknya ada luka", katamu

    Oh, mata yang merenung itu
    bibir yang mengatup tertahan
    menyerap seluruh energi hidupku
    menyerpihkannya

    aku akan berbuat,
    aku akan bertindak,
    cukup katakan ya.

    kau menunduk
    matamu menjadi garis misteri,
    jemarimu menarikan ragu
    dan cintaku meradang dalam

    Itulah,
    saat kepura-puraanmu memuncak
    kau tengadah, tersenyum lirih
    "Kau takkan meninggalkanku?"

    "Tidak."
    Terucap dengan sepenuh diriku
    sepenuh cintaku

    III

    Hari-hari berganti,
    satu per satu kemudian mati

    Malam-malam bersamamu
    menjadi keemasan
    sebuah panggung megah para kaisar

    Aku bahagia

    IV

    Sebuah senja

    Sepucuk surat darimu,
    dan semuanya selesai.

    V

    Malam-malam penuh mimpi buruk
    Energi hitam meraja

    Segalanya kutabrak
    Sedih ini terlalu kuat

    Sebuah mimpi,
    Aku duduk di kereta dengannya
    dan kau menyusul
    duduk bersandar padaku.

    VI

    "Aku terus mencarimu,
    pada tiap rangkulan pria"
    Katamu pada selembar kertas

    Dadaku membara
    ada sedih dan sukacita

    VII

    Sebuah telepon berdering
    "Aku tak bisa teruskan jalan kita"
    Ucapmu ragu seperti biasa

    Sekali itu,
    sekali itu sayangku,
    Aku bisa bulat membuangmu
    merobek semua catatan tentangmu

    Sekali itu,
    setelah tahunan lamanya.

    VII

    Dan angin malam tertawa
    melihat kenang yang mencekam

    Salahku

    menaruh catatan sejarah
    pada langit malam

     

    ====
    3:43 am, 11/5/2011

     
  • Nyenius 6:13 am on April 10, 2011 Permalink | Reply
    Tags: , TM, yang   

    TM (Toga Mas) Bookstore 

    Sudah lama, emmm, sejak pindah ke jakarta pada pertengahan 2004 lalu, gue gak serius berburu buku (terutama buku murah). Waktu masih di Bandung perburuan buku yang gue lakukan biasanya menggunakan modus; liat/cari bukunya di Gramedia, dan beli di Palasari dengan harga yang jauuh lebih murah.

    Disini paling gue pergi ke Gramedia terdekat, ya gak pernah ngelirik toko buku lainnya. Beli buku pun lebih sering insidentalnya ketimbang terencana, paling bagus adalah gak sengaja baca resensi buku bagus dan segera beli bukunya ke Gramed. Gue yang dulu pernah mencanangkan satu bulan beli satu buku, sekarang menjadi semakin pelit mengeluarkan uang buat beli buku; terutama setelah makin akrab dengan internet (:evil_grin:).

    Dan sesuatu yang menarik muncul tiga minggu belakangan ini. Gue ‘berjumpa’ dengan ‘TM Bookstore’, sebuah toko buku yang ternyata istri gue sudah akrab sejak lama. Gue dan keluarga suka jalan ke Poinsquare lebak bulus, dan biasanya makan di Solaria. Waktu itu disamping Solaria TM Bookstore ngadain bazaar buku (mungkin selama 3 mingguan). Selama 3 weekend kita main kesitu, gw gak pernah nyadar akan eksistensinya.

    Baru setelah istri gue menceritakan ‘kecurigaan’ mengenai adanya TM Bookstore di Poinsquare, dan lantas menerangkan apa itu TM Bookstore. Gue berminat untuk datang kesitu beserta istri gue. Dan begitu melihat muka tokonya dari jauh, melihat plang diatas dua buah rak bertuliskan: “Harga Rp 5.000 s/d Rp 30.000”, gue merasa love on first sight. Langsung gue menghambur ke rak itu, dan segera memilah-milah buku yang akan masuk ke rak di rumah.

