Tagged: dengan Toggle Comment Threads | Keyboard Shortcuts

  • Nyenius 12:32 am on July 25, 2011 Permalink | Reply
    Tags: , , Dan Tuhan, dengan   

    Semangat dan Kesadaran 

    Anak muda dengan semangat hijaunya
    Merasa dapat memakan dunia

    Orang tua dengan pengalamannya
    Tahu betul lemahnya manusia

    Dan Tuhan sadar betul
    Membiarkan keduanya ada

    ———————-
    25 juli 2011, 00:30 am

     
  • Nyenius 1:01 am on November 8, 2010 Permalink | Reply
    Tags: cinta fitri, dengan, kiai, , momok, quick count, , sinetron religi, tivi,   

    Televisi Sebagai Laknat Dan Nikmat 

    Semenjak ditemukannya, televisi telah mewarnai hari-hari manusia. Menjadi teman, alat, momok, dan segudang plus minus lainnya tentang televisi.

    Tulisan ini saya buat ketika melewati tivi di kamar dan seketika sadar: “Dah lama juga gue gak nonton tivi.” Sebetulnya bukan saya aja yang dah lama gak nonton tivi, tapi juga istri saya. Selain karena memang waktu untuk menonton tivi yang seperti tidak ada, selalu ada pertanyaan di benak kami: “mau nonton apaan di tivi?” Karena merasa lebih banyak sampah yang ditayangkan tivi sekarang ini. Apapun itu, begitu tampil di tivi, bisa jadi jungkir-balik, jumpalitan, salto, dan kami tertimpa skeptis berat tentang program dan kebenaran televisi.

    Presiden kita melalui lembaga polling yang disewanya menggunakan televisi sebagai -yang menurut saya- kecurangan berkampanye. Yaitu ketika pemungutan suara masih berlangsung, quick count dari lembaga survey tersebut sudah ditayangkan. Padahal itu dipercaya dapat menggiring opini rakyat yang belum memilih.

    Production House yang mengejar pemasukan perusahaannya dengan membuat sinetron religi keblinger dengan pencitraan kiai-kiai sebagai orang sakti, tasbeh berguna untuk ngusir setan dan segala macamnya, juga tampil disitu. Berulang-ulang, tak peduli apakah penontonnya muak atau tidak. Cinta Fitri yang dibuat sejak jaman adik saya SD sampe sekarang udah SMA, masih juga tampil dengan musuh yang itu-itu saja.

    Teman saya pernah bilang, dia tidak suka baca buku, dan lebih memilih melihat berita di televisi. Karena dengan membaca buku dia takut terpengaruh oleh pikiran ‘orang yang gak jelas’. Saya balik bertanya, mengenai kejelasan sumber, lebih jelas mana tivi atau buku? Buku, kita bisa baca riwayat pengarangnya pada sampul/halaman belakang buku. Masih kurang puas, bisa searching lebih lanjut tentang si pengarang di internet. Sehingga kita tahu dari mana, siapa, orang berlatarbelakang seperti apa, kita menerima atau menolak pemikiran yang dituangkan dalam sebuah buku.

    Sedangkan televisi? Tahukah kita siapa editor sebuah acara berita (apalagi gosip)? Tahukah kita apa motif dia meluluskan sebuah berita, dan menolak tumpukan berita lainnya? Tahukah kita visi pemilik sebuah stasiun tivi? Ditambah lagi dengan fenomena monopoli tersamar yang dilakukan grup MNC terhadap stasiun-stasiun tv besar di Indonesia. Itu semakin menambah keraguan saya akan ‘kebenaran televisi’. It’s a bunch of driven informations without us knowing where they want to drive us.

    Memang tidak selamanya program televisi itu buruk, saya termasuk penggemar setia acara-acara besutan aktor senior Deddy Mizwar. Karena kebetulan saya mengikuti perkembangan beliau semenjak film-filmnya di tahun 70-an. Semenjak beliau main film panas sampai akhirnya mendapat pencerahan untuk membuat sinema-sinema religi yang cerdas.

