Updates from October, 2010 Toggle Comment Threads | Keyboard Shortcuts

  • Nyenius 12:01 am on October 31, 2010 Permalink | Reply
    Tags: doa ulang tahun   

    Selamat Ulang Tahun Subhan Toba 

    Terima kasih Tuhan, atas segala luka yang kau titipkan, terima kasih Tuhan atas segala sedih yang kau hibahkan, terima kasih Tuhan atas kebodohan yang Kau tanamkan, terima kasih Tuhan atas pemahaman bahwa bahagia adalah efek samping dari pengolahan atas semua ‘hal-hal negatif’ tersebut.

    Sekarang bertambah umur saya, dan genap berkurang jatah saya di dunia. Kepada diri yang bodoh ini, saya hadiahkan sebuah puisi.

    Dia yang Merasa Puas

    Dia yang merasa puas akan pencapaiannya
    Akan mati hari ini juga

    Dia yang merasa puas akan pencapaiannya
    Akan tersia-sia dari kecukupan
    Sebab ditutupnya gerbang langit luas
    Dan didudukinya kursi kebijaksanaan yang paling rendah

    Dia yang merasa puas akan pencapaiannya
    Akan mati saat ini juga
    Waktu hatinya mebubung ke langit
    Dan mementahkan segala realita

    Ia tak akan berkembang
    Menjadi pulau yang luas
    Ia tak kan mampu terbang
    Sebebas burung lepas

    Dia yang merasa puas akan pencapaiannya
    Semata karena kebanggaan akan dirinya
    Akan hancur mulai sekarang juga

    Dia yang merasa puas akan pencapaiannya
    Semata karena kesombongan
    Telah menutup kalbu
    Akan jatuh berdebam dan kesepian

    Dia yang merasa puas akan pencapaiannya
    Dan berjalan dengan kekaguman akan dirinya
    Telah lupa; bahwa dia manusia

    Toba, 22/08/02

    Tuhanku, jangan putuskan rahmatMu, Tuhanku, jangan, jangan, jangan matikan aku dalam keadaan zalim….

     
    • nazla 4:19 am on October 31, 2010 Permalink | Reply

      met ultah! Semoga tetap nyinyir ya. Kenyinyiran elu selalu membangunkan sel-sel otak kelabu gue. Barakallah fi umrik 🙂 *copy-paste dr twitter*

    • SiGalingMaut 7:11 pm on October 31, 2010 Permalink | Reply

      Wilujeng tepang tahun ba…. klo mau durennya,loe kesini dl,tar gw beliin,sampe loe kenyang,sbagai hadiah ulang tahun loe 😀

    • M. Rizky Avesena 11:14 pm on October 31, 2010 Permalink | Reply

      Silahkan mampir ke dedicated pages saya:
      http://nyenius.com/2004/10/30/1138/tambah-satu-sobat/
      Walaupun sudah puisi itu berumur 6 tahun lamanya, saya masih inget betul, hari itu ditraktir nasi padang di Depan IAIN 😀

      Sekali lagi,Selamat Ulang Tahun Bpk Toba semoga berkah selalu menyertai perjalanan hidup anda 😉

    • Subhan Toba 12:00 pm on November 2, 2010 Permalink | Reply

      to ALL: thanks a lot atas ucapan dan doanya 🙂 appreciate it so much 🙂

  • Nyenius 1:01 am on October 29, 2010 Permalink | Reply
    Tags: akad nikah, fase-fase setelah lamaran, lamaran, masa-masa sebelum pernikahan, nikahan, resepsi pernikahan   

    Masa-masa Menuju Hari “H” (pernikahan) 

    Mumpung bulan haji, mumpung lagi musim kawin orang-orang, saya ingin mengangkat topik mengenai ‘hari-hari menuju hari H (pernikahan)’. Saya akan coba berbagi mengenai pengalaman saya, dan beberapa orang kawan mengenai hari-hari dan detik-detik menuju hari H, yaitu detik-detik setelah lamaran hingga akad nikah.

    Pengkondisian
    Ketika membaca tulisan ini, saya minta Anda tenang sejenak, letakkan alat tulis, kopi, rokok, bungkus-bungkus kondom yang sedang dibaca manualnya, dan segala macam yang dapat mengalihkan pikiran dari rasa tenang. Bayangkan diri anda duduk di ruangan yang nyaman, beraroma cemara, dinding-dindingnya dilapisi motif kayu berwarna cokelat. Anda duduk di sofa 1 seater (1 dudukan) yang cozy dan nyaman.

