Tagged: thoughts Toggle Comment Threads | Keyboard Shortcuts

  • Nyenius 12:00 am on September 30, 2008 Permalink | Reply
    Tags: thoughts   

    Siksaan Tukang Main Cinta 

    Yap, tambah lagi seri tulisan memuakkan tentang cinta....
    
    
    
    No play...

    No play...

    "Lo jangan suka maenin perasaan perempuan", ujar Bang Jack.
    "Emang kenapa?", tanya Barong.
    "Entar lo dimaenin sama perasaan lo sendiri"
    "Kapan?",tanya Barong lagi.
    "Setiap saat." jawab Bang Jack.

    Itulah sepenggal dialog yang gue kutip dari sinetron Para Pencari Tuhan. Ketika tokoh Bang Jack ditanya kenapa, gue penasaran sama jawabannya, masa iya sih dia bakal jawab kayak jawaban ABG kebanyakan; ‘entar lo balik dimaenin orang’, ato ‘entar adek/kakak perempuan lo dimaenin orang’. Ternyata jawabannya sangat bijak dan mengena “Entar lo dimaenin sama perasaan lo sendiri“. Sejauh yang gue tau, itu jawaban yang paling mengena.

    jumpalitanIzinkan gue bercerita, tapi harap ceritera ini jangan disalah-artikan :P, dan gue menceritakan ini tidak dalam konteks bangga. Gue pribadi pernah mendua-kan wanita, berkomitmen dengan orang lain, dalam kondisi udah lebih dulu berkomitmen dengan yang lain. Kedengerannya enak, asik, dan cihuy, padahal rasanya tepat seperti jawaban tokoh Bang Jack tadi, gak habis-habisnya gue dipermainkan perasaan gue sendiri. Ketika bersama si A, terpikirlah dikepala ini si B, pergilah bersama si B, si A masih berputar di kepala. Batin tercabik-cabik, hati rasa terbelah-belah. Bahkan kebaikan pun terasa seperti siksaan. Ketika si A berbuat sesuatu yang tulus dan baik untuk gue, duh yang terasa harusnya senang dan haru, ini malah rasanya dada kayak di remes-remes oleh rasa bersalah. Pikiran berputar-putar; harus gimana-harus gimana, siang malam kepikiran bolak balik. Ketika kita bersama seseorang tapi yang kepikiran orang lain, bukankah itu siksaan?!

    Dan juga jawaban yang gue bilang jawaban anak ABG itu sangat berbau ‘hukum karma’, yang mana di Islam setau gue tidak mengenal hal tersebut. Di Islam lebih langsung, siapa yang berbuat dia yang bakal menangguk sendiri akibatnya. Sebagaimana difirmankan Allah dalam Qur’an, surah Al-Zalzalah ayat 7-8:

    “Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya.”
    “Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan seberat dzarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula.”**

    **Note, terjemahan disalin dari buku tafsir ‘Al-Qur’an dan Terjemahannya’, terbitan 18 Mei 1998

     
    • nyurian 3:56 am on September 30, 2008 Permalink | Reply

      makanya, jangan mao di permainin perasaanluw ndiri…

      😉

    • nazla 4:19 am on September 30, 2008 Permalink | Reply

      pengakuan elu ini yg gw tunggu selama bertaun2, ba.

    • ritchie 8:53 am on September 30, 2008 Permalink | Reply

      ..lu ngeduai..tuh cewe dua duanya..ato salah satunya aja yang cewe..

    • Aves 3:43 pm on September 30, 2008 Permalink | Reply

      ko gambarnya Rossi lagi terbang sih 😀

      Baru punya Pacar 2 aja udah repot apalagi punya bini 2 ya… LEMESSS… Hahahaha

    • http://reekoheek.wordpress.com/ 12:25 am on October 1, 2008 Permalink | Reply

      pengen muntah 🙁

      nyenius : yesss, sukses :p

    • rEd LabeL 9:36 am on October 7, 2008 Permalink | Reply

      mANa n9ErTi ‘rAJa miNYak’ soAL peRasAAn..

      paLin9 TaHU nya sOaL unTun9 Ru9i.. 😛

  • Nyenius 1:57 am on September 29, 2008 Permalink | Reply
    Tags: thoughts   

    Keperawanan Cinta 

    Yap, seri tulisan memuakkan tentang cinta berlanjut…

    Keper...

    Keper...

    Gue suka denger ungkapan, biar bagaimana pun cinta itu dasarnya murni, jangan tanya gue soal data statistik berapa orang yang ngomong begitu, jujur gue gak tau. Tapi dari beberapa diskusi yang lalu-lalu (bahkan yang dulu banget), udah sering rasanya kuping ini denger pernyataan itu. Lantas bisakah sesuatu yang murni itu rusak? Tentu bisa, susu murni pun ketika udah diaduk-aduk sama bahan laen, udah bukan susu murni lagi. Dia bisa tetep (mendekati) murni dengan cara perlakuan tertentu, gak bisa sembarangan. Pertama kali gue ngerasain susu murni, pueh, rasanya hambar, gue pun dengan sok tahu menambahkan gula ke dalam nya, berapa banyak pun tetep aja rasanya begitu, dan baru gue dikasih tau, bukan gitu caranya mbikin susu murni jadi manis. 

