Recent Updates Page 2 Toggle Comment Threads | Keyboard Shortcuts

  • Nyenius 7:00 am on August 10, 2017 Permalink | Reply  

    Bisikan (1) 

    Setelah melalui Ramadhan tahun ini saya merasa setahap lebih kenal akan diri saya sendiri. Diri saya sebagai manusia yang katanya tempat salah dan dosa. 

    Berpegang pada keyakinan dalil yang mengatakan setan dibelenggu pada bulan Ramadhan. Saya mengajukan kembali pertanyaan; mengapa pada bulan tersebut pelaku puasa masih mungkin berbuat dosa?

    Pertanyaan itu gampang-gampang susah untuk dijawab. Kali ini saya pun memberikan usaha lebih serius untukmencari jawabannya. Saya harus mulai dari variabel yang jelas. 

    Untuk itu saya yakini betul- betul terlebih dulu dalilnya. Lantas ketika setan absen dan manusia masih berbuat dosa, maka hal itu meninggalkan tersangkanya pada diri manusia itu sendiri. Tepatnya pada penyalahgunaan (selalu soal penyalahgunaan) komponen-komponen dirinya. Komponen jasmani (pancaidnera) dan rohani (contoh; nafsu).

    Dari situ saya berniat melakukan komparasi diri saya selama Ramadhan dan di luar Ramadhan. Sekarang saya rasa sudah cukup untuk mulai menuliskan hasilnya. 

    Selama Ramadhan saya memperhatikan diri saya dalam beberapa situasi tertentu, ketika saya marah, birahi, lapar dan haus. Kondisi dasar lapar dan haus menjadi framework yang tepat untuk menyaksikan kiprah hawa nafsu dan bagaimana saya memperlakukan tuntutannya. 

    Semua terasa sangat raw, mentah, sangat mendasar. Terasa to the point tapi mudah untuk dihindari (ketika kita sadari kehadirannya). Dan ketika kebaikan yang ingin dilakukan, mudah saja untuk dilaksanakan. 

    Setelah usai Ramadhan, suasana berangsur berubah. Dorongan-dorongan negatif terasa samar, tidak sebesar pada bulan Ramadhan. Perbedaannya, ketika dorongan dosa itu muncul lebih sulit dihindari. Selalu ada second opinion dan alibi-alibi dikepala yang membuat saya menggampangkan dosa. Bahkan saya temukan second opinion ini juga masuk dalam pertimbangan perbuatan baik. 

    Seperti ketika akan memberi kepada seseorang timbul ungkapan: “tapi dia kan begini-begitu” Atau ketika akan menunaikan shalat, hadir dorongan untuk melihat handphone sebentar, sebentaaar saja, paling ngga ada yang penting juga daritadi handphone anteng ga ada yang hubungin. Pilihannya adalah : wudhu kemudian shalat, selesai, atau duduk buka handphone, entah kapan selesai.

    Pilihan dalam pikiran itu sangat sangat jelas terlihat. Pada bulan Ramadhan kemarin saya akan dengan cepat memilih wudhu dan shalat, tapi sekarang sangat berbeda pilihan yang saya ambil. Dan disinilah saya menyadari perbedaannya, ada second opinion yang timbul dan terus tumbuh dari satu alasan ke alasan lainnya di kepala. Yang akhirnya secara halus mendekatkan saya kepada perbuatan salah. 

    Antara dorongan mentah saya sendiri (naluriah manusiawi), dan dorongan yang ditemani pembisik, sangat jauh perbedaannya. Yang pertama seperti menundukkan banteng liar secara head-to-head, yang satu lagi seperti menundukkan ular yang dipegang buntut tapi kepalanya mematuk.

    Dan surah An-Naas menjelaskan lebih jauh akan pembisik dan bisikannya. Surah ini tentang permohonan perlindungan kepada Tuhannya manusia dari kejahatan was-was yang dibisikkan setan dalam segala bentuknya. 

    Satu bisikan yang dituruti, menuntun pda bisikan lainnya, dan seterusnya, dan seterusnya.

     
  • Nyenius 6:05 am on August 9, 2017 Permalink | Reply  

    Nama 

    “Dan Dia ajarkan kepada Adam nama-nama (benda) semuanya…” 2:31

    Sekarang saya sadar, bahwa pantas saja yang pertama kali diajarkan kepada Adam adalah nama-nama benda. Karena tanpa mengetahui nama-nama akan segala hal mustahil budaya dan pengetahuan dapat berkembang. 