    Walaupun suka, ada beberapa hal yang saya kritisi, yang saya anggap bisa menjadi ‘bahaya’ tertentu; bahaya salah paham. Contoh konkritnya pemenggalan cerita pada sinetron terbaru beliau yaitu Para Pencari Tuhan. Banyak sekali pemenggalan cerita yang menggantungkan status suatu masalah yang diangkat dalam satu episode, yang dengan tujuan membuat orang penasaran dan ingin menonton kelanjutannya. Tapi pemenggalannya itu pada bagian penting. Dan saya tahu banyak yang penasaran, dan banyak yang pula tidak sempat menonton kelanjutannya, yang notabene merupakan penjelas dari informasi (baca;dakwah) yang tak selesai pada episode sebelumnya.

    Tapi karena televisi juga, saya yang belum pernah ke luar negeri bisa tahu seperti apa perayaan tahun baru di London. Saya bisa tahu mengenai padang rumput anatolia yang indah. Karena televisi, orang-orang hebat dapat menyebarkan inspirasinya kepada khalayak luas.

    Televisi sebagai sebuah bentuk media massa, dapat memberikan (baca; menyebarkan) dampak positif dan negatif secara massif. Televisi tidak bisa disalahkan, dia hanya benda, sedangkan stasiun televisi merupakan bidang luas yang tak terjamah oleh tangan kita yang kecil. Tak ayal; kita yang harus siap.

     
  • Nyenius 5:04 pm on May 15, 2010 Permalink | Reply
    Tags: dengan, kabel, , , , refugium tank, sumber listrik, untuk,   

    Update: Sabtu, 15-Mei-2010 

    Update Sabtu 15 Mei 2010:

    Main Tank:

    1. Penampakan pertama jabing, bengong dibawah karang besar menghadap muka main tank.

      .
    2. 02.00 pagi. Pemasangan refugium, baru ada waktu jam segini. Ya ngerjain malam-malam lebih enak, tenang.
      1. Dari kemarin sore, air laut simpanan di dua jeriken di aerasi, untuk menaikkan PH.

        .
      2. Pengetesan refugium tank, dan sudah tidak ada kebocoran lagi.

        .
      3. Merakit lampu, rumah lampu, kabel, dan colokannya. Kemudian di test dulu sebelum dipasang. 
        • Pemasangan rumah lampu beserta kabelnya. Rumah lampu disekrup ke atas.

          .
        • Kabel disambung menggunakan terminal kemudian dibalut selotip hitam. Sedangkan kabel yang menjulur menuju sumber listrik, di tempel menggunakan double tape tebal, 2 kali. 
          – Double tape ditempel ke kayu, 2 baris. Kemudian dikupas lapisan penutupnya.
          – Kabel ditempelkan pada double tape yang sudah menempel. Dan diberikan double tape lagi untuk menahan kabel tersebut. Lem double tape ketemu lemnya lagi dapat merekat sangat kuat. Yang dikhawatirkan adalah kekuatan sisi doble tape yang menempel ke kayu, untuk mengatasi hal ini dibuatlah dua baris double tape supaya saling mengimbangi dan mengurangi beban keduanya.

          .
        • Foto-foto:
          Image
          Image


        .

      4. Menandai batas 10 cm pada refugium tank dengan spidol.

        .
      5. Mulai memasukkan pasir ke dalam refugium tank, dan ternyata kurang 1 cm.

        .
      6. Ngayak pasir lagi sebanyak ½ ember adukan. Kali ini hanya dua kali proses. Tahap pertama yang tadinya 40 detik, dibuat 10 detik dengan 1 cup penuh. Dan tahap kedua jadi 5 detik dengan ½ cup. Kehalusan yang didapat tidak beda jauh dengan proses sebelumnya. Hanya saja ampasnya jadi lebih banyak.

        .
      7. Memasukkan refugium ke tempatnya. Mengisikan pasir sisanya. 

        ***Mungkin ada yang bertanya bagaimana bisa mengangkat akuarium yang penuh pasir (berat, karena pasir halus jadinya lebih padat). Itu karena saya copot hambalan dari lemarinya. Langsung saya set di lantai, hambalan/penyangga tank, styrofoam, dan tanknya. Dengan begini bisa aman diangkat kemana-mana tanknya.
      8. Meratakan pasir.