    Cara, itulah hal yang kadang terlewat oleh kita. Niat baik, disampaikan dengan cara yang tidak baik, maka rusaklah kandungan baiknya itu. Anda memberi kepada orang, tapi diiringi hinaan, rusaklah nilai pemberian itu. Anda ingin mendemo DPR/MPR demi menyampaikan aspirasi, tapi dengan cara membakar gedung bulus itu, maka rusaklah maksud anda semula, belum lagi reaksi yang didapat atas tindakan tersebut tentu sangat lain. Demi beramal membangun rumah ibadah, anda merampok bank. 

    Segala sesuatu di dunia ini dapat disampaikan dengan berbagai macam cara. Bisa dengan bahasa lisan, bahasa tubuh, simbol-simbol, atau rangkaian tindakan. Untuk menjaga kemurnian kandungan cinta, maka cara menyalurkan/menyampaikannya pun harus terjaga. Susu murni dicampur macem-macem aja udah lain jadinya, apalagi susu murni dicampur telur busuk??? Bagaimana jika Anda mengatakan mencintai seseorang tapi dengan ‘merusak’ orang yang Anda cintai tersebut? Entah tubuhnya, kehormatannya, waktunya, mental-nya, itu semua demi ego ‘penyaluran rasa cinta’ Anda sendiri? Bagaimana jika anda mengungkapkannya dengan kekerasan, pemaksaan, menipu? Apakah masih tetap sama nilai cinta yang anda bawa itu?
     

    purity

    purity

     
    • nazla 8:55 am on September 29, 2008 Permalink | Reply

      rajin mosting ya sekarang.

      anyway, lu mau beli Mac gw ga? powerbook G4. hardisk udah upgrade 80gb.

      tapi ya gitu, body udah baret2. soalnya kalo lagi kesel ama laki gw, tu apple gw cakar2in haha. plus batre ngedrop.

    • ritchie 12:02 pm on September 29, 2008 Permalink | Reply

      lu pengen bilang apa sih sebenernya ..? gw aga di bottom of the earth deh ama tulisan ni…hehe

    • Aves 1:01 pm on September 29, 2008 Permalink | Reply

      Sepertinya Toba sedang jatuh cinta…

    • nama gue bayu 1:07 pm on September 29, 2008 Permalink | Reply

      Oi ba, koq gw gak bisa log in?

      Please kirim password yg baru ke [email protected]

      Oia linking elu ke alamat gw salah tu, directing aja lsg ke (yg gw temuin; yg ada dead link aja.

      Ciaw..

    • nama gue bayu 1:10 pm on September 29, 2008 Permalink | Reply

      Oi ba, koq gw gak bisa log in?

      Please kirim password yg baru ke [email protected]

      Oia linking elu ke alamat gw salah tu, directing aja lsg ke goonmyson.blogspot.com (yg gw temuin; nyenius/goonmyson.blogspot.com yg ada dead link aja.

      Ciaw..

    • nyenius 4:12 pm on September 29, 2008 Permalink | Reply

      Bay, gunakanlah, fitur ‘lost password’, di http://nyenius.com/wp-login.php?action=lostpassword

    • seseorang 10:57 pm on September 29, 2008 Permalink | Reply

      mas, saya colong yah picsnya.. ra opo2 toookh? *maksa2* (udh terlanjur juga)

    • Fe... 12:22 am on October 7, 2008 Permalink | Reply

      salam kenal juga!!senangnya klu bs menyampaikan Cinta bwt org yg kt Cinta..g kaya gw..(lho ko curhat????hahaha…

  • Nyenius 10:33 pm on September 27, 2008 Permalink | Reply
    Tags: thoughts   

    Beban Pengetahuan 

    Crazzyyyy

    Crazzyyyy

    Menjadi pintar, penuh dengan ilmu dan pengetahuan, siapa yang nggak pingin? Yang terbayang dibenak gue ketika memandang orang yang penuh pengetahuan adalah mendongak ke atas, menatap dengan takjub, kagum, dan hormat. Dan gue akan makin takjub, kagum, dan hormat ketika bertemu orang penuh pengetahuan yang terus berusaha menyejajarkan posisinya dengan siapapun yang dia temui. Itu semua adalah cita-cita banyak orang, dan gue pribadi terus berusaha mengasah rasa curiousity itu agar semakin tajam dan berguna.

