Updates from June, 2007 Toggle Comment Threads | Keyboard Shortcuts

  • Nyenius 11:34 pm on June 12, 2007 Permalink | Reply  

    Siluet 

    Terkurung aku dalam,
    Siluet magentamu yang tak bercela,
    Tak ada kehangatan kini,
    Hanya silau,
    Dan rindu yang separuh sisa,
    Karena tawamu dalam diam,
    Bahwa kau tak pernah,
    Butuhkan purnama,
    Hanya sang surya!

     
  • Nyenius 11:52 am on May 28, 2007 Permalink | Reply  

    Cinta yang terbuang 

    Cinta Yang Terbuang

    saat malam menggantikan siang
    hati ini tak tenang memikirkan kau di sana
    Namun apa yang ku dapat saat itu
    Kau bersanding bersamanya

    Hancurnya hatiku
    Perihnya luka hatiku
    Bagai ombak yang menerpa karang
    Menghancurkan karang yang kokoh

    Bunga cinta yang slama ini ku bina
    ternyata tak kau tanggapi
    Buih cinta yang kuberikan padamu
    Kau buang begitu saja ke semak penderitaanku….

     
    • adhiedeath 11:52 am on May 28, 2007 Permalink | Reply

      Dist,,,ni kisah nyata U ya.?Dalem bgt ci,,,,,,

  • Nyenius 3:48 am on May 22, 2007 Permalink | Reply  

    puisi Cinta 

    Tarian Cinta ‘Utada Hikaru’

    huh… dimana cahyamu yang kau janjikan
    dua masa kumenanti kehadiran seseorang
    seseorang yang mau mengerti tentang asaku
    menari dalam tarian Misteri Cinta
    rasanya enggan tuk pergi dari Jiwamu
    aku ingin menjadi angin saja
    yang slalu membangkitkan Gelora
    dan mengantarmu pada keabadian
    setiap detik…
    mengapa kau slalu membayangi kesendirianku.?
    Kenapa langkah ini ingin berhenti dihadapmu.?
    Aku malu dengan malam yang mengejekku
    dalam rentan waktu ku masih mengikutimu
    dan mencoba berjalan senada denganmu
    semua ini kuturuti rasa hati

    maka izinkanlah aku bersandar di bahumu
    membuat rona yang berbunga
    ku harap kau akan menyukai ini
    menjadi kenyataan…

     
  • Nyenius 12:58 am on May 8, 2007 Permalink | Reply  

    kuingin lagi 

    malam sunyi menghiasi hariku di tengah kesepian
    hembusan angin tak lagi sejuk malah menusuk
    bintang dimanakah engkau?
    kurindukan cahayamu….

    kupendam kerinduan hingga menjadi lubang
    yang penuh angan dan impian
    tak lagi kuberlari dalam riuh kehiduan
    hanya malam dan keheningan

    dimanakah mentari saat kucari?
    terlambatkah aku menyadari?
    keluguan yang dihiasi senyum tertahan penuh makna

    turunkah rembulan saat kupanggil?
    kumengelak dengan dalil….
    semua tentangmu, yang selalu menari dalam mimpi

    bibir ini berkata muak
    namun hati berkata tidak
    adakah kesempatan lain untukku?
    berharap akan rindumu yang telah lama menjadi debu

     
  • Nyenius 4:30 pm on January 17, 2007 Permalink | Reply  

    QUite 

    Dalam diam kau berbicara
    Dalam diam kau berharap
    Dalam diam kau menghakimi
    Dalam diam kau menyiksa
    Dalam diam kau memberiku kesempatan
    Dalam diam kau memberiku satu arti
    Dalam diam kau membuatku mengerti
    Dalam diam kau membuatku berfikir
    dan..
    Dalam diam ku pun penuh harap
    Dalam diam ku pun berdoa …
    Cukup !!
    Jangan ada lagi diam
    Jangan ada lagi diam
    Jangan ada lagi diam yang menyesatkan !!

     
    • Toba 4:30 pm on January 17, 2007 Permalink | Reply

      sabar ye, namanya juga idup, jitak aje!