    Setelah Anda merasa nyaman, sekarang nikmati kopi atau minuman apapun yang tadi sedang Anda nikmati, secara perlahan-lahan. Nikmati kopinya, tehnya, air putihnya, jus, air soda, limun water, apapun. Kalau minumannya sudah dingin, bayangkan itu hangat. Kalau minumannya adem-adem aja, bayangkan itu dingin menyegarkan. Kalau tak beraroma, bayangkan itu minuman dengan aroma minuman yang Anda sukai. Hmmmm, nikmaaatttt…

    Lupakan semua hiruk pikuk sekitar, hiruk pikuk pekerjaan, hiruk pikuk persiapan pernikahan, hanya ada Anda sendiri di ruangan nyaman ini, di sofa yang nyaman dan lembut. Dan begitu Anda sudah rileks, bayangkan di depan Anda terbuka sebuah layar besar, berisi tulisan-tulisan di bawah ini:

    (FADE IN)Masa-Masa Menuju Hari “H” (pernikahan)

    1. Merasa tidak pasti, was-was tanpa sebab mengenai ‘jadi-tidaknya’ hari H. “Eh, insyaallah gue mau married tanggal sekian, bulan sekian. Tapi lo diem-diem aja dulu ya, sampe gue kasih undangannya buat yang laen.” Ini perasaan yang umum sekali. Entah kenapa, ada rasa takut kalau terlalu banyak orang yang tahu mengenai tanggal jadi hari H dapat menjadi jinx buat acara pernikahan kita.

      Word of the wise: Yes, it’s alright to keep it low profile first.
    2. Semua yang tersembunyi dari si dia mulai tampak ke permukaan. Tidak peduli sudah berapa lama (tahun) kita kenal dekat lewat jalur pacaran dengan pasangan kita, yang namanya manusia tetap ada sisi-sisi pribadi dan harapan tersembunyinya. Pada masa ‘pasca-lamaran s/d pra-nikahan’, hil-hal yang tadinya tersembunyi mulai terkuak sedikit demi sedikit. Dan tidak jarang hal tersebut cukup mengagetkan kita; “Loh, ternyata dia orangnya begitu toh?” Dan belek cinta yang sedari kemaren-kemaren nutupin mata kita mulai rontok, berganti; REALITA.

      Word of the wise: Perkawinan sama seperti kita mulai berteman, mulai berpacaran, perkawinan adalah awal baru untuk mengenal seseorang lebih dalam lagi, dalam sebuah proses berkenalan (saling memahami) yang abadi antara kita dan pasangan kita. Untuk menghindari ‘rasa kaget yang tak perlu’, jangan pernah merasa yakin bahwa kita sudah mengenal seseorang 100% luar-dalam.
    3. Makin sering berantem. Mendekati hari-hari bahagia, hari ketika semua orang mulai memaksa kita sekamar berdua (tidak seperti pas pacaran), hari-hari justru terasa dilewati dengan pertengkaran demi pertengkaran. Bahkan terkadang sampai ada pertanyaan; “Is he the one for me?” sambil sesenggukan di kamar atau curhat ke temen.

      Ya kalo emang jodoh sama tu orang, pasangannya dapet temen curhat yang wise, yang nenangin. Tapi kalo gak jodoh, bisa jadi Tuhan ngasih temen curhat yang goblok, menyamakan saran buat orang yang mau nikah dengan saran buat orang pacaran; “Ya udah kalo gak cocok bilang aja, cegah dari sekarang, sebelum lo keburu dikawin” (apalagi kalau yang diminta saran statusnya belom kawin juga, gubrak aja deh).

      Word of the wise: Ini sebetulnya pertengkaran biasa. Yang membuatnya terasa intens adalah karena Anda sedang intens kerja bareng memenuhi dead-line rencana bersama anda. Dan seringkali dibumbui perasaan melankolis “padahal kita kan gak lama lagi mau nikah…”, stop it! Ketahuilah, Anda berdua hanya sedang capek saja, batasi curhat-curhat mengenai pertengkaran Anda kepada pihak yang tak kompeten, karena tidak ada yang bisa menyelesaikannya kecuali Anda berdua. Pelankan bicara, dan mulai mendengarkan, memahami.
    4. Bingung dengan permintaan-permintaan dari dua pihak keluarga. Guys, girls, ketika kita akan menikahi seseorang, harap juga disadari, bahwa kita pun akan ‘mengawini’ keluarganya, dengan kita dan keluarga kita. Tarik menarik kepentingan dari dua keluarga menjelang pernikahan itu wajar. Sebab ini baru pertama kali mereka berinteraksi. Ditambah lagi, pada acara sepenting ini, tak jarang mereka punya harapan-harapan/keinginan tersendiri. Soal bentuk acaranya, tempatnya, tamu undangannya, hidangannya, sampe kita-kita mikir; “Ini siapa siiih yang mau kawinnnnnn??