    Dulu waktu masih duduk di bangku smp, gue pernah bertanya ke bokap apa gunanya bagi gue -yang masih sekolah dan biaya hidup masih ditanggung- melaksanakan shalat dhuha, yang jelas-jelas doanya berisi permintaan rizki. Bokap gue tersenyum dan menjawab bijak yang redaksi nya kurang lebih begini: “Jangan terlalu sempit mengartikan rizki Tuhan, semuanya tentu disesuaikan dengan kebutuhan si pendoa. Buat kamu yang masih dalam proses menuntut ilmu, tentu Tuhan akan memberikan rizki dalam takaranmu, yaitu ilmu.”

    Setelah itu gue terus berdoa dan berusaha supaya ilmu di kepala ini terus bertambah. Sampai tibalah gue pada suatu titik, menemukan suatu ungkapan (gue lupa, apa ini hadits atau perkataan ulama), bahwa orang yang tahu dan tetap melanggar, salahnya (dosanya) dua kali lipat dari orang yang nggak tahu. Dari situ, ada semacam penolakan dan keengganan dari dalam diri gue untuk tahu terlalu banyak, takut dilaknat sama ilmu itu sendiri….. Sebab gue tahu betul bahwa gue belum sanggup mengamalkan semua pengetahuan yang masuk ke kepala gue. Ini terutama dalam hal ilmu agama. Allah berfirman; Yarfa’illahullaziina aamanuu minkum wallaziina uutul ‘ilma darojaat. Artinya “allah akan meninggikan derajat orang-orang diantara kamu yang beriman dan menuntut ilmu.” Ampuun, ampun, ampun, kalau ilmu sendiri masih dikhianati, berarti hilanglah manfaat ilmu itu, bagaimana bisa jadi orang yang dipercaya kalo begitu? Coba aja liat, kalau ada anak kecil jalan-jalan sama orang yang lebih dewasa, terus anak itu celaka atau berbuat sesuatu yang berakibat celaka, pasti yang disalahin adalah orang dewasa itu, karena dia dianggap lebih tahu dari si anak kecil dan seharusnya bisa menjaga anak itu dari perbuatan yang tidak diketahuinya bisa membawa celaka.

    Tapi segera gue sadari lagi, bahwa keistimewaan dan kemewahan kesempatan untuk mendapatkan ilmu pengetahuan bukanlah sesuatu yang boleh disia-siakan. Tuntutan tambahan bagi orang-orang yang berilmu itu, justru menjadi satu sistem tersendiri yang memastikan ‘keistimewaan’ dan semacam fit and proper test sebelum mereka masuk menjadi orang-orang yang diangkat derajatnya. Daripada gue jadi orang yang rugi karena merasa masih brengsek terus jadi berenti menambah pengetahuan ke kepala, lebih baik gue memilih tetap terus menimba ilmu dan berusaha sedikit demi sedikit memperbaiki perbuatan. Soal ini malah gue dapet pertanyaan menarik dari seorang temen waktu acara buka bersama dua tahun yang lalu. Redaksinya kurang lebih begini: “boleh gak kita tidak menuruti rasa ingin tahu kita soal ilmu agama?”, gue ngerti maksudnya, biar dia tidak mendapat kewajiban menjalankan hal tersebut.

    Saat ini, ketika jaman informasi semakin mudah, mungkin seharusnya kita makin soleh ya? Ato karena informasi semakin mudah, hal-hal tersebut makin jadi biasa dan bisa ditinggalin dengan mudah? Saat ini gue bertanya lagi, kapan mau serius benahin diri?

     
    • Aves 1:15 pm on September 28, 2008 Permalink | Reply

      “Saat ini gue bertanya lagi, kapan mau serius benahin diri?”

      Sekarang Yuks…

    • nyenius 1:47 pm on September 28, 2008 Permalink | Reply

      males ah, ngajaknya kayak ABG… hiihihihi

  • Nyenius 10:44 pm on September 26, 2008 Permalink | Reply
    Tags: , thoughts   

    Bicara Cinta 

    Cinta dan Taik        

     

     

     

     

     

     

     

     

    Cinta dan Taik

    Baru saja ngobrol-ngobrol panjang dengan teman gue Vino (Beep) dan Anggi, pusat perhatian pada pertemuan itu adalah Vino beliau sedang mengalami patah hati berat, yah seperti apapun bentuknya, yang namanya patah hati itu berat. Gue dan Anggi ngedengerin ceritanya, kita simak kisahnya. Sebagian orang mungkin bakal mencibir dengan mengatakan; “Cuma begitu aja, berlebihan banget.” Ya mungkin mereka lupa seperti apa rasanya ada diposisi Vino. Atau mereka belum pernah ngerasain, atau mereka pernah ngerasain dan sadar bahwa hal seperti itu remeh saja. Atau seperti yang terjadi pada kebanyakan orang; Cuma mau mengerti maunya sendiri, tanpa peduli maunya orang. Kalo kata Fredy Mercury “Because you don’t know what it’s mean to me..” Bagi para pendengar yang Cuma ngedenger kilasan ceritanya aja, mungkin kisah dia gak banyak berarti, atau gak berarti apapun. Tapi bagi si Vino yang hidup langsung didalam cerita itu, beda lagi rasanya.