    Soal nama ini tersoroti kembali oleh saya ketika sedang mencari barang secara online. Tanpa tahu nama pasti dari barang tersebut, memaksa saya untuk berakrobat dengan beragam kata kunci. Mulai dari mengetik fungsi barang, bentuk barang, lokasi penggunaan barang. Setelah bertemu fotonya, dan saya tahu nama barangnya, beuh sangat mudah sekali mendapatkannya. 

    Pun ketika saya melakukan DIY (do it yourself) perangkat elektronika, suangat pusing ketika saya hanya tahu wujud bendanya tanpa tahu namanya (sampai sekarang masih ada beberapa yang belum ketemu). Selain googling, hal yang plong membantu adalah bertanya ke teman yang lebih ahli elektronika; untuk tahu namanya

    Shakespeare pernah menulis “apalah artinya sebuah nama.” Well, it means everything

     
  • Nyenius 7:50 am on June 30, 2017 Permalink | Reply  

    Membaca Sejarah 

    Saya baru saja selesai menonton film Wilson sebuah film dark comedy mengenai jalan hidup seseorang. Kegelisahan terbesar (dan yang terselesaikan) yang dialami sang tokoh adalah ancaman terhapusnya eksistensi dirinya di dunia. Hal itu terselesaikan dengan tersambung lagi hubungannya dengan anak kandung dan cucunya.

    Melihat tema tersebut saya teringat akan tokoh-tokoh dunia yang tercatat namanya dalam sejarah. Hal itu sangat berseberangan dengan posisi tokoh Wilson baik posisi sosial maupun pencapaian dalam hidupnya.

    Selama Ramadhan kemarin saya coba membaca kembali sejarah peradaban Islam. Buku yang saya pilih adalah Sejarah Umat Islam karangan Buya HAMKA. Hal ini tergelitik dari kondisi politik saat ini yang carut marut, yang menggunakan hampir segala cara untuk menang (atau memang politik selalu seperti itu di setiap zaman).

    Dari menggali kembali sejarah umat islam, saya berharap dapat lebih mengerti situasi saat ini. Baik kondisi negara dan masyarakat pada umumnya, dan posisi saya sendiri dalam sejarah yang sedang bergerak.

    Nikmatnya dari membaca sejarah adalah timbul perasaan tenang dan diri yang tidak begitu kaget melihat fenomena-fenomena saat ini. Karena sejarah bicara dalam rentang waktu yang relatif panjang, membuat hidup kita tampak sebagai butiran debu belaka. Membaca dan mempelajari sejarah menghapus hambatan-hambatan emosional temporer yang kita rasakan dalam hidup sehari-hari sebagai manusia.

    Dan dalam Qur’an, saya bertemu penjelasan mengenai sejarah beberapa kaum yang memang dikehendaki untuk tidak pernah ditemukan oleh manusia sesudahnya. Mereka dan segala pencapaian peradabannya dihapus begitu saja dari muka bumi.

     

    Dua hal yang saya garis bawahi dari pelajaran sejarah, manusia yang tercatat dalam sejarah hanya dua; mereka yang betul-betul brengsek dan yang betul-betul mulia. Keduanya diposisikan sebagai sumber manfaat manusia selanjutnya. Entah sebagai contoh buruk atau sebagai contoh baik. Peradaban manusia adalah hasil pewarisan manfaat yang turun-temurun dan tak jarang pula dari kebencian yang dirawat antar generasi.

     
  • Nyenius 4:02 pm on June 29, 2017 Permalink | Reply  

    Tauhiid fiil Motorcycle 

    Dulu ketika saya mulai gandrung untuk mencuci sendiri motor kesayangan, saya menemukan beberapa kerak kotoran pada motor yang cukup sulit untuk dibersihkan. Beberapa kotoran lebih melekat daripada yang lain. Fenomena tersebut segera menjadi analogi pribadi saya mengenai kondisi hati manusia dan dosa-dosa yang menutupinya. 

    Kali ini ketika saya mempelajari kinerja mesin motor, perawatannya, dan optimalisasinya, saya melihat ‘teknis’ hidup manusia dan ‘teknis’ hubungan makhluk dengan khaliknya. 

    Secara singkat, saya menerjemahkan kinerja motor sebagai penerjemahan mesin dan mekanikal lainnya atas perintah sang pengendara mengenai gerak dan manuver. Sebuah perintah yang disampaikan melalui rangkaian proses komunikasi antar part. Dan semua bagian berperan menentukan bentuk respon yg dihasilkan. Bottleneck atau anomali pada satu rangkaian proses akan menghambat kinerja part lainnya.

    Motor dan seluruh part nya terbayang oleh saya sebagai upaya manusia dalam mengharapkan respon dari Sang Pencipta. Jasmani, rohani, menjadi satu rangkaian ‘kendaraan’ yang tak terpisahkan. Dan Tuhan menurunkan agama sebagai manual book bagi kita para pengendara kehidupan. 

