Tagged: Puisi Katarsis Nyenius Toggle Comment Threads | Keyboard Shortcuts

  • Nyenius 4:20 pm on September 5, 2007 Permalink | Reply
    Tags: Puisi Katarsis Nyenius   

    berhenti 

    tuhan tidak ciptakan aku
    dari apa yang aku mau

    ia tetap biarkan aku berdiri disini
    dengan bulan yang terus menangis
    menikmati pedihnya

    dan berbincang mesra dengan malam
    menunggu pagi yang akan datang memanjakan mata
    dengan cahaya…

     
  • Nyenius 6:19 pm on July 10, 2007 Permalink | Reply
    Tags: Puisi Katarsis Nyenius   

    Bertahanlah 

    Bertahanlah
    Ketika semua yang tampak penting meninggalkanmu
    Bertahanlah
    Ketulusan akan terus dikupas
    Dengan perpisahan
    Dengan kemustahilan

    Tengok sejarah
    Siapa yang tercatat?
    Apakah mereka yang pergi
    Atau dia yang bersimbah pada pegangan

    Ketulusan
    Adalah buah yang harus dibuka kulitnya
    Berduri, ataupun keras.

    Kemurnian adalah pucuk mawar
    Penuh duri tangkainya

    Bertahanlah

    ——————
    09/06/2007; 11:56

     
  • Nyenius 6:19 pm on July 10, 2007 Permalink | Reply
    Tags: Puisi Katarsis Nyenius   

    Pelayar yang Tertipu 

    Dan sukses pun diraihnya
    Rasa puas lantas menikam perlahan
    Merobek jiwa yang susah payah disusun

    Tiang kemudi dilepas
    Tangannya sibuk mengacungkan kemenangan
    Perahu oleng mengarah karang

    Kompas tak lagi ditilik
    Matanya berbinar natapi langit
    Dengan sorot lega
    Barat dan timur tak terjaga
    Pelayaran berbelok arah dengan halus

    Dikira angin berpihak padanya
    Padahal angin hanyalah angin
    Ombak pun sekedar ombak
    Dalam lirik burung camar berbisik;
    “ya, ya, satu orang lagi berlupa.
    Entah akan tersasar atau mati menumbuk karang”

    Dan secuil sukses pun diraihnya
    Rasa puas mengerat kemanusiaannya
    Lupa menjadi pakaiannya.
    Dia tak sadar,
    Bahwa lautan tak pernah henti
    Berombak
    Sampai hari dia mati

    —————————-
    Tuesday, July 10, 2007

     
  • Nyenius 6:18 pm on July 10, 2007 Permalink | Reply
    Tags: Puisi Katarsis Nyenius   

    Ya, Dan Biarkan Penari itu Menari 

    Ya, dan biarkan penari itu menari
    Di depan kita dengan secarik kain
    Yang nanti pun lepas

    Aku jadi muak
    Berada disini menyaksikannya
    Pada setiap gerak ada harapan akan uang
    Nafsu berganti kasihan

    Tidak adakah hal lain?
    Ya, dan kau pun tertawa
    Menggerayangi yang lainnya

    Aku pun tertawa
    Sambil menahan kencing
    Hatiku tercabik-cabik
    Sudahlah, bayar uangnya
    Biarkan mereka pulang

    Tapi ah tidak
    Kantong telah dirogoh
    Pertunjukan harus selesai
    Aku hanya tamu

    Aku menjadi kambing dungu
    Yang terjebak dalam penasaran
    Dan merasa sangat bodoh

     
  • Nyenius 6:17 pm on July 10, 2007 Permalink | Reply
    Tags: Puisi Katarsis Nyenius   

    Tentang Sejarah Dosa Kita 

    Tentang sejarah dosa kita
    Tak ada yang bisa menghapusnya
    Tercecer di belakang dalam titik-titik hitam

    Tentang kesunyian
    Keberengsekan yang aku tabuh
    Pada bibirmu
    Aku tak bisa menjelaskannya

    “sudahlah, ini hampir tengah malam”