    Gue masuk ke dalam ‘adegan patah hati’ nya Vino mungkin sudah pada minggu kesekian, istilahnya penyakit, stadium nya udah berubah. Sekarang dia berkata; “Cinta itu gak ada”, mungkin kedengerannya konyol tapi ya itu yang lagi dirasain. Mungkin banget pernyataannya berubah dalam beberapa hari ke depan (barusan aja gue sms udah ada tambahannya ‘cinta itu gak ada, tapi indah’) hahahahahaha.

    Ok back to the topic, ketika dia bilang begitu, tiba-tiba gue jadi mikir sendiri apa arti cinta menurut gue? Aaaa… Nggggg…. Ummmm…. Celingak-celinguk,…… Gue gak bisa nemuin apa pun. Bagi gue, cinta itu kompleks, rumit, njlimet, ruwet. Gue sadar bakal banyak yang membantah omongan gue itu, dan gue yakin banyak orang yang bisa mengatakan definisi cinta dalam ungkapan yang ringkas, bahkan nggak sedikit yang bakal berenti baca tulisan ini ditengah-tengah karena muak ngebahas cinta dalam ungkapan bahasa, huehehehehehehe. Cinta itu seperti energi yang terus mengalir, alirannya bisa memangun juga bisa merusak. Dan sebagaimana energi, dia tidak dihancurkan atau dimusnahkan, hanya bisa berubah ke bentuk yang lain. Energi orang yang jatuh cinta dengan yang patah hati, sama besarnya, hanya beda bentuk dan aromanya. Orang yang jatuh cinta, mampu berbuat apa saja demi rasa cintanya itu, semuanya dilakukan dengan senang dan rela, orang yang patah hati mampu berbuat apa saja, demi mengungkapkan kesedihannya, biasanya dilakukan dengan murung dan destruktif. Rasa cinta dan patah hati adalah dua muka pada satu koin yang sama.

    Gue bilang cinta itu ruwet, karena memang ruwet. Ngobrol ngalor ngidul, nyari solusi untuk melepaskan orang itu dari cengkraman muram, tapi tetep aja, cara apa pun masih nggak bisa nembus dinding kesedihan yang meliputi hati orang yang patah hati itu. Logika udah dipake, kemungkinan terus dicari, tapi ketika ujung-ujungnya soal cinta, siapa pun jadi tak terbantahkan, dengan logika paling sederhana sekalipun.

    Pengen rasanya bilang, kalau mau tahu cinta, menikahlah, coba lihat disana seperti apa jadinya pendar-pendar cinta yang lo rasakan sekarang ini. Ketika cinta semakin masuk ke dalam tahap yang lebih serius dan menuntut komitmen yang lebih, pencurahan pikiran, raga dan waktu. Gue belum lama menikah, dan masih gagap mengeja cinta ke dalam keseharian, masih banyak rasanya batas-batas yang gue langgar. Gue berkata ke Anggi; “Kalau mau tahu definisi cinta, coba tanya sama ibumu, lihat apa jawabannya.” Gue menantang dia untuk bertanya sekaligus gue pun ingin tahu apa jawabannya (soalnya nyokapnya lebih trendi daripada anaknya). Sebab tidak mungkin rasanya gue nanya hal itu ke ibu gue sendiri, rasanya orang tua gue bukan orang yang suka menjelaskan panjang lebar tentang hal-hal seperti itu, akan lebih mudah bertanya tentang hal-hal praktis kepada mereka. Dan tanpa bertanya pun gue udah melihat betapa cinta telah mewujud dalam kerja dan laku sehari-hari mereka, dalam diri mereka cinta sudah melampaui batas definisi dan arti, cinta telah menjadi dirinya yang seutuhnya. Tapi gue gak ungkapin hal itu, Cuma senyum aja membiarkan Vino menikmati definisinya sendiri.

    Coba baca salah satu puisi lama Vino yang mengena pada kondisi dia sekarang Aku, Dia dan Hilang.

    Sampai akhir pertemuan, pikiran gue gak bisa jelas membayangkan soal cinta, rasanya mendadak penuh kepala ini. Di kafe tempat kita ngobrol itu, tak habisnya mengalun lagu-lagu penyayat hati, terbayang sepintas; cinta itu egois.

     
    • Jafar Shadiq 12:49 am on September 27, 2008 Permalink | Reply

      cinta itu ga ada… kenapa ruwet? karena susah mendefinisikan sesuatu yang ga ada 🙂

    • Aves 3:46 pm on September 27, 2008 Permalink | Reply

      Jatuh Cinta, begitu indahnya…

    • nazla 11:29 pm on September 27, 2008 Permalink | Reply

      dulu gw ketawa2 aja dinasehatin cinta ama emak, sekarang baru ngerasain sendiri dah.