    Hal ini tergambar tepat ketika saya bertanya-tanya tentang hikmah kehidupan saya belakangan ini. Perjalanan lahiriah dan batiniah pribadi saya. Ketika semua upaya telah dibuat dan hasilnya masih belum optimal, apalagi yang kurang? Apalagi yang mesti diperbaiki?

    Dan ketika saya membuka busi motor, menggantinya dengan yang baru dan lebih baik, munculah ilham itu; mungkin ada satu part dari diri saya yang belum ter-maintain belum dioptimalkan. Yang membuat saya segera mengarahkan teropong pertanyaan jauh ke dalam diri sendiri. 

    Membongkar segala ‘ubudiyah dan segala mu’amalah. Mana yang terlewati dan mana yang belum dilaksanakan dengan benar, dan yang paling penting; yang mana dulu yang dikerjakan untuk kondisi saat ini.

    Dimulailah pemetaan ‘part-part’ diri saya sendiri.

     
  • Nyenius 2:10 pm on June 24, 2017 Permalink | Reply  

    See You Later Ramadhan… 

    Tak terasa bulan Ramadhan tahun ini sebentar lagi akan berakhir. Tak sampai seminggu lagi fajar bulan Syawal akan menyingsing. Ada rasa sedih terbetik dalam hati; sedih dan takut. 

    Sedih bahwasannya segala keistimewaan Ramadhan akan berakhir dan takut tak bisa lagi berjumpa, juga takut kehilangan segala kebiasaan baik yang terbina selama Ramadhan. 

    Semoga Tuhan mengekalkan kebaikan-Nya dan semoga Tuhan mengizinkan hal tersebut atas diri saya.

     
  • Nyenius 6:14 am on May 31, 2017 Permalink | Reply  

    Sang Pemberi Hutang 

    Semalam nemu postingan status di facebook, yang mengklaim itu tulisan seorang pengusaha kawakan asal hong kong. 

    Pada masa-masa seperti ini saya ngga bisa percaya sama tulisan-tulisan hasil share copas, ataupun gambar tokoh dengan kata-kata yang dinisbatkan kepada orang/tokoh tertentu. 

    Tapi untuk yang satu ini saya suka dengan isinya. Entah aslinya tulisan siapa, tapi feeling saya orang itu menuliskannya dengan tulus, sepenuh hati, dan berdasarkan pengalaman. Karena saya tahu kondisi yang digambarkan dalam tulisan tersebut. 

    Berikut kutipannya:

    #copasan

    Kata Miliarder Hongkong Li Ka-Shing : “Hal apa yang tersulit? Pinjam uang!”

    Orang yang mau meminjamimu uang, adalah pahlawanmu

    Apabila orang tersebut memberimu tanpa syarat, maka ia adalah pahlawan tertinggi di antara pahlawan-pahlawanmu yg lain.

    Sampai saat ini, pahlawan seperti ini tidak banyak.

    Jika kamu sampai menemukan mereka, hargailah seumur hidupmu!

    Orang bisa bersedia meminjamkan uang ketika kamu kesulitan, bukanlah karena ia banyak uang, tp karena ia ingin menarikmu saat jatuh

    Yang dipinjamkan kepadamu juga bukanlah uang, melainkan ketulusan, kepercayaan, dukungan dan kesempatan untuk berinvestasi di masa depan.

    Saya sangat berharap sobat-sobat sekalian jangan sekali-kali menginjak “kepercayaan”, sekali orang lain kehilangan kepercayaan padamu, maka hidupmu pasti hancur!

    Ingat, kepercayaan kepada orang lain adalah harta seumur hidup!

    Selain itu, tolong kamu catat perkataan di bawah ini :

    Orang yang suka inisiatif mentraktir, bukanlah karena ia punya banyak uang, tapi karena ia memandang “pertemanan lebih penting” daripada hartanya.

    Orang yang suka mengalah saat bekerjasama, bukanlah karena ia takut, melainkan tahu apa artinya “berbagi”.

    Orang yang bersedia bekerja lebih keras dari orang lain, bukanlah karena ia bodoh, tapi karena mengerti apa artinya “bertanggung jawab”.

    Orang yang terlebih dahulu meminta maaf saat berdebat, bukanlah karena ia mengaku salah, melainkan tahu artinya “menghargai”.

    Orang bersedia membantumu, bukan karena berhutang, tapi karena menganggapmu sebagai “teman”.