    Nikmati saja cahaya kota
    Dari jendela ini
    Manjakan wajah dalam tamparan angin malam
    Dosa masih tergeletak di situ

    “tapi, sudahlah, ini hampir tengah malam”

    Semuanya mendadak hening
    Ada kerinduan aneh menyeruak
    Memanggil sesuatu yang indah
    Entah itu apa
    Aku merasa sejuk dan nyaman

    Angin malam, lampu kota
    Pada jendela ini aku berpegangan
    Menceritakan kegelisahan atas dosa
    Yang terus melirik tajam

    Aku ingin pergi
    Tapi apa bedanya
    Sejarah sudah tercatat
    Kebenaran jadi tak pasti

    Aku hanya terus
    Menggenggam erat jendela ini
    Berharap ia mengerti
    Dan memberi sedikit kedamaian

    Aku melihat ke bawah
    Penjual makanan berderai tawa dengan tukang becak
    Rasanya ingin meloncat

    Dan selesai

    —————-
    Wednesday, July 04, 2007

     
  • Nyenius 6:16 pm on July 10, 2007 Permalink | Reply
    Tags: Puisi Katarsis Nyenius   

    Lagu Rindu Penduduk Yastrib 

    Kawan-kawan bajingan
    Dimana pun berada

    Kita pernah bermimpi menjadi sesuatu
    Setidaknya mencoba untuk berhayal
    Dan lantas menertawakannya

    Mungkin hanya sekedar
    Penyegar suasana
    Tapi ya, kita pernah melakukannya

    Ingatkah
    Di dalam suatu rumah tingkat 2
    Dengan lampu-lampu bohlam temaram
    -yang itu semua karena uang kiriman lebih baik
    Untuk beli rokok ketimbang lampu pl yang terang-
    Dan ruang-ruang gelap yang kosong.
    Kita berbincang tentang masa depan
    Tentang pertikaian antar orang-orang fanatik
    Tentang sejarah musisi-musisi yang terpaksa masuk
    Ke telinga
    Tentang larangan menghisap ganja di dalam rumah
    Tentang handuk seseorang yang tak ingin digunakan bersama
    Tentang seorang kawan yang mandi I bawah
    lantas handukan sambil jalan ke kamarnya di atas
    Tentang kelainan yang ingin diperbaiki
    Tentang film-film biru yang menjadi kata kunci
    Tentang hip-hop yang hanya dimengerti seseorang
    Tentang gitar
    Tentang panggung
    Tentang gunung
    Hampir tentang semuanya!

    Sekarang aku di persimpangan
    Menatapi cita-cita yang berserakan menunggu jawab
    Tiba-tiba aku rindu;
    “Apa kabar kalian?”

    Mungkin bukan waktunya bertanya
    Tapi sewaktu aku menatapi jalan hidupku
    Aku teringat kalian;
    “Bagaimana jalan hidup kalian?”

    Ingin mendengar kisah
    Walau aku ragu itu akan terwujud
    Tapi harap tetap ada

    Mungkin hanya sepenggal-dua penggal cerita
    Tapi,
    Itu pun kutunggu

    ——————————–
    Wednesday, July 04, 2007

     
    • ritz_cafe 6:16 pm on July 10, 2007 Permalink | Reply

      Hm..bagi gw yastrib adalah:
      Garasi yg pengap, dapur yg (sangat) kotor dan gelap, ttg Slanker di kamar pojok atas, ttg kitab2 yg (mgkin terlihat keren jika di pajang) di kamar seseorang, ttg buku2 les drum dan alat perkusi yg tinggal selongsongya, dan ttg
      ruangb bawah tangga besi yg (Haram Najis!) untuk gw injakkan kaki disana (damn, that site will haunt me for rest of my life, freaking hideous).