    • nyenius 4:48 am on September 28, 2008 Permalink | Reply

      hehehehehe, ini tiga komen pertama, gado-gado begini isinya:

      @anes, iya nes…

      @aves, memang begitu ya 😀

      @lulu, yah, namanya juga blum tau ya lu ya :p (lo mah emang bengal dari dulunya :p )

    • ritchie 10:41 am on September 28, 2008 Permalink | Reply

      cinta itu ga ada..gw ga percaya cinta..yang ada tendensi…bahkan ada orang tua bilang cinta itu belakangan (kalo pun ada emang, emang diada-adakan..suck

  • Nyenius 8:00 pm on September 24, 2008 Permalink | Reply
    Tags: thoughts   

    Dalam Sehari, Seminggu, Setahun… 

    lightMungkin agak terlambat untuk berbicara fenomena sosial yang terjadi ditengah bulan suci Ramadhan saat ini, tapi ya daripada nggak. Di minggu-minggu awal puasa, gue tidak seperti biasa salat zuhur tepat pada waktu nya di masjid kampus, ramai sekali saya lihat. Gue wudhu, dan naik ke tingkat 2 masjid, subhanallah ruame, ditiap sudut banyak orang yang baca qur’an, entah itu mahasiswa atau dosen atau karyawan. Ada juga orang-orang yang cuma tidur-tiduran atau kumpul sambil ngobrol, ada juga yang lagi asyik maenin laptop. Perhatian gue lebih tertarik kepada orang-orang yang ngaji (baik pake qur’an kecil atopun hp). Sempat tersirat pikiran kurang baek dikepala gue, “selaen bulan puasa ‘pada kemana’ lo?.” Tapi gue buru-buru meralat pikiran tersebut karena jelas amalan mereka pada siang itu lebih bermanfaat bagi ibadah puasa ketimbang gue yang lebih memilih nongkrong di fakultas bareng temen-temen, sambil kadang ngomong dan ngeliat yang nggak-nggak.

    Dari sana, pikiran saya memburai lebih jauh. Alangkah eloknya komposisi kehidupan yang dibeikan Tuhan yang Maha Agung bagi umat muslim. Kerja-istirahat-kerja-istirahat-begitu seterusnya. Pada setiap bilangan waktu, Tuhan memberikan waktu-waktu istirahat, yang sedianya menjadi oase bagi jiwa dan raga untuk kembali menyeruput energi kehidupan, mengisi kembali kekosongan-kekosongan batin, dan me-reset kadar kejenuhan tubuh. Istirahat yang gue maksud disini adalah ibadah, restore point bagi manusia.

    Dalam Sehari
    Coba kita lihat, dalam satu hari, Tuhan memberikan titik-titik istirahat dalam lima waktu shalat. Dikatakan oleh Nabi yang mulia bahwa “shalat itu adalah tiang agama”. Agama menggiring manusia ke jalan Tuhan, berisi ajaran-ajaran dan tuntunan dari Pencipta Segala bagi manusia dalam menghadapi kehidupan. Sesuai dengan sabda Nabi tadi, berarti dalam sehari manusia diberikan lima titik untuk menguatkan bangunan agamanya, dalam kata lain; kehidupannya.

    Dalam Seminggu
    Dalam seminggu diberikan sayyidul ayyaam, penghulu dari hari-hari, yaitu hari jum’at. Ummat muslim terutama para kepala keluarga diberikan slot ibadah khusus yang diadakan didalamnya ceramah yang menjadi siraman penyegar jiwa setelah 6 hari diterpa masalah-masalah. Tuhan tahu bahwa manusia itu pelupa, kalo sudah menuruti ragawinya, rohaninya sering lupa diberi makan.

    Dalam Setahun
    Dan dalam setahun, kaum mukmin diberikan anugerah restore point yang rentang waktunya panjang, satu bulan penuh, dan perhitungan segala amal didalam bulan itu mutlak berada di tangan Nya. Kita diberikan kesempatan untuk ‘cuci gudang’ semua dosa-dosa sambil melipatgandakan catatan baik di buku rapornya. Anugerah itu pun masih ditambah lagi dengan latihan, tirakat, melawan musuh berat sepanjang masa; diri kita sendiri. Kaum mukmin seolah dimasukkan ke kawah candradimuka, dengan tujuan, selepas dari sana kualitas diri kita menjadi semakin ciamik dan yahud (tanpa ‘i’), dunia akherat. Dan ini terjadi pada setiap tahun sepanjang usia hidup efektif seseorang (efektif disini maksudnya sesudah akil baligh), kita diberikan kesempatan meng-upgrade kualitas pribadi kita dari tahun ke tahun, mengiringi pendewasaan diri kita.