    Sudah berapa banyak orang yang tidak memperhatikan logika ini? Sudah berapa banyak orang yang menganggap pengorbanan orang lain adalah “hal yang semestinya”?

    Bila orang tulus berjalan, ia akan jalan sampai ke dalam hati.

    Bila orang munafik berjalan, cepat atau lambat ia akan ditendang sampai keluar dari pandangan orang lain!

    Bila pertemanan di antara manusia adalah jodoh, maka hal yang diandalkan hanyalah ketulusan dan kepercayaan!

    Kamu mau menjadi orang seperti apa, semuanya adalah pilihanmu

    Percayalah, hubungan antara manusia harus mengandalkan kepercayaan! Terserah kamu mau pinjam uang atau tidak, yang terpenting kamu harus memberikan kepercayaan!

     Dan baru pagi ini juga ketika saya membaca Qur’an, saya bertemu dengan ayat-ayat yang membahas riba, hutang-piutang, dan jual-beli. 

    Salah satu yang berkesan:

    “Dan jika (orang berutang itu) dalam kesulitan, maka berilah tenggang waktu sampai dia memperoleh kelapangan. Dan jika kamu menyedekahkan, itu lebih. Baik bagimu, jika kamu mengetahui. ” ~ Al-Baqoroh, ayat 280.

     
  • Nyenius 11:40 pm on May 25, 2017 Permalink | Reply  

    Touring Motor (1) 

    Pertama kali saya melakukan touring motor jarak jauh adalah karena adanya kesempatan dan perlengkapan, tapi masih kurang keinginan. Kesempatannya adalah saat itu bertepatan akan adanya acara Kumpul Nasional klub Zippo di Jogja, dan perlengkapannya adalah saya punya motor yang mumpuni untuk itu.

    Acara di Jogja tersebut memberikan saya tujuan, alasan awal untuk melakukan touring lintas provinsi ditambah rasa penasaran ingin menjajal motor Estrella 250cc yang sudah hampir setahun saya pakai. Maka spontan saya coba ajak beberapa kawan untuk ikut touring ini melalui grup medsos komunitas. Namun nihil, tidak ada yang mengiyakan untuk turut serta. Akhirnya lima hari sebelum hari H, saya coba mengajak kawan saya di Depok untuk ikut, dan dia mau turut serta.

    Terlepas dari iya-nya teman saya itu, tetap masih ada yang mengganjal di pikiran saya. Pertama saya hanya pernah naik motor Jakarta-Bandung, selebihnya belum pernah. Tujuan saya saat itu adalah ke Semarang dulu baru ke Jogja. Lewat mana? Saya tidak tahu sama sekali rutenya dan seperti apa kondisi jalannya. Ada perasaan gentar ketika membayangkan jalan jauh, asing, serta musti berbarengan dengan truk dan bis kota.

    Kengerian yang pertama muncul di kepala adalah; celaka yang menyebabkan kematian. Cukup bergidik saya saat itu membayangkannya. Lantas timbul bisikan usil dari dalam hati: “Kamu takut mati?” …. “Bukannya kematian sudah ditentukan?” ….. “Kamu percaya bahwa umur dapat habis kapan pun, dimanapun tidak melihat kamu sedang apa?”….. Saya jawab: Ya tentu saya percaya. Di jawab lagi: “Terus kenapa takut untuk touring? Kalau kamu tidak touring karena ketakutan itu, berarti kamu tidak percaya.”

    Dari situlah bulat tekad saya untuk melakoni perjalanan itu, terlepas jadi atau tidaknya teman saya ikut serta. Bukan berarti saya nekat, hitungan di atas kertas kondisinya sudah mencukupi bagi saya untuk menjajal touring jauh ini. Saya sudah tahunan naik motor dan beberapa kali keluar kota (bandung), dan saya selalu mengevaluasi tindakan saya yang membahayakan di jalan, motor yang sekarang sudah cukup saya kenal karakter dan kemampuannya, sudah ada orang yang pernah melakukannya dengan spec motor yang jauh di bawah motor saya. Selebihnya untuk lebih melogiskan ketakutan di kepala, saya membaca beberapa tips keamanan berkendara dan perlengkapan yang dibutuhkan. Singkatnya saya persiapkan apa yang sekiranya dibutuhkan untuk keamanan dan kenyamanan.