      Word of the wise: Ketika keluarga Anda dan keluarga pasangan seperti sedang tarik menarik kepentingan, jangan memihak (bahkan ke keluarga anda sendiri)! Solusinya adalah, Anda berdua yang harus kompak.
    5. (Guys only) Semua wanita tampak available dan mudah didekati. Tidak peduli sebelumnya Anda petualang cinta atau bukan, setelah saya survey secara personal ke 2 jenis pria itu, saya dengan yakin mengatakan; mata mustang Anda, mata kuda liar yang terpendam di lubuk hati Anda akan terbuka (atau semakin terbuka) lebar.

      Banyak perempuan -baik di lingkungan Anda, maupun yang baru lewat- menjadi terlihat seperti mengundang, available, mulut lebih ringan untuk memulai pembicaraan dengan lawan jenis, dan obrolan yang dulu nggak kepikiran mengalir begitu saja, sampai akhirnya berfikir; “Anjrit, kemana aja gue kemaren-kemaren? There are lots of them, and I don’t catch them all.” wakakakakakakaka


      Word of the wise
      : Kalau anda pernah penasaran kenapa bapak-bapak pada genit, dan ibu-ibu candaannya jadi pada mesum, ini awal mulanya :p. Keberanian Anda berbicara dengan lawan jenis, mungkin didasari dari psikologis Anda yang mengatakan “Ah, gue udah punya seseorang yang pasti, jadi nothing to lose-lah kalo ‘ditolak’ sama cewek manapun” Dan mungkin memang pada taraf tertentu, pria berkomitmen terlihat lebih menarik dan menantang bagi sebagian wanita. Hahahahahahahaha (ketawa ngelirik Aves). Jangan terbuai, anggap itu cobaan aja.
    6. Baru sempat menghapal ijab-kabul beberapa jam sebelum akad nikah (kemana aja selama ini *nohope*). Saking sibuk dan bingungnya mempersiapkan segala sesuatu buat hari H, justru kalimat pamungkas seringkali terlupakan. Begitu pagi hari menjelang akad baru deh tanya sana-sini soal kalimat ijab-kabulnya. Yang ngeselinnya, udahan baru ngapalin, ternyata ada dua versi pengucapannya:

      1. “Saya  terima nikahnya, anu binti anu dengan mas kawin perhiasan emas seberat 35,6 gram dan seperangkat alat solat dibayar tunai.”
      2. “Saya terima nikahnya, anu binti anu dengan mas kawin tersebut dibayar tunai

      Saya sendiri waktu itu bingung, mesti pake yang mana. Uwa saya menyarankan yang mudah, sedang yang lain bilang yang lafalnya harus lengkap. Saking bingungnya, sewaktu acara sambutan-sambutan sebelum akad, saya menghampiri mertua lelaki calon istri saya, yang notabene saya belum pernah kenal (maklum backstreet :p ), dan nanya, “Pak, akadnya pakai yang mana?”

      Word of the wise: Di sela-sela studi anda mengenai ajaran Kamasutra dan ajaran ‘posisi sex yang aman dan nyaman walau di luar kamar banyak orang’, luangkanlah waktu untuk menanyakan perihal kalimat ijab-kabul ini kepada orang tua, sesepuh di lingkungan anda, dan terutama kepada calon mertua Anda. Terkadang adat kebiasaan di tempat sana agak (atau jauh) beda dengan kita.
    7. Bantuan ajaib soal biaya pernikahan. Sebelum saya mendapat ‘panggilan’ untuk menunjukkan keseriusan saya, kondisi keuangan saya sedang minim, karena belum punya kerjaan tetap, masih kuliah pula. Ndilalah nya, begitu saya menyanggupi untuk datang ke Jogja (dari jakarta), seminggu sebelum ngelamar, saya dapet proyek pengadaan interior warnet, yang cukup untuk acara lamaran nanti. Dan setelah lamaran, menuju hari H, alhamdulillahnya saya dapet proyek yang lebih besar lagi, cukup untuk nutupin keperluan hari H.