    Tuhan mengetahui dan sangat mengetahui hakikat dan sifat-sifat dasar manusia, dan sistem dalam Islam yang Dia turunkan terlihat dirancang sedemikian rupa untuk membantu manusia meraih potensi tertingginya, baik dalam urusan duniawi maupun akhirat. Dan ya Tuhan, ternyata pada Ramadhan ini, masih bobrok juga bangunan diri hamba…

     
    • Aves 11:22 pm on September 24, 2008 Permalink | Reply

      ***Sambil mikir,
      Ritual bulanan apa ya ?

    • nyenius 11:31 pm on September 24, 2008 Permalink | Reply

      Sejauh yang gue inget sih gak ada ves, kan udah dikasih 4 kali jum’at buat refreshing. Akumulasinya di bulan puasa 😀

    • nazla 10:30 pm on September 25, 2008 Permalink | Reply

      kok ngga ada linknya sih, gw kan mau di-link. bikin gih, ntar link gw, dua ya, satu lagi situs baru gw

      http://embracingmoment.blogspot.com

      hmmm..ada ga sih ini linknya? *nyari2 lagi*

      bawel amat ya gw.

    • nyenius 3:07 am on September 26, 2008 Permalink | Reply

      Hehehehehe, udah dua orang ngira gak ada links keluar disini, padahal ada, tapi nongol nya di halaman index aja, itu juga rada bawah, diatas list Archive.

      Gue rubah setingannya deh :p

    • nazla 3:30 am on September 26, 2008 Permalink | Reply

      ooh…gitu toh, di halaman index. trus link gw satunya mana? *maksa.com*

    • nyenius 3:32 am on September 26, 2008 Permalink | Reply

      hahahaha iya gue tambahin, sahur dulu ye (sekarang muncul terus tuh daftar linknya)

    • ritchie 12:17 pm on September 29, 2008 Permalink | Reply

      wah gw suka nih posting…mengejawantah kan kalo lu emang penulis, pemikir, dan juga penghasut ulung (hehe) ..saat gw baca ini gw langsung keinget paman gw yang s3 dengan konsentrasi hadist di uin..wah tulisan lu kurang lebih mirip tulisan dia, lugas, logis, dan langsung masuk ke relung kalbu melumerkan niat niat jahat lu selama hidup, menghujam tiga lapisan tanah kesadaran lu, juga pastinya tanpa lupa ngebingungin dosen pembimbing yang dah pada profesor itu…tapi apa yang lu bikin ini gw yakin lebih berkilauan cahaya nya dan pasti dibaca orang pas ceramah jum’at dibanding denger ceramah khatibnya…haha,damn!! gw jd inget gaya lu ceramah kalo dapet giliran ceramah zuhur di smuth…hahahahah…

    • nyenius 4:24 pm on September 29, 2008 Permalink | Reply

      @rhitchie, ndot, lo muji tulisan gue karena diakhir tulisan gue ngaku masih brengsek kan… huh…..

    • ritchie 2:42 am on September 30, 2008 Permalink | Reply

      hahaha..dasar lu negatip ajah..malah ga kpikiran…tapi bener juga sih..kalo akhirnya bagus tuh namanya laporan rapat pemegang saham tahunan…hehehe

  • Nyenius 2:00 am on September 24, 2008 Permalink | Reply
    Tags: thoughts   

    Kepercayaan 

    Kepercayaan adalah sesuatu yang terbina, bukan sesuatu yang dapat dipaksakan. Tidak bisa hanya karena kita berada dalam satu lingkaran yang sama, lantas kita ‘harus’ percaya satu sama lain. Kepercayaan timbul dari komitmen yang terus-menrus, dibuktikan oleh waktu dan tindakan.

    Ada dua jenis kepercayaan dalam hemat saya, kepercayaan terhadap sesama manusia, dan kepercayaan manusia terhadap Tuhan. Karena memang kita hidup dalam dua jenis hubungan itu, antar-mahluk dan mahluk-Pencipta. Hubungan antar mahluk yang dimaksudkan disini adalah antar mahluk berakal. Saya mengklasifikasikan hubungan antara mahluk berakal dan mahluk tak berakal dan benda mati satu kelompok dengan hubungan mahluk berakal dan Tuhan. Mengapa? Sebab mahluk tak berakal dan benda mati (alam semesta) adalah bagian dari kuasa Tuhan, mereka tak memiliki kesempatan untuk memilih A atau B, mereka adalah bagian dari sunatullah, yang sepenuhnya manut terhadap hukum-hukumNya. Sedangkan manusia bisa membangkang.