  • Nyenius 1:52 pm on September 14, 2006 Permalink | Reply  

    Terimalah diriku 

    Kesepian menemani hidupku
    yang selalu melingkari, dan memanggil rindu
    mengingat tampang seorang pujaan
    terlintang dia disetiap lamunan

    Dirimu tak dapat kutinggalkan
    wajah cantikmu tak dapat aku lupakan
    terimalah daku menjadi seorang raja
    mendamping hidupmu yang selalu tetap setia

    Hayalku mengikuti wajah indahmu
    tidurku bermimpi bibir manismu
    tiap langkahmu akan kujejaki selalu
    mengintai gerak,cinta yang aku tunggu.

     
    • Ade 1:52 pm on September 14, 2006 Permalink | Reply

      puisi ini amat bagus bagi kehidupan gue. loe dapet inpirasi dari mana, gue mau tahu.

  • Nyenius 8:11 pm on June 12, 2006 Permalink | Reply  

    untuk lelaki tangguhku 

    seperti baja kau keras, tak tergoyah
    bagaikan batu kau diam membisu
    tak bisa luluh….
    apalagi kutaklukan

    napasmu napas pejantan
    warnamu merah membara
    hatimu keras sekeras karang
    senyumu….., sungguh teramat mahal

    angkuh benar pribadimu…….
    bertahta diatas kesombongan
    kokoh tak bergeming

    kutantang kau dibara rindu
    aku bersumpah….akan kulebur kerasnya baja
    diatas lahar cinta yang membara

    hai lelaki tangguhku…
    kau semakin mempesona


    (dalam keterasingan, california juni 2006)

     
  • Nyenius 1:45 am on March 4, 2006 Permalink | Reply  

    18 Detik Menuju Matahari Terbit 

    Sepertinya benar, bagian malam yang tergelap adalah beberapa saat sebelum fajar menjelang. Tak hanya bagian yang paling gelap, tapi juga paling dingin dan paling sepi. Bertolak belakang dengan senja yang terasa hangat, yang menemani setiap manusia untuk pulang ke peristirahatannya. Bukankah itu berarti keadilan Tuhan. Maka, tak ayal, ada berjuta makna implisit dibalik beberapa jam sebelum fajar, dan beberapa jam setelah matahari tenggelam.

    Suatu sore yang indah mungkin diwarnai derai canda tawa, yang nyata. Penghujung malam yang dingin mungkin berwarna gelap, segelap kenyataan pahit akan kehilangan. Di tengah itu semua terbentang beberapa jam yang ditulisi oleh kenangan. Yang, ketika coba ditulis dalam sebuah buku, entah tinta mana yang mampu menggores berjuta kenangan itu. Baik hitam, putih, emas, merah, canda, tawa, air mata, darah, dingin, kesal, kangen, rindu. Mungkin juga jenis-jenis perasaan yang kita tak pernah tau bentuknya. Perasaan yang muncul ketika, kita rela meminjamkan jaket kita, di tengah hujan, ditengah motor yang melaju agak cepat.

    Ketika malam semakin dingin, dan tak ada kalori lagi yang tersisa untuk dibakar. Tanya pada dirimu, apa yang kau harapkan selain kehangatan matahari pagi? Ketika mata tak sanggup memejam, setelah sekian titik air mata yang keluar, tanya pada dirimu, bukankah cuma senyuman Ia yang kau harapkan.

    Lalu, ketika matahari tak pernah muncul, dan senyuman itu tak pernah ada, apa yang kamu mau? Memaki Tuhan ato kembali menangis? Atau, berlari dari kenyataan, yang kau anggap itu lebih gentle?

    ah sudahlah, kata hatimu tak pernah sinkron dengan isi otak kecilmu! Hasrat memilikimu tak pernah seimbang dengan besar rasa cinta tulusmu.
    Kamu masih muda, tak pernah tau artinya memberi tanpa memiliki, yang selalu kamu banggakan itu. Kamu masih muda, tak tau bagaimana melihat mana keabadian yang jelas mana yang semu.

    Malam yang paling gelap akan berubah menjadi fajar yang hangat, ketika kamu mampu memandang keseluran rangkaian malam yang ada. Dan dalam 18 detik menjelang matahari terbit ini, pikirkan, jangan pernah berharap apa-apa. Hadapi, dan jangan lari.

    kamu masih muda …

     
  • Nyenius 1:44 am on March 4, 2006 Permalink | Reply  

    Pertama! 

    Kemarin sore, matahari terasa terbenam lebih cepat. Dan beberapa hari ini, seakan-akan cuaca memaksa tiap manusia untuk tidak meninggalkan tempat teduhnya. Memang cuaca yang agak aneh ini terjadi sejak seminggu keberangkatan Putri Dyah Pitaloka ke Majapahit. Sudah sudah, jangan coba memikirkan yang tidak-tidak. Matahari tidak pernah bersekutu dengan bala tentara Syiwa untuk menurunkan murkanya ke dunia.