      Cerita semacam ini gak akan habis, karena begitu saya tanya teman saya, karyawan saya yang hidupnya saya tahu pas-pasan. Semuanya memiliki cerita yang serupa. Sebab itulah saya gak pernah terima alasan orang yang belum mau nikah karena alasan biaya. Karena entah kenapa, begitu kita menyatakan ketegasan hati untuk menikah, seolah Tuhan mengerahkan alam seisinya untuk membantu kita mewujudkan pernikahan itu.

      Word of the wise: Yang terpenting adalah tekad Anda untuk menikah, untuk berbuat baik dengan pernikahan itu, untuk menghalalkan sesuatu yang tadinya haram. Selanjutnya teruskanlah ikhtiar yang sedang Anda jalankan, dan biarkan Tuhan memainkan matematika-Nya. Disitu Anda akan lihat, betapa 1+1 tidak sama dengan 2.
    8. Lupa apa yang terpenting. Konflik, gengsi, bayangan resepsi ideal, mas kawin yang wah dan unik, berpotensi menghalangi mata dari apa yang utama sesungguhnya di balik semua itu; Anda akan menjadi suami-istri.  Anda akan mengizinkan ‘orang lain’ hidup bersama Anda, berbagi makanan dan minuman, berbagi kasur dan selimut, hidup bareng selama 24jam x umur hidup Anda, berbagi teman dan berbagi musuh, berbagi hak dan kewajiban, berbagi jiwa dalam persatuan rasa pengertian.

      Word of the wise: Resepsi adalah resepsi, inti dari resepsi pernikahan adalah memberitahukan orang banyak bahwa si anu menikah dengan si anu. Yang paling penting adalah hari-hari sesudah resepsi. Hari-hari dimana hanya ada Anda berdua, tanpa tamu-tamu resepsi yang mengagumi betapa serasinya Anda, mewahny jamuan pesta Anda. Hari-hari Anda menghadapi jalan pernikahan dengan segala variabelnya.

    Sekian sedikit share dari saya, berdasarkan yang pernah saya dengar, tahu, dan rasakan. Apabila ada poin yang perlu ditambahkan atau dikoreksi, jangan sungkan untuk menyampaikannya pada bagian komentar tulisan ini :).

     
    • nazla 7:23 am on October 29, 2010 Permalink | Reply

      Bbbeuuuh, lu kaya kakek2 yg udah nikah puluhan taun

    • fahdi 8:06 am on October 29, 2010 Permalink | Reply

      nah, nulis yang bermutu kayak gini.

      forward ke milis pernikahan 🙂

    • pipit yulius 11:13 am on October 29, 2010 Permalink | Reply

      Wooww… Keren tulisannya kak…
      Gw mau nikah bln desember nanti, harus dibaca jg nih sama pacar gw kak…. 😀

    • reza avesena 11:54 am on October 29, 2010 Permalink | Reply

      Nice Share gan,,,, mayan buat bekel 😀

    • diana 12:43 pm on October 29, 2010 Permalink | Reply

      hoho..
      two thumbs 4 u bro…
      it`s real… i have feel it..

    • nyurian 4:21 pm on October 29, 2010 Permalink | Reply

      pasti ada plugin nye. bangsat. guwe akan biin lw komen dengnan nyaman di tempat guwe…!!!

    • nyurian 10:57 am on October 30, 2010 Permalink | Reply

      guwe demen tuh pengkondisian nya.
      *untung layar guwe gede ba.

    • nyurian 11:11 am on October 30, 2010 Permalink | Reply

      tambahan poin 5, cewenya ngomong “yakin nih gak mau TUKER TAMBAH…”

      *komen pertama gak penting, komen kedua cuman baca awal doangan, komen ketiga abis baca semuanya… 😀

    • Subhan Toba 12:10 am on October 31, 2010 Permalink | Reply

      @nazla, gak ngerti darimana kesimpulan itu terjadi…

      @fahdi, ini semua karena kamu nyek,,,

      @pipit, waaah gitu, selamat-selamat, semoga sukses sampai tujuan 😀

      @reza, bekel makan apa bola bekel? :p

      @diana, ya kan terinspirasi dari curhat lo juga na :p

      @nyurian1, perhatian kalimat itu merupakan dendam positif gw kepada nyurian, karena dia mengeluh gak nyaman komen disini kalo mesti isi name, email, webshit… Sekarang dah gue bikin bisa login pake web service apapun… demi kamuuu reeeee

      @nyurian2, kalo butuh pengkondisian-pengkondisian lanjutan, you know my number, siapin aja minyak (???)