    Begitu sampai di depan pintu masuk tokonya, semakin banyak rak yang terlihat, segera gue sadar, betapa banyak penawaran buku diskon disitu, hohohoho book shopping!!! Potongan harga dan diskon memberikan gue kesempatan untuk membeli buku dengan topik-topik yang menggelitik minat tapi gak sampai menggerakan tangan merogoh saku. Sebuah novel grafis yang berhalaman tebal, full color hanya dihargai 10 ribu saja, gue cuma mikir; gila aja kalo gak gue beli (kikiki lebay). Hari itu dengan uang Rp 180 ribuan gue membawa pulang setumpuk buku, beberapa diantaranya dapat bonus disampul plastik di sana (jadi inget di Palasari Bandung).

    Sekarang, tiap kali maen ke Poinsquare Lebak Bulus, sebisa mungkin gue mampir kesitu, dan selalu gagal menahan godaan untuk membeli buku. Oh iya, dulu, selain karena faktor budget uang untuk membeli buku, faktor penghambat lain gue dari membeli banyak buku adalah karena gue merasa wajib untuk menyelesaikan tiap buku yang gue beli. Tapi sekarang (setelah baca pernyataan Umberto Eco Antilibrary), peduli amat lah, pokoknya gue beli dulu, buat di perpustakaan pribadi.

    Lokasi TM Bookstore ada di Depok Town Square Lt. UG atau di Superindo Lt. 2, Kedoya, Jakarta Barat, atau TM Bookstore Poinsquare Lebak Bulus lantai paling atas.

     
  • Nyenius 5:01 am on April 1, 2011 Permalink | Reply
    Tags: , , yang   

    Tidak Ada Ide yang Benar-benar Baru 

    Membaca posting sodara fahdi yang berjudul Ide, saya teringat waktu bicara pada rapat internal Xinix, mengenai ide. Juga teringat waktu mengikuti sebuah mata kuliah di jurusan Interior mengenai gaya-gaya desain dan ide kreatif. Teman saya itu mengatakan bahwa pastinya idenya tidak brilian, dan pasti sudah ada orang lain yang memikirkan ide tersebut entah di belahan dunia mana. Itu tepat seperti yang saya pikirkan ketika menghadapi sebuah ide yang terlintas. Ya lebih tepatnya lagi, setelah saya memikirkan/membayangkan implementasi dari ide tersebut, baru saya tilik dan saya asumsikan ada yang sudah kepikiran ide tersebut.

    Yang kemudian saya lakukan setelah itu adalah sedikit riset (mostly through the internet) untuk mencari apakah ada yang sudah mengimplementasikan ide tersebut. Kalau sudah ada, apa yang bisa saya perbuat dari situ? Meninggalkan ‘ide yang saya miliki’ dan lebur pada implementasi yang sudah dilakukan orang lain. Atau membuat sesuatu yang baru kalau ternyata implementasi orang lain itu tidak seperti yang saya inginkan. Itu yang biasa saya lakukan.

    Ide memang tidak pernah ada yang betul-betul baru, yang ada adalah pengembangan-pengembangan atau antithesis dari ide sebelumnya. Tantangan dan kebutuhan manusia terus berkembang, dan seiring dengan itu solusi-solusi lama (baca; ide) tentang cara manusia menghadapinya pun segera menjadi tidak relevan lagi. Maka dari itu mereka berinovasi berdasarkan kriteria-kriteria baru dari solusi yang lama.

     
  • Nyenius 1:00 am on November 11, 2010 Permalink | Reply
    Tags: , cerpen, , kamus besar bahasa indonesia, kreatifitas, musikalisasi puisi, perang diponegoro, , seni adalah, yang   

    Dekompresi Puisi: Cerpenisasi Puisi 

    Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi III terbitan tahun 2001,  puisi adalah gubahan dalam bahasa yang bentuknya dipilih dan ditata secara cermat sehingga mempertajam kesadaran orang akan pengalaman dan membangkitkan tanggapan khusus lewat penataan bunyi, irama, dan makna khusus.

    Ada pula yang mengartikan secara simpel bahwa puisi adalah pemadatan bahasa. Dan saya sendiri mengartikan puisi adalah kompresi/pemadatan suatu peristiwa, emosi ke dalam kata-kata (tentu untaian kata-kata yang dalam konteks definisi dari Kamus Besar Bahasa Indonesia tadi ya, jadi quotes ya tidak termasuk puisi).