    Seperti baru kemarin gadis kecil itu berjalan tertatih di pendopo. Merengek-rengek dihadapan sang Ratu. Menangis kecil. Melompat-lompat kegirangan. Kemudian berteman dengan malam yang menjaganya untuk senantiasa terlelap dalam mimpi indah. Ketika kecil Ia adalah cahaya mata sang Bunda. Kelak setelah dewasa Ia adalah permata Priangan yang tersohor hingga ke negeri seberang. Kini Tuan Putri harus pergi, atas nama persatuan Nusantara.

    Bunda, Kenapa Hujan Tidak Turun Merata?
    Dalam satu sore, di ujung pendopo, sang Putri bertanya kepada Sri Ratu,
    “Bunda, kenapa hujan tidak turun merata?”
    Agak samar memang aku mendengarnya, tapi suara manja gadis kecil itu seperti memiliki malaikat yang menyebar untuk mengetuk gendang telinga orang yang berada disekitarnya.
    “Itu karena Tuhan adil nak, di satu sisi diberi berkah agar kita selalu mensyukuri dan tidak sombong. Di sisi lain tidak diberi agar kita selalu berusaha”, jawab sang Ibu.
    “Kalau Tuhan memang adil, mustinya semua orang bisa bahagia?”, bantah Putri Dyah Pitaloka.
    “Anakku, pohon semakin tinggi, semakin kencang anginnya. Lautan semakin dalam, semakin gelap dia. Semakin dekat dia dengan Tuhan maka semakin berat juga ujiannya”, lanjut Bunda
    “…, maksud Bunda”,
    “Nak, keadilan bukan pemerataan segala sesuatu …”
    “eng …”, termenung, entah paham atau tidak apa yang diceritakan Sri Ratu.
    “Kelak ketika kau dewasa, dan mendampingi penguasa Sunda Galuh ini, engkau akan mengerti.”

    Cahaya Mata
    Masih dari kejauhan, aku terus memandang tak berkedip. Saraf-sarafku tak mampu menerjemahkan gambaran yang diterima oleh retina mata ini. Pengaruh aura sang putri terasa lebih kuat. Dimensi yang jauh berbeda dengan dimensi yang umum diterima mata. Lama kemudian saraf-saraf itu mulai melemah, dan satu persatu mulai meneruskan sinyal-sinyal yang masuk ke dalam hati.

    Sekiranya ada hal yang lebih hebat dari otak dalam urusan interpretasi dan optimasi sinyal-sinyal yang aneh, pasti hanya hati. Sayangnya, Ia terlalu dikuasai perasaan. Kadang optimasinya menjauh dari akal sehat, meskipun solusinya konvergen. Seperti untuk kejadian saat ini, kenapa sinyal itu ia terjemahkan sebagai kasih sayang.

    Menggapai bintang, bukanlah hal yang sulit untuk mereka yang tinggal dalam gugusan langit. Tapi bagi kami para penduduk bumi, bintang hanya bisa kami pandang. Diabadikan di posisi paling dalam di jiwa. Ketika ia menatap kami, hati kami menjadi terang benderang. Apalagi ketika ia berbicara pada kami, detik-detik tutur suara yang tersampai seperti menggeser posisi matahari.

    Kami yang duduk dalam tataran primordial langit dan bumi, yang terposisikan di bawah langit, berdiri dibawah payung keteduhan awan, hanya bisa memandang dan mengagumi sang putri. Namun, ketika malam sudah menggelap, dan para Ksatria Langit tak mampu lagi melindungimu sang putri.
    “Kamilah yang pertama!”
    Yang berangkat dari bumi yang paling dalam, telah terbentur oleh batuan yang paling keras, telah terkungkung oleh ruangan tanpa cahaya sedikitpun. Kami yang bertingkah dengan sedikit asap di jari kami, yang tidak mengenal teknologi perapih diri. Kamilah yang pertama! memapahmu ketika kamu tak mampu berjalan, berada di depanmu ketika anak panah bergerak tepat menuju kepalamu.
    Kami yang pertama mencium kesedihanmu, menghisapnya untuk segera pergi dari senyumanmu.