    • nyenius 6:16 pm on July 10, 2007 Permalink | Reply

      You remembered it so well bro… 😀
      Jangan lupa, tentang seorang anak sma yang menolak menggunakan kolor, dan handukan tidak di kamar mandi, melainkan sambil jalan dari wc ke kamarnya

  • Nyenius 6:15 pm on July 10, 2007 Permalink | Reply
    Tags: Puisi Katarsis Nyenius   

    Semalam Merancang Hidup di Neraka 

    Semalam Merancang Hidup di Neraka

    Monday, July 02, 2007
    7:42 PM

    Semalam merancang hidup di neraka
    Bersama musik orang-orang busuk
    Dan setengah botol vodka

    Hening menghantarkan
    Pelecehan atas dosa
    Kaki bersilangan diatas meja
    Hembus tembakau, seteguk lagi
    Dan kita tertawa

    Begitu aneh rasanya dosa yang satu ini
    Ada rasa enggan dan konyol
    Tapi tetap dijalankan dengan tenang

    Lihat gitarnya melambung ke langit
    Kita pejamkan mata
    Larut ke dalam suasana palsu

    “mainkan terus bluesnya, mainkan terus bluesnya”

    Dan setenggak lagi membasahi tenggorokan
    Panas menjalar ke kepala
    Dan berkata: “Oh Tuhan, dunianya bergoyang”

    Temaramkan sedikit lampu
    Berikan suasana remang pada hati
    Diatas sofa empuk, merancang kursi panas
    Di neraka

    Angkat seloki tinggi-tinggi
    Besulang untukmu Bonzo; “mungkin nanti kita jumpa,
    sementara itu hentakkan bass drum dikakimu”

    Sekelebat senang, sekelebat sedih
    Sekelebat bangga, sekelebat takut

    Dalam satu keputusan
    Pada suatu malam
    Terpesan sudah lapak-lapak api Tuhan

    -Jimmy Page baru saja memulai lagu berikutnya-

    —————
    Monday, July 02, 2007

     
  • Nyenius 9:25 pm on June 30, 2007 Permalink | Reply
    Tags: Puisi Katarsis Nyenius,   

    Ego dalam kubik 

    Kalimat yang terlontar hari itu..
    seharusnya tak pernah kuucapkan.
    Sungguh buruk akibat yang kusebabkan karenanya.

    Terkurung…
    Tak mampu bergerak bebas…
    Nafasku nyaris tak bersambut dengan udara bebas
    Aku tertipu…

    Hanya karena terbuai oleh hukum medan magnet, aku lupa diri.
    Bahkan otak kiriku menjadi bebal.
    Kakiku yang sudah terbiasa mampu menumpu beban, kini menjadi lemas bergantung.

    Kupaksakan mulutku dengan gulali omong kosong. Hingga hanya manis yang kurasakan.
    Lupa akan ke’alpa’an air jernih yang lebih menyegarkan.
    Situasi yang terus menerus kuulang sendiri.
    Sampai tebal rasanya kulit ini.
    Tak dapat lagi tertembus oleh kritikan pedas dari dunia.

    Sungguh aku tertipu…
    Sungguh aku lupa diri…
    Sungguh…
    Aku hanya manusia…

     
  • Nyenius 11:27 am on May 24, 2007 Permalink | Reply
    Tags: Puisi Katarsis Nyenius,   

    Menyimpulkan Roscoe Pond 

    sudahlah, jadi mahluk pragmatis saja
    tak perlu pusing-pusing dengan yang absurd
    yang paling kongkrit dari yang absurd itu hanya “cinta”
    dan yang paling kongkrit dari cinta itu “nafsu”

     
  • Nyenius 11:19 am on May 24, 2007 Permalink | Reply
    Tags: Puisi Katarsis Nyenius,   

    Jadilah 

    jadilah seniman, nak!orang yang memberi arti pada pemaknaan dan pengetahuan.jadi apa sajalah!yang penting seniman.tapi sebentar…jangan jadi polisi  juga, ya!polisi itu,filsuf bukan,ilmuwan  bukan.�

     
c
Compose new post
j
Next post/Next comment
k
Previous post/Previous comment
r
Reply
e
Edit
o
Show/Hide comments
t
Go to top
l
Go to login
h
Show/Hide help
shift + esc
Cancel