    Dalam salah satu bentuk hubungan antar mahluk berakal ada hubungan yang dikatakan hubungan bisnis, dan dalam hubungan bisnis terkenal istilah, ‘jangan cepat percaya’. Disitu jelas dituntut pembuktian komitmen yang jelas oleh kedua belah pihak agar tercapai status percaya dan saling mempercayai. Masing-masing pihak berusaha berbuat yang terbaik untuk meraih kepercayaan pihak lainnya. Bagaimana hubungan kepercayaan antara mahluk berakal dengan Tuhan? Apakah sama seperti itu? Apakah kedua belah pihak harus berusaha dengan sungguh-sungguh untuk meraih kepercayaan satu sama lain? Mengapa itu dipertanyakan? Karena disini jelas ada ketimpangan status dan ‘derajat’. Mahluk berakal adalah ciptaan Tuhan, jelas hal itu menempatkan Tuhan dalam hierarki diatas mahluk berakal ciptaan-Nya. Dalam bentuk hubungan yang kedua ini terkenal istilah ‘harus percaya’ bagi mahluk berakal ciptaan-Nya.

    Apakah Tuhan harus membuktikan sesuatu terhadap mahluk berakal agar Ia meraih kepercayaan ciptaan-Nya? Jawabannya Ya, karena dengan posisi Tuhan yang gaib, tak mungkin mahluk berakal bisa mempercayai adanya Tuhan begitu saja. Dan Tuhan telah membuktikan diri-Nya dalam alam semesta ini, bahkan dalam adanya mahluk berakal itu sendiri. Nah apakah manusia harus membuktikan sesuatu agar mendapat kepercayaan Tuhan? Mengapa harus? Padahal Tuhan Maha Tahu Segalanya.

    Sekarang mari kita bertanya sedikit, demi membuka kunci-kunci jawaban dari pertanyaan-pertanyaan diatas. Kenapa para mitra bisnis harus meraih kepercayaan mitranya, apa yang mereka cari? Jawabannya tentu untuk mendapatkan apa yang diinginkan; keuntungan bagi kedua pihak. Hubungan baik yang menghasilkan kondisi saling menguntungkan dan menghindari kerugian. Penjual berusaha meraih kepercayaan pembelinya, agar si pembeli  mau membeli dagangannya. Pembeli berusaha meraih kepercayaan penjualnya agar mendapatkan harga yang bagus, barang yang berkualitas dan kemudahan-kemudahan lainnya. Mengapa mahluk berakal harus meraih kepercayaan Tuhan? Jawabanya adalah untuk mendapatkan janji-janji yang Tuhan berikan. Lantas mengapa Tuhan harus meraih kepercayaan ciptaannya (mahluk berakal)? Jawabannya agar mahluk berakal mau tunduk dan bersembah kepada-Nya. Sebab mahluk berakal adalah mahluk yang cerdas, yang tak akan tunduk begitu saja terhadap sesuatu. Mereka adalah mahluk cerdas yang bodoh, yang merasa bisa melakukan apa saja, dan menguasai apa saja, padahal mereka hanya tahu sedikit kandungan dari Alam Raya, yang notabene adalah pembuktian dari Tuhan bahwa Dia ada, dan dia yang paling berkuasa. Bukan saya mengatakan Tuhan harus bersusah payah membuktikan keberAdaan Nya dan KekuasaanNya, toh nyatanya Dia sudah melakukan semua itu 😀

    Jadi kesimpulannya, kepercayaan adalah sesuatu yang dibangun oleh pembuktian-pembuktian. Bukan dalam janji manis dan kata-kata. Manusia sebagai mahluk berakal (yang kita ketahui) mencoba mengakali hal ini (yang membutuhkan waktu dan pengorbanan) dengan hukum dan surat-surat perjanjian. Tetap saja, kepercayaan yang murni hanya dapat dibangun dengan komitmen jelas yang kontinu.

    Yah, In my humble opinion lah 😀

     
  • Nyenius 5:50 pm on August 29, 2008 Permalink | Reply
    Tags: thoughts   

    Occupied by the leaf 

    Dalam keadaan panik menerima kenyataan baru, ada baeknya gue diem. Tidak tergesa-gesa menyimpulkan sesuatu, terutama tidak terburu-buru putus asa. Seperti sedang menabrak “The Wall”, tembok tak terlihat yang senantiasa menghalangi jalan orang dalam bidang apapun.

    Sehubungan dengan itu, ada quote yang bagus dari komik Vagabond (Musashi versi komik ,-red), “If you occupied by the leaf, you won’t see the tree, If you occupied by the tree you won’t see the whole forest.” Dalam keadaan panik dan terkejut, tertekan, gue berusaha menarik nafas panjang, dan meluaskan jangkauan pandang, berusaha tidak terkecoh pada satu dua hal. Melihat sesuatu secara keseluruhan, melihat dasarnya, melihat apa yang ada dibalik wajah nya.

     
    • reekoheek 5:50 pm on August 29, 2008 Permalink | Reply

      ba.. knapa putus asa…?