    Sayang, sebelumnya, kami harus mengalahkan Ksatria Gugusan Langit!!!

    Palagan Bubat
    Langit berkata, “Tuan Putri jangan pergi”.
    Aku masih terdiam duduk, tanpa bisa apa-apa.

    Teka ratu Sunda maring Majapahit, sang ratu Maharaja tan pangaturakan putri. Wong Sunda kudu awaramena tingkahing jurungen. Sira Patihing Majapahit tan payun yen wiwahanen reh sira rajaputri makaturatura.

    Ingin aku pergi ke Tegal Bubat, berada disisimu, menjadi orang yang terakhir berdiri.

     
  • Nyenius 1:42 am on March 4, 2006 Permalink | Reply  

    Pagi, Hujan, dan Senja 

    Dan matahari pun belum muncul, ketika hujan sudah memberikan perlawanan di awal hari ini. Cuma satu hal yang bisa dipaksakan dalam kondisi seperti ini, pergi kembali ke tempat tidur, melanjutkan mimpi tentang dirimu tadi malam. Tuhan memang adil, ketika kita hampir sampai di klimaks mimpi kita, maka sampai pula jarum pendek itu ke angka 5. Puncak mimpi itu diikuti oleh dering alarm. Menggangu? Bagiku tidak. Karena malam nanti akan kutemui kamu lagi dalam mimpi indah yang sama, tentunya dengan cerita yang beda. Karena cuma dalam mimpi, manusia dapat berpikir bebas. Imajinasi diriku dan dirimu dalam mimpi itu seperti derasnya hujan pagi ini yang memaksa semangat para pekerja untuk tetap berada di tempat tidurnya. Ia tidak mengenal perlawanan.

    Shall I compare thee to a summer’s day?
    Thou art more lovely and more temperate:
    Rough winds do shake the darling buds of May,
    And summer’s lease hath all too short a date:

    Tidak. Dia tidak bisa dibandingkan dengan kehangatan musim panas. Dimensi kehangatan tatapan matanya lebih agung ketimbang dimensi fisis kehangatan matahari. Tatapan yang kemudian menjadi alasan, kenapa seorang bayi tidak pernah menyerah saat terjatuh pada waktu pertama kali belajar berjalan. Lalu dia menjadi alasan bagi seorang Ayah untuk meninggalkan anak istrinya di pagi hari, menuju kenyataan pahit kehidupan yang penuh ketidakjujuran.

    Kembali kutemui Ia, di penghujung hari, saat pertemuan matahari dan bulan. Sedikit cahaya kemerahan menjadi latar warna pada detik itu. Hujan masih meninggalkan bekas di dedaunan. Titik-titik sisa hujan itu bertemu dengan ujung jarinya. Sambil berjalan perlahan, Ia pergi menjauh, menuju titik perspektif senja.

    “Even if I’m invited by the brilliant wind
    I’ll still keep following after you in my dreams
    And even now, the sky in its downpouring blue
    I look up and it wraps me up”

    Akhirnya malam telah datang, rangkaian hari ini telah selesai. Detail bayanganmu di sepotong senja, lengkap dengan lembayung dan desau angin, telah terekam dalam tiap neuron otakku. Maaf, jangan pernah kamu minta itu untuk dihapus. Maaf sekali lagi, jangan pernah Anda mencoba mencurinya. Ia, hanya menjadi milikku, meski dalam imajinasi fiktif.

    Dan malam kembali menguasai dunia.
    Aku kembali terlelap dalam mimpi-mimpi.

    “dalam doa malamku kau menjelma denyut jantungku,
    yang dengan sabar bersitahan terhadap rasa sakit
    yang entah batasnya, yang setia mengusut
    rahasia demi rahasia, yang tak putusputusnya
    bernyanyi bagi kehidupanku

    Aku mencintaimu, itu sebabnya aku tak akan pernah
    Selesai mendoakan keselamatanmu.”

     
    • ita meliala 1:42 am on March 4, 2006 Permalink | Reply

      sepertinya penggalan puisi yang terakhir itu terambil dari puisinya sapardi djoko damono yach kalo gak salah . tapi salut menyentuh banget untaian kata2nya setiap aksara yang teukir mewakili perasan

c
Compose new post
j
Next post/Next comment
k
Previous post/Previous comment
r
Reply
e
Edit
o
Show/Hide comments
t
Go to top
l
Go to login
h
Show/Hide help
shift + esc
Cancel