    Jadi dari pengalaman, peristiwa fisik atau peristiwa emosional dipadatkan ke dalam gubahan puisi. Dalam gubahan kata-kata yang menyusun bahasa, singkat, jelas, tapi tetap menggambarkan esensi keseluruhan dari peristiwa tersebut.

    Contoh, perang Diponegoro yang berlangsung bertahun-tahun, diceritakan kembali dalam sebuah puisi, yang berisi 5-6 baris sajak. Atau sebuah pemikiran hasil proses berhari-hari bahkan bertahun-tahun dituangkan dalam beberapa bait saja.

    Dan apa yang dilakukan seseorang ketika dia membaca sebuah puisi? Yang pasti berusaha memahami maksud puisi tersebut, dalam kata lain berusaha menerjemahkan. Bahkan bagi yang memiliki landasan keilmuan tentang puisi, dia akan berusaha menganalisis puisi tersebut ke dalam apresiasi yang berbobot.

    Lantas, dari pemahaman yang didapat itu, kemana ‘larinya’? Tujuan dari seni adalah pemuasan kebutuhan batiniah baik bagi sang kreator maupun penikmatnya. Dan dalam hubungan jejaring kreatifitas, sudah biasa terjadi karya seorang kreator dalam satu bidang seni, menginspirasi kreator lainnya dari bidang seni yang berbeda. Seseorang membuat puisi dari sebuah lukisan misalnya. Atau seseorang membuat lukisan dari sebuah puisi.

    Dalam halnya puisi, telah banyak transformasi lanjutan yang dilakukan oleh para seniman berbagai bidang, dari bidang seni musik (dan sudah terkenal) ada musikalisasi puisi, dari bidang teater ada dramatisasi puisi, dan lain sebagainya.

    Berangkat dari definisi saya pribadi bahwa puisi adalah kompresi emosi dan peristiwa ke dalam susunan bahasa yang diatur secermat mungkin. Juga sebagai lanjutan dari apresiasi dan pemahaman puisi, ada bentuk lain yang masih bisa digarap selain apresiasi dalam bentuk analisa kritik dan kepuasan batin saja. Yaitu dekompresi puisi.

    Dekompresi puisi adalah suatu usaha menafsir ulang rangkaian emosi dan peristiwa dalam puisi ke dalam bentuk cerita (cerpen, novel, naskah teater/film). Apakah harus sama persis dengan maksud / peristiwa yang dialami oleh sang penyair? Tentu tidak, penafsiran ulang yang dituangkan dalam sebuah cerita dari sudut pemahaman pembedah akan arti sebuah puisi.

    Dan bentuk cerita yang paling mungkin adalah cerita pendek atau cerpen. Secara bentuk, cerpen lebih memiliki kemiripan dengan puisi, yaitu sebuah fragmen, potongan kecil dari sebuah garis peristiwa yang panjang. Bentuk penceritaan kedua yang lebih mungkin adalah naskah drama atau skenario film. Sedangkan untuk bentuk novel, saya pikir akan diperlukan kecerdasan yang lebih lanjut untuk mengolah sebuah puisi menjadi novel.

    Sejauh ini, saya baru dua kali melakukan dekompresi puisi ke dalam bentuk cerpen. Jadi, ketimbang saya hanya bicara saja, saya akan tunjukkan maksud tulisan ini dalam contoh konkret cerpen hasil penafsiran atas puisi Rendra berjudul Ballada Sumilah. Diceritakan ulang dalam cerpen yang berjudul sama; “Ballada Sumilah”. Silahkan dibaca di sini.

    ***Jangan ragu untuk memberi kritik tertajam Anda atas cerpen saya tersebut, pada bagian komentar tulisan ini (a critic invitation) 🙂

    ++Mobile

     
  • Nyenius 1:01 am on November 8, 2010 Permalink | Reply
    Tags: cinta fitri, , kiai, , momok, quick count, , sinetron religi, tivi, yang   

    Televisi Sebagai Laknat Dan Nikmat 

    Semenjak ditemukannya, televisi telah mewarnai hari-hari manusia. Menjadi teman, alat, momok, dan segudang plus minus lainnya tentang televisi.