        .
      9. Memasukkan air hingga 1 cm diatas permukaan DSB. Dengan cara air di siphon, dan diatas pasir diberikan piring untuk meredam air yang masuk biar gak ngacak-ngacak pasir. Cara ini berhasil baik, karena susunan pasir tidak berubah, dan air tidak begitu keruh, hanya beberapa pasir yang sangat halus terlihat mengambang di permukaan.

        .
      10. Kemudian menambahkan 1 mangkuk kecil pasir dari DSB tank lama yang terlihat sudah banyak cacing dan infauna nya. Pake mangkok supaya menjaga pasir tetap basah. Link cara memindahkan pasir dari DSB yang sudah established : 
        Image
        Udah ditebalikin mangkoknya masih juga gak mau jatuh pasirnya, akhirnya dikerok dalam posisi mangkuk terbalik. 

        .
      11. Menambahkan air hingga sebatas sock drat tempat keluarnya air. 
        Image
        Sukur gak keruh airnya.

        .
      12. Memasang paralon ¾ untuk ekstensi pembuangan air ke sump, tanpa lem. Sementara ini air dialirkan ke chamber sump kedua, yaitu chamber skimmer. Supaya kalau ada kotor bisa langsung diskim.

        .
      13. Memasang pump untuk input air ke refugium di chamber ketiga sump (return pump) untuk mengalirkan air ke refugium melalui selang elastis.
        Image
        Lihat selang hitam yang di belakang.

        .
      14. ’Meng-off-kan’ Auto top up, supaya ketika refugium diaktifkan, bisa diketahui berapa air laut yang berkurang karena dipompakan ke dalam refugium.

        .
      15. Mengaktifkan semuanya. Langsung diketahui air yang berkurang karena dipompakan ke dalam refugium, dan langsung ditambahkan sejumlah itu. Lampu dinyalakan, sebagai bagian dari testing.
        Image

        .
      16. Thanks god semuanya berjalan dengan baik, bahkan paralon yang disambungkan tanpa lem pun tidak bocor (dari beberapa kali main paralon, sepertinya kunci supaya tidak bocor walau tanpa lem adalah pemotongannya harus rapih rata, tidak miring-miring).

        .
      17. Rencana ganti lampu phillips tornado 15 watt dengan lampu ulir megaman yang 10.000k


      .

    3. Brown algae sepertinya tumbuh ke tahap berikutnya, sekarang tampak seperti mempunyai cabang seperti pohon. Kemungkinan karena kadar phospat yang tinggi. Sekarang ini saya masih pake air tanah buat top up nya, lagi ngumpulin duit buat beli mesin RO.
      Image
      Brown algae mulai memiliki ruas batang

      .
    4. Clown semakin rakus makannya.

      .
    5. Mulut anemon masih terlihat membuka sampai hari ini. Kenapa ya? Apa memang seperti ini anemon karpet. Sebab saya pernah baca (lupa dimana), bahwa mulut membuka adalah tanda-tanda anemon tidak sehat.
      Image

      .
    6. Dicoba memberikan makan pellet Marine S buat anemon. Dengan cara mengarahkan pipa yang untuk power head ke mulut anemon dan mengalirkan butiran pelet melalui pipa. Terlihat anemon bereaksi dengan menutup bagian mulutnya rapat-rapat, bahkan clown pun yang berusaha ‘masuk’ untuk mengambil pelet itu tidak dapat menembusnya. Sepertinya dimakan, semoga saja.

      Image
      Tampak depan. Menutup setelah diberikan pelet

      Image
      Tampak samping


      .
    7. Jam 10 malam. Setelah melihat air refugium jernih, dan saya test ammonia 0 mg/l (sera), saya pindahkan anggur hijau dan dua cacing kelapa ke dalam refugium. Dan lampu dinyalakan.
      Image
      Image


    *Pertanyaan:
    – Apakah cacing kelapa akan baik-baik saja kalau saya nyalakan lampu refugium 24/7 jam?
    – Kenapa mulut anemon karpet terbuka seperti itu?



    Quarantine Tank:

    1. Morish ditemukan mati. Tidak jelas apa sebabnya, karena dari hari-hari sebelumnya tidak ada tank mate yang melakukan bully terhadapnya, dan diketahui juga sudah mau makan sawi. Apakah karena penangkapan menggunakan racun?
      Image

      .
    2. Ganti air sebanyak 30%

      .
    3. Algae mulai terlihat di kaca tank karantina.