      @nyurian3, dibales, “kalau sistem gadai aja gimana neng?”

      to all: gue tambahin poin baru, poin ke delapan (8) 🙂

    • Jafar Shadiq 5:45 pm on October 31, 2010 Permalink | Reply

      @nyurian3 @nyenius: ada buy back warranty (klu tyt ga puas) ga??

      overall, ini adalah satu tulisan yang baik. Penjelasan yg dilakukan cukup gamblang dan mengena. Bagi anda yang belum menikah dan ingin menikah, atau sedang dalam proses akan menikah, ingatlah petuah dari aki @nyenius.

      Dan bagi anda yang telah menikah, ingatlah… “Mandilah SEBELUM dan sesudah berhubungan suami istri”

    • SiGalingMaut 7:13 pm on October 31, 2010 Permalink | Reply

      Njoeh bro……;)

    • ipatah 8:42 am on November 2, 2010 Permalink | Reply

      Gw gak duga broo… ternyata ente bertalenta jadi pemusik…

    • Subhan Toba 11:38 am on November 2, 2010 Permalink | Reply

      @sigalingmaut, hehehehehehehe, kawiiin maaaanggggg! :))

      @ipatah, hah?

    • Jafar Shadiq 2:14 pm on November 2, 2010 Permalink | Reply

      Eh monyooooong, gw nulis komen itu!! ga dijawab???

    • Subhan Toba 2:15 pm on November 2, 2010 Permalink | Reply

      @jafar1, soal mandi itu memang pengingat yang penting, terutama bagi anda bung, biar orang lain gak infeksi 😛

      @jafar2, wakakakakakaka maaap bang, ane kagak liat, jangan digrebek ye bang 😛

    • SiGalingMaut 2:27 pm on November 3, 2010 Permalink | Reply

      tarik maaaaaangggggg…..:D

    • janoeroke 3:55 pm on November 9, 2010 Permalink | Reply

      hoho.. nice inpoh gan.. setuju2.. ^^

  • Nyenius 2:01 am on October 28, 2010 Permalink | Reply
    Tags: bagaimana agar bisa terus menulis, menulis yang produktif, penulisan,   

    Menulis itu Seperti Berak: Produktif dalam Menulis 

    Menulis adalah kebiasaan, bukan keahlian. Semua orang memiliki setumpuk materi untuk dituliskan, tapi sedikit yang  mau menuliskan. Tulisan tidak mesti selalu benar, dan kebenarannya baru diketahui setelah dituliskan. Menulis tidak harus panjang, yang terpenting adalah jujur. Lantas mengapa sulit untuk menulis?

    Bicara soal menulis -terutama yang bergaya naratif- tak ayal saya selalu teringat omongan Pak Hernowo, guru bahasa Indonesia saya waktu kelas 2 SMA. Beliau juga seorang editor senior di penerbit Mizan (seingat saya). Saya teringat tentang metoda pengajarannya dan kata-kata pamungkasnya tentang menulis. Selama 1 tahun mengajar, praktis dia tidak mengajarkan banyak hal mengenai bahasa Indonesia dari segi kaidah-kaidah linguistiknya. Akan tetapi dia menggempur kami dengan tugas-tugas menulis berikut motivasi-motivasinya. Tugas kami adalah membuat buku harian. Bahkan pada saat ujian semester, beliau hanya menyuruh kami membuat tulisan mengenai aktifitas kami beberapa hari ke belakang. Dan kredo-nya yang sangat terngiang di kepala saya ialah: “Menulis itu seperti berak, makanannya adalah membaca. Jadi sebagaimana biasanya, setelah ‘makan’ kita harus berak, kita harus menulis.

    Ketika ditanya bagaimana cara menulis, beliau cuma menjawab singkat; “Tulis saja apa yang ada di kepala kalian.” Dan ada satu sesi belajar yang mana kita para murid disuruh menuliskan satu kata yang saat itu muncul di dalam kepala. Setelah ditulis, kita disuruh untuk mengembangkan satu kata tersebut ke dalam sebuah tulisan. Dan kebetulan cara ini suka saya pakai untuk menyusun kultum atau public speech lainnya.

    Saya merasa kadang kesulitan dalam menulis itu sama seperti kesulitan dalam membaca buku. Pada paragraf awal, -bahkan di kalimat awal- kita sudah bingung kemana tulisan ini akan berlanjut. Sama seperti membaca, ketika kita bertemu satu atau dua paragraf yang tidak kita mengerti, jangan justru membaca paragraf itu berulang-ulang, tapi lanjutkan saja membaca, pada paragraf berikutnya niscaya kita akan menemukan jawaban dari paragraf yang membingungkan tadi.