    Tulisan ini saya buat ketika melewati tivi di kamar dan seketika sadar: “Dah lama juga gue gak nonton tivi.” Sebetulnya bukan saya aja yang dah lama gak nonton tivi, tapi juga istri saya. Selain karena memang waktu untuk menonton tivi yang seperti tidak ada, selalu ada pertanyaan di benak kami: “mau nonton apaan di tivi?” Karena merasa lebih banyak sampah yang ditayangkan tivi sekarang ini. Apapun itu, begitu tampil di tivi, bisa jadi jungkir-balik, jumpalitan, salto, dan kami tertimpa skeptis berat tentang program dan kebenaran televisi.

    Presiden kita melalui lembaga polling yang disewanya menggunakan televisi sebagai -yang menurut saya- kecurangan berkampanye. Yaitu ketika pemungutan suara masih berlangsung, quick count dari lembaga survey tersebut sudah ditayangkan. Padahal itu dipercaya dapat menggiring opini rakyat yang belum memilih.

    Production House yang mengejar pemasukan perusahaannya dengan membuat sinetron religi keblinger dengan pencitraan kiai-kiai sebagai orang sakti, tasbeh berguna untuk ngusir setan dan segala macamnya, juga tampil disitu. Berulang-ulang, tak peduli apakah penontonnya muak atau tidak. Cinta Fitri yang dibuat sejak jaman adik saya SD sampe sekarang udah SMA, masih juga tampil dengan musuh yang itu-itu saja.

    Teman saya pernah bilang, dia tidak suka baca buku, dan lebih memilih melihat berita di televisi. Karena dengan membaca buku dia takut terpengaruh oleh pikiran ‘orang yang gak jelas’. Saya balik bertanya, mengenai kejelasan sumber, lebih jelas mana tivi atau buku? Buku, kita bisa baca riwayat pengarangnya pada sampul/halaman belakang buku. Masih kurang puas, bisa searching lebih lanjut tentang si pengarang di internet. Sehingga kita tahu dari mana, siapa, orang berlatarbelakang seperti apa, kita menerima atau menolak pemikiran yang dituangkan dalam sebuah buku.

    Sedangkan televisi? Tahukah kita siapa editor sebuah acara berita (apalagi gosip)? Tahukah kita apa motif dia meluluskan sebuah berita, dan menolak tumpukan berita lainnya? Tahukah kita visi pemilik sebuah stasiun tivi? Ditambah lagi dengan fenomena monopoli tersamar yang dilakukan grup MNC terhadap stasiun-stasiun tv besar di Indonesia. Itu semakin menambah keraguan saya akan ‘kebenaran televisi’. It’s a bunch of driven informations without us knowing where they want to drive us.

    Memang tidak selamanya program televisi itu buruk, saya termasuk penggemar setia acara-acara besutan aktor senior Deddy Mizwar. Karena kebetulan saya mengikuti perkembangan beliau semenjak film-filmnya di tahun 70-an. Semenjak beliau main film panas sampai akhirnya mendapat pencerahan untuk membuat sinema-sinema religi yang cerdas.

    Walaupun suka, ada beberapa hal yang saya kritisi, yang saya anggap bisa menjadi ‘bahaya’ tertentu; bahaya salah paham. Contoh konkritnya pemenggalan cerita pada sinetron terbaru beliau yaitu Para Pencari Tuhan. Banyak sekali pemenggalan cerita yang menggantungkan status suatu masalah yang diangkat dalam satu episode, yang dengan tujuan membuat orang penasaran dan ingin menonton kelanjutannya. Tapi pemenggalannya itu pada bagian penting. Dan saya tahu banyak yang penasaran, dan banyak yang pula tidak sempat menonton kelanjutannya, yang notabene merupakan penjelas dari informasi (baca;dakwah) yang tak selesai pada episode sebelumnya.