      .
    4. Unicorn masih sering ngumpet.
      Image


    *Pertanyaan:
    – Betulkah Morish harus dipelihara lebih dari dua ekor (berkelompok), supaya dia tidak stress?

     
  • Nyenius 3:07 pm on May 7, 2010 Permalink | Reply
    Tags: dengan, , , pantas, pengen, rasa saya, , sera, tidak,   

    Restarting Point: Log Akuarium Laut Toba 


    Ini adalah diary nya tank saya yang berukuran 100x50x50. Udah pengen ganti, tapi belum cukup dana. Sebelumnya saya peringatkan, posting ini akan jadi panjang, karena ini ya… diary :p Jadi harap maklum, kalo kata bule ’bear with me’.

    Sebetulnya malu saya posting re-setup tank ini. Karena kegagalan yang terjadi adalah karena kebodohan saya tidak mengikuti tumpukan saran dan pengalaman yang tiap saat saya baca di forum ini maupun di sumber lainnya di internet. Dan sekarang saya post agar bisa dapat bantuan ilmu lagi dari teman-teman disini, karena bacaan dengan pengalaman kadang beda.

    So the story goes….
    Aslinya tank ini sudah berjalan hampir setahun yang lalu, sekitar dua bulan setelah gabung disini.

    Langsung saja dibantai (pengakuan dosa dulu ya), kesalahan fatal yang saya lakukan adalaaaah:
    1. Selalu merusak ritme cycling. Punya 2 tank, dan dua-duanya cuma cycling seminggu.
    2. NEVER QUARANTINE new fish(es). Penyakit ikan adalah langganan saya.
    3. Menambahkan biota tanpa perhitungan, baik dari segi jumlah maupun rentang waktu antar penambahan biota.
    4. Seenaknya menambahkan koral tanpa mengerti bahwa yang dibeli itu sps atau lps.
    5. Tidak mengindahkan kekuatan lampu yang dipakai, actinic bekas juga dibeli (gak jelas berapa umurnya).
    6. Membiarkan ikan yang sakit didalam main tank (mostly to death, and bring the others too :(( ).
    7. Tidak menjaga kualitas air dengan baik. Nitrat selalu diatas 50, sering over calcium yang menewaskan koral secara massal. Detritrus numpuk.
    8. Terjebak memelihara ikan yang tidak kompatibel. Bahkan ada yang berantem selama 5 hari mempertahankan wilayah sampe dua-duanya mati karena sakit. Yang ini begonya masih suka aja ketipu pedagang ikan, yang pas saya laporan kejadiannya cuma diam seribu bahasa.
    9. Mengulangi kesalahan dari poin satu hingga akhir berkali-kali. :(

    Ok, saya rasa saya pantas mempermalukan diri di depan hadirin pecinta biota laut atas kesalahan-kesalahan besar saya. Dan saya meminta maaf kepada seluruh biota yang saya perlakukan dengan tidak layak….. :roll: :roll:

    Sejarah:
    a.
    Awal punya cycling cuma seminggu, langsung dikasih ikan lebih dari 5 (selanjutnya baca list kesalahan saya diatas)
    b. Terjadi 3 kali wipe-out:
    b.1. Mati lampu, anemon clown pindah ke wave maker tanpa diketahui. Begitu nyala, matilah dia, semua ikan mati, sisa 1 ekor clownfish.
    b.2. Over calcium+kualitas ganti air yang buruk (toko yang tidak jujur), semua coral mati satu persatu, ditambah semua ikan kena cryptocaryon, dan mati semua juga ikannya.
    b.3. Separuh ikan mati, karena ternyata salah setting automatic feeder, sehingga alatnya gak jalan karena salah setting itu. Setelah seminggu baru ketauan.
    b.3. Lampu (2 actinic, 1 phillips daylight) korsleting. Dan dibiarkan saja tank dalam gelap. 3 hari pertama koral mati semua (dah lupa lps ato sps), 3 hari berikutnya ikan-ikan mulai ikut mati. Begitu ikan mati semua, air dibiarkan begitu saja (tanpa ada bangkai yang diangkat) selama beberapa bulan dalam keadaan demikian. Sampai 6 bulan kemudian (saat ini) di re-cycling kembali.