    • Toba 5:50 pm on August 29, 2008 Permalink | Reply

      Gak putus asa kok kawan, cuman lemes ketemu kenyataan-kenyataan baru sehari-hari, ya kayak abis kesetrum listrik voltase rendah… terus menerus…. hahahaha

    • Aves 5:50 pm on August 29, 2008 Permalink | Reply

      Singsingkan Lengan Baju dan tetap semangat Bro 😉

    • nyurian 5:50 pm on August 29, 2008 Permalink | Reply

      nyoih coy. pagabond ude tamat guwe…

      “occupied ama daon, kaga bakal ngeliat pohon. occupied ama pohon, kaga bakal ngeliat hutan. occupied ama hutan, kaga bakal ngeliat dunia” etc…

      huehueuehue. nebeng spam ah.
      http://nyurian.wordpress.com

    • toba 5:50 pm on August 29, 2008 Permalink | Reply

      itu no 26 blum tamat re

    • reekoheek 5:50 pm on August 29, 2008 Permalink | Reply

      kesetrum aja bingung, gimana klu digigit uler…

    • nazla 5:50 pm on August 29, 2008 Permalink | Reply

      ngga gw sangka sulhu membawa kebijakan padamu…

    • Toba 5:50 pm on August 29, 2008 Permalink | Reply

      ya tentu dong, idup seseorang kan seperti resep kue, masukin aja satu bahan tambahan, maka rasa dan tampilannya bisa berubah…

  • Nyenius 8:37 pm on January 2, 2008 Permalink | Reply
    Tags: thoughts   

    #1 

    Keindahan yang disetujui banyak orang, akan segera menjadi klise.

     
  • Nyenius 1:25 pm on December 26, 2007 Permalink | Reply
    Tags: thoughts   

    relationship 

    Seriuslah pada setiap hubungan yang kita mulai, dan karena hubungan itu serius, cermatilah segala sesuatunya dengan baik.

     
    • nazla 1:25 pm on December 26, 2007 Permalink | Reply

      gw rasa ini cuma buat nenangin hati lu sendiri ba

    • toba 1:25 pm on December 26, 2007 Permalink | Reply

      sekedar berbagi saja ko lu 😀

      tapi karena lu yang ngomong gue jadi mikir lagi… hehehehe

    • Jay 1:25 pm on December 26, 2007 Permalink | Reply

      Jangan serius-seriuslah,
      temenan aja dulu :p

  • Nyenius 9:49 pm on December 6, 2007 Permalink | Reply
    Tags: , thoughts   

    When we fail our mother 

    Hari ini gue terlibat pembicaraan yang cukup menarik di kampus, sama temen gue Tince dan satu kenalan baru bernama Lusy. Obrolan itu terjadi setelah kami mengikuti seminar tentang Kebudayaan, Desain dan bla bla bla. Banyak yang kita obrolin, salah satu yang pengen gue ceritain adalah obrola kami tentang pilihan.

    Omongan itu disulut oleh pernyataan Tince mengenai kemampuan multi-tasking seseorang. Bagaimana seseorang seharusnya dapat melakukan dua hal berbeda secara proporsional. Contoh kasus adalah kerja dan kuliah (reguler). Gue dan Lusy yang berada dalam posisi tersebut mengatakan nasihat ‘pandai-pandai membagi waktu’ itu adalah omong kosong, menurut gue yang ada adalah penentuan prioritas antara hal-hal tersebut. Dan itu ditentukan oleh kecondongan seseorang terhadap sesuat, mana yang paling dia pilih, kerja atau kuliah.

    Begitulah, pembicaraan terus mengalir sampai pada akhirnya gue bilang, pilihan itu gak ada yang salah, selama kita bertanggung jawab atas pilihan itu. Dan kalo kita terus tunduk pada ‘apa kata orang’, maka gak ada habisnya, kita harus menentukan pilihan kita sendiri. Tiba-tiba aja si Lusy nambahin, dan yang paling gampang adalah kalo kita ngejalanin apa yang direstuin orang tua kita, pasti jalannya dimudahin tuh, ya mungkin ada yang gak percaya sama Tuhan, tapi entah kenapa hal itu kerasa kok.

    Disitu gue langsung nyambungin, mengiyakan dengan tegas sambil senyum. Secara agama, itu jelas dilarang, jangankan nggak patuh, bilang ‘ah’, ‘uh’ aja dilarang. Lantas terbetik sesuatu dikepala gue, sebuah penjelasan yang bukan berasal dari hukum agama. Mungkin begini, gue bilang, ibu itu kan asal muasal kita secara jasmani, jadi ketika kita mengingkari dia, sama saja kita mengingkari asal muasal kita, jati diri kita, yang mana orang yang mengingkari dirinya sendiri pasti akan selalu merasa bingung dan tak pasti akan langkahnya, kehilangan akar.

    Gue tambahin, tapi gue yakin, meskipun kita mengingkari orang tua kita (baca, tidak mematuhi), kita tetep bisa ngeraih mimpi dari jalan yang udah kita pilih, tapi melalui jalan yang penuh kesakitan…

     
c
Compose new post
j
Next post/Next comment
k
Previous post/Previous comment
r
Reply
e
Edit
o
Show/Hide comments
t
Go to top
l
Go to login
h
Show/Hide help
shift + esc
Cancel