    Tapi karena televisi juga, saya yang belum pernah ke luar negeri bisa tahu seperti apa perayaan tahun baru di London. Saya bisa tahu mengenai padang rumput anatolia yang indah. Karena televisi, orang-orang hebat dapat menyebarkan inspirasinya kepada khalayak luas.

    Televisi sebagai sebuah bentuk media massa, dapat memberikan (baca; menyebarkan) dampak positif dan negatif secara massif. Televisi tidak bisa disalahkan, dia hanya benda, sedangkan stasiun televisi merupakan bidang luas yang tak terjamah oleh tangan kita yang kecil. Tak ayal; kita yang harus siap.

     
  • Nyenius 5:16 pm on May 20, 2010 Permalink | Reply
    Tags: cairan, , Langsung, , megap, putih, reproduksi, , susu, yang   

    Update: Jum’at, 21-Mei-2010 

    Update Jum’at 21 mei 2010:

    Main Tank:

    1. Jam 01.00 AM. Laper, turun ke bawah, dan liat tank kayak butek, pas nyalain lampu benerannn butek airnya, warna putih susu. Langsung teringat kejadian anemon kejepit di wave maker dan semua ikan mati, dulu kayak gini juga, airnya putih susu. Tapi saya perhatikan anemon tetap ditempatnya dan tidak menunjukan gejala aneh seperti sakit atau sekarat. Cari-cari ikan, dua L6 masih hidup dan keluar perlahan dari persembunyiannya, sedangkan Unicorn langsung keluar begitu lampu dinyalakan. Cek refugium, dan disitu juga butek putih susu, tapi tidak se-keruh main tank. Saya curiga penyebabnya adalah rumput anggur alias caulerpa sedang bereproduksi, yang berwarna putih susu itu adalah spermanya. Dan kenapa refugium tidak begitu keruh, mungkin karena sperma nya tersebut naik ke atas (seperti reproduksi coral) dan langsung tersedot keluar refugium. Skimmer pun berbusa biasa saja, tidak luar biasa.

      Pembacaan probe ph menunjukkan fluktuasi yang lumayan, 1 poin; dari 8 jadi 7,9, balik ke delapan lagi, 7,9 lagi (berubah-ubah, mungkin karena cairan putih ini tidak begitu larut dalam air, dan ini menunjukkan cairan itu berpengaruh terhadap ph air).

      Saya perhatikan lagi lebih dekat kondisi ikan. L6 agak megap-megap nafasnya seperti waktu masih di tank karantina yang nitrit nya tinggi, dan Unicorn pun megap-megap, padahal waktu di tank karantina yang nitritnya tinggi pun dia nafasnya tetap santai. Nothing I can do, dan daripada ditanganin terburu-buru lantas malah kacau semuanya, segera gue matiin lampu tank dan lanjut makan, berdoa semoga tidak kenapa-napa.

      Apakah ini efek dari pemberian coral liquid kemarin siang??

      Image Image

      Image Image
      Image Image
      Begitu lampu nyala, langsung bangun

      .
    2. Siangnya kondisi mulai normal, walau masih agak berkabut putih sedikit, tapi ikan sudah tidak ada yang ngos-ngosan, dan sudah mau makan.
      Image
      baris-berbaris lagi

      Image
      clown dan host nya baik-baik saja.

      Image
      Kondisi keseluruhan


      .
    3. Hari ini beli dua buah mesin Air Pump yang pake batre, bukan yang otomatis nyala pas lampu mati. Rencananya mau dimodif supaya otomatis menyala begitu lampu mati, numpang di relay-nya float switch. Nanti saya update begitu sudah selesai dibuat.

      .
    4. Refugium:
      1. Mengembalikan siklus lampu refugium menjadi 24 jam lagi, karena terlihat bebreapa batang yang tidak begitu tegak lagi (sebeleumnya tegak ke atas).


    Quarantine Tank:

    1. Air terus berputar-putar, trickle filter belum juga dibuat.


     
c
Compose new post
j
Next post/Next comment
k
Previous post/Previous comment
r
Reply
e
Edit
o
Show/Hide comments
t
Go to top
l
Go to login
h
Show/Hide help
shift + esc
Cancel