    Dalam kondisi setelah ikan dan koral mati semua yang terakhir, akuarium dibiarkan tanpa ada bangkai yang diangkat, dan tidak tersirkulasi. Otomatis oksigen habis, dan semua yang hidup pun mati, hampir sepuluh (yang kelihatan) bangkai kepiting terlihat mengambang. Tapi tidak ada bau sama sekali. Detritrus semakin meningkat jumlahnya.

    Foto-foto yang lama:

    Recovering from death:

    Setelah saya lepas dari trauma kebodohan di marine tank. Saya coba kumpulkan lagi peralatan yang ada, dan mendata apa yang seharusnya ada. Selain peralatan hal lain yang saya persiapkan adalah mental. Sebuah kutipan dari tulisan yang saya lupa judulnya berbunyi ”This is a long-term commitment hobby”, menyadarkan saya tentang bagaimana seharusnya mental seorang hobiis saltwater, bersabar dan tidak tergesa-gesa.

    Spesifikasi:
    – Main tank. 100x50x50
    – Sump 40x40x40
    – Return pump, 3000ltr/hour
    – Lampu T5HO @39wx2.
    – Fan AC x2 (in and out)
    – Air yang masuk ke sump di filter dengan busa filter dan kotak filter akuarium biasa. Ditambah carbon active.
    – Wave maker resun mini.
    DIY auto top off akua galon.
    DIY Coil Denitrator pvc pipe
    DIY skimmer
    – Tester: Amonia (sera), nitrit(sera), nitrat(sera), ph(sera), ph(Tetra), phospat (sera), calcium(sera).

    Foto-foto Persiapan dan Perlengkapan:

    Image
    Hood dijadiin pusat elektrikal. Dengan pertimbangan kalo bersih-bersih gede-gedean, cukup kabel ke source yang dicabut, dan hood dicopot. Yang lagi duduk bukan gue :P

    ImageImage
    Hood ditambah kipas AC yang berhembus ke dalam dan keluar untuk sirkulasi udara sekaligus pendingin.

    Image
    Hood dalam kondisi terpasang

    Image
    Hood dibuka. Bodohnya, setelah jadi baru kepikiran, kenapa nggak depannya aja yang bisa kebuka, jadi gak mesti di ‘dongkrak’ begini :lol:


    The Diary:
    Bulat sudah, untuk saat ini saya merencanakan tank ini untuk ikan; FOWLR. Selain melihat segi perawatan yang lebih simpel, ini juga bisa buat hiburan anak dirumah.

    Langkah-langkah yang saya lakukan dalam menghidupkan kembali tank ini adalah membersihkan kotoran-kotoran yang jelas terlihat, tulang belulang ikan, bangkai kepiting, karang yang mati, detritrus. Setelah itu saya sirkulasikan kembali airnya. Masih tanpa lampu, karena rencana saya bulat pakai T5 HO, dan saat itu masih cari ballastnya (lampunya dah punya). Sempat dapet ballast di kartini, tapi ballast T5 biasa yang 40 watt, hasilnya bisa ditebak, gak nyala :p

    Setelah seminggu pertama saya angkat semua karang-karang rockwork nya, untuk di rescape kembali. Masih ditemukan beberapa koloni kecil coraline algae. Saya potong-potong karangnya, dan buat rockwork yang lebih simpel dan minimalis. Masih tanpa lampu. Di minggu ini saya sudah membuat hood tambahan untuk tempat lampu+fan+elektrikal. Jadi semua colokan diatas hood, mengingat ada anak kecil di rumah. Dari sebelumnya udah beli purple up buat bantu ngidupin lagi LR. Purple up saya beri 1 tutup setiap hari, sesuai dosing dari produsen.

    Masuk minggu ketiga saya memesan ballast dari Pak Santo. Besokannya udah sampai tuh ballast, maka dimulailah perakitan hood tersebut. Satu hal yang belum terwujud di tahap ini –sampai saat ini- adalah pemasangan ELCB dan MCB. Karena saya udah pernah kesetrum, dan udah pernah sampe pingsan jatoh dari akuarium. Lampu mulai nyala dari jam 10-05 sore. Karang mati mulai menandakan bintik-bintik ungu / pink.