    Dan kondisi lainnya adalah saya dan teman saya sama-sama belum pernah touring jauh, dan sama-sama tidak tahu rute dan medannya. Kami hanya mengandalkan google map dari hp yang di pasang di setang.
    Bersambung…

     
  • Nyenius 11:13 pm on July 2, 2016 Permalink | Reply  

    Datang Lagi 

    Dan hujan mengguyurmerutuki kekosongan

    membasahi relung hati dengan sepi
    sepetik nada blues menggores dindingnya

    memberikan sedikit manis pada pahit

    ruang membuatku ingin pergi

    ayat suci membuatku bersalah

    blues menjadi masuk akal
    Dan hujan mengguyur

    membasahi lahan ketidakpastian baru

    bukan, bukan masa depan menggundahkan

    bukan pula kemalangan menggulanakan

    aku kesepian
    waktuku dan waktunya dan waktu mereka

    tak bertemu padu

    pertemuan menjadi singkat

    perpisahan berasa berat
    hatiku meratap

    merutuk

    sendirian di dalam ruang

    ruang membuatku ingin pergi
    mataku seluruhnya

    tak sanggup memandang Tuhan

    malu sangat
    rasanya tidak ada dimana-mana

    rasanya tidak terasa apa-apa

    rasanya ruangan ini terlalu besar dan kosong

    ruang membuatku ingin pergi
    hatiku menjerit

    dengan derit kaki lemari yang bergeser

    mungkin lelah

    atau entah
    Rasanya rasa ini tak asing lagi

    rupanya, ada waktunya dia kembali

    22:13, 2 Juli 2016

     
  • Nyenius 11:12 pm on July 2, 2016 Permalink | Reply  

    Datang Lagi 

    Dan hujan mengguyurmerutuki kekosongan

    membasahi relung hati dengan sepi
    sepetik nada blues menggores dindingnya

    memberikan sedikit manis pada pahit

    ruang membuatku ingin pergi

    ayat suci membuatku bersalah

    blues menjadi masuk akal
    Dan hujan mengguyur

    membasahi lahan ketidakpastian baru

    bukan, bukan masa depan menggundahkan

    bukan pula kemalangan menggulanakan

    aku kesepian
    waktuku dan waktunya dan waktu mereka

    tak bertemu padu

    pertemuan menjadi singkat

    perpisahan berasa berat
    hatiku meratap

    merutuk

    sendirian di dalam ruang

    ruang membuatku ingin pergi
    mataku seluruhnya

    tak sanggup memandang Tuhan

    malu sangat
    rasanya tidak ada dimana-mana

    rasanya tidak terasa apa-apa

    rasanya ruangan ini terlalu besar dan kosong

    ruang membuatku ingin pergi
    hatiku menjerit

    dengan derit kaki lemari yang bergeser

    mungkin lelah

    atau entah
    Rasanya rasa ini tak asing lagi

    rupanya, ada waktunya dia kembali

    22:13, 2 Juli 2016

     
  • Nyenius 1:10 pm on May 28, 2016 Permalink | Reply  

    Penekanan 

    Orang berkomunikasi awalnya dengan santai, rileks, mengalir. Kalimat per kalimat saling berbalas, sampai kemudian muncul pengulangan kalimat. Muncul pengulangan lagi di sesi komunikasi berikutnya dan berikutnya lagi. Di situ yang terjadi adalah komunikasi mandek. 

    Dan bisa ditebak, penekanan selanjutnya bukan lagi melalui bahasa atau kalimat, tapi perbuatan dan tingkah laku. Itu adalah apa yang umum terjadi selanjutnya ketika komunikasi verbal menemui titik buntu, apapun sebabnya yang jelas para komunikator yang terlibat mempunyai andil atas kebuntuan tersebut. 

    Tahap itu menjadi krusial karena menentukan nasib selanjutnya dari komunikasi mereka apakah terputus disitu atau terjadi pemahaman-pemahaman baru. 

    Masa-masa penekanan non-verbal biasanya akan terasa sangat tidak nyaman dan emosional. Situasi yang membuat penekanan yang dilakukan hampir tidak menciptakan hasil yang diharapkan dari motivasi dasar penekanan itu terjadi. It is a matter of whom broke their ego first

    Dan tak terbayangkan berbagai bentuk perilaku yang dibuat dengan tujuan menciptakan penekanan maksud ini. Bermacam-macam, bahkan sebagian bisa dikatakan sebagai perilaku yang anomali.

    Ketika dapat kembali ke bahasa verbal, bersyukurlah. Karena pola itu yang lebih dapat diterima oleh kebanyakan manusia. Harapan akan sinergi selanjutnya meningkat ketika titik ini dicapai. Dan kuncinya, kejujuran dari semua pihak dan tentu saja; lapang dada. 

    All ears!

     
c
Compose new post
j
Next post/Next comment
k
Previous post/Previous comment
r
Reply
e
Edit
o
Show/Hide comments
t
Go to top
l
Go to login
h
Show/Hide help
shift + esc
Cancel