    Image
    Pemasangan ini salah kata Pak Santo (via mail), harusnya pake kabel yang batangan.

    Image
    Akhirnya terang juga. Rockwork minimalis, setingan buat ikan.


    Masuk minggu keempat mulai testing air. Nitrit 0, Nitrat 50, PH 8,4. Setelah hood yang berisi fan dipasang, suhu air 28 (jarang banget 29), walau suhu ruangan 31. Saat ini juga install wave maker mini dari resun. Install PH controller model pinpoint merk cina. PH controller ini 2 minggu sekali musti kalibrasi. PH controller menunjukkan 8,3, hasil test pake Tetra 8,4.

    ImageImage
    Kipas cukup membantu, suhu ruang 31, suhu tank stabil di 28

    Minggu keenam Algae bloom. Ini masih terjadi sampai sekarang. Any suggestion how to face algae bloom????

    ImageImage
    Permulaan algae bloom – di pasir dan karang

    Image
    Bagian yang tak terjangkit


    Minggu ketujuh ganti air 20% sambil siphon lumut yang ada di pasir. Dosing purple up dihentikan karena kalsium terdeteksi hingga 500ppm (sera). Bikin
    coil denitrator pake pvc. Gw posting juga di forum ini disini.

    Minggu ini juga beli tank karantina kapasitas 29ltr. Hanging filter jebo. 2 letter six, dan 1 angel Kennedy. Kenapa bareng, karena bingung tank karantina perlu di cycling atau nggak, jadi ambil keputusan berdasarkan ingatan pernah ada yang bilang di forum, gak perlu. Dan setelah baca-baca lagi, ternyata sebenernya perlu juga, jadi harusnya pas main tank cycling dia ikut cycling juga , stupid me. Rencana ikan dikarantina minimal 1 bulan.
    Untuk diary tank karantina liat reply dibawah post ini.

    ImageImage
    algae bloom semakin parah baik di karang maupun pasir

    Image
    setelah siphoon algae di pasir, yang dikaca dibiarkan, karena waktu itu sebetulnya masih bingung ngadepin algae bloom ini, jadi penanganannya setengah-setengah.

    Image
    masih tersisa sedikit, buat minggu depan. Soalnya air yang mo diganti udah pas2an.

    Image
    CD inspirasi dari bro qodeem

    Image
    Quarantine tank


    Minggu ke delapan di main tank. Brown algae tampak mulai subur lagi di atas pasir, mungkin dari sebagian yang tidak tersiphoon, dan juga kadar phospat (>4 ppm) dan nitrat (50ppm) yang masih tinggi. Ditambahkan
    DIY skimmer yang lama, yang baru direparasi. Dengan tambahan DIY water level switch husus buat pompa skimmer, karena kalo habis mati lampu, dan tinggi air masih di neck skimmer, bisa-bisa banjir penampungan skimmernya. Dan brown algae dikarang semakin coklat pekat warnanya, tapi daya tempelnya ternyata tidak terlalu kuat, kesiram air aja pada rontok (pengalaman waktu ganti air kemarin). Rencananya sekarang mau ganti air lagi 20%. Sepertinya cycling masih berlanjut 4 – 6 minggu lagi, karena ikan masih akan dikarantina selama itu. Ditambahkan karbon aktif.

    ImageImage
    Algae bangkit kembali, yang di kaca dan karang semakin ganas. Gak tau deh kabar coraline algae yang baru tumbuh.

    Image
    carbon aktif dibawahnya

    Image
    DIY Skimmer pertama running, jam 12 malam (seting wet), yang dilingkari merah adalah Float switch untuk detek level air.

    Image
    DIY Skimmer jam 12 siangnya. Saya kira hasilnya akan lebih banyak karena air sudah lama dibiarkan, ternyata biasa aja




    bersambung di reply, sesuai perkembangan

     
c
Compose new post
j
Next post/Next comment
k
Previous post/Previous comment
r
Reply
e
Edit
o
Show/Hide comments
t
Go to top
l
Go to login
h
Show/Hide help
shift + esc
Cancel