    Begitu pun menulis, ketika bingung kelanjutan dari paragraf awal, coba teruskan saya menulis, tuliskan apa yang tercetus di kepala. Bahkan kalau sudah langsung terbayang apa penutup tulisan tersebut, lompat saja, tuliskan dulu kalimat/paragraf penutup itu, atau lompat ke tengah, baru kita lanjutkan lagi dari tempat kita berhenti tadi. Di akhir kita bisa pindah-pindah urutannya, atau dihapus bila memang tak perlu.


    Mind Mapping

    Memang secara keilmuan menulis seharusnya kita membuat garis besar tulisan terlebih dulu. Tapi itu tidak selamanya efektif, dan tidak selamanya juga diperlukan. Dan menurut hemat saya pribadi, ada hal lain yang sudah menggeser proses penulisan garis besar, yaitu Mind-mapping. Ya esensinya memang sama, kita menuliskan ‘garis besar’ dari pemikiran kita tentang sesuatu, hanya dalam bentuk yang lebih menyegarkan.

    Hal lain yang saya alami menghambat kegiatan menulis adalah; perfeksionis. Dari semenjak tulisan itu masih sekedar ide, kita sudah menuntut hal berlebih kepada diri sendiri, tulisan itu harus bagus, tulisan itu harus memiliki sumber yang jelas, tulisan itu harus bisa diterima orang  lain, tulisan itu harus ini dan itu, begini dan begitu. Kita sudah membantai dia (ide) semenjak kemunculannya, kita telah melakukan aborsi pikiran.

    Perfeksionis juga terkadang berbentuk seperti: kita tidak mau menghapus kalimat atau atau sebuah paragraf dalam tulisan, karena merasa sayang itu merupakan hasil pemikiran kita juga. Biasanya kalau sudah gini, tulisan bisa jadi batal ditulis atau berhenti di tengah. Untuk kasus ini, yang saya lakukan adalah, lakukan yang sebaliknya. Ketika merasa tulisan harus sempurna blablabla saya paksa saja menulis, ketika merasa sayang menghapus, saya hapus sekalian (selama terbukti memang tidak relevan dengan isi keseluruhan tulisan), ayau saya copy-paste menjadi tulisan baru.

    Seperti Pak Hernowo bilang, menulis adalah proses ‘berak’ setelah membaca. Bagi yang suka membaca buku, tentu ada kesan atau bahkan inspirasi yang kita resapi setelah membaca buku itu (selesai atau baru setengah dibaca). Bahkan orang yang terinspirasi akan bisa sangat terlihat dari bahan pembicaraannya. Tapi pada saat itu seringkali kita bingung; apa yang mesti ditulis? Tampaknya banyak sekali yang bisa ditulis dari inspirasi yang ada di kepala. Segera tangkap satu topik, dan tuliskan.

    Bagi yang tidak suka membaca buku, bukan berarti dia tidak bisa ‘berak’ dalam tulisan. Alam, lingkungan, masyarakat, interaksi dengan teman, pengalaman masa lalu, senantiasa terbuka untuk dibaca. Ketika melakukan segala aktifitas, mata kita menangkap kejadian dan momen yang berlangsung, kemudian diproses dan disimpan dalam pikiran. Jadi betapa banyak tema yang dapat kita tulis dari ‘bacaan’ sehari-hari kita. Terutama ketika pikiran sedang penuh dan jenuh, tuliskan. Pikiran anda butuh berak.

    Dan jurus terakhir untuk dapat produktif menulis adalah, tangkap ide sesegera mungkin begitu dia muncul, dengan cara mencatat main idea-nya, intinya, judulnya, atau sepotong kalimat isi calon tulisannya. Catat dalam bentuk apapun, tulisan, gambar, foto, apapun yang dapat menjadi simbol pembuka memori kita terhadap ide yang muncul tersebut. Karena ide itu seperti kuda liar, bila tak segera diikat, dia akan segera pergi menghilang.

    Bahkan tulisan yang ternyata jadi panjang ini pun awalnya hanya sebuah pikiran yang terlintas waktu sedang mengendarai motor. Saya berhenti sebentar, buka hp dan segera mencatatkan catch phrase nya. Gambar di bawah merupakan notes coretan yang saya tuliskan ketika pertama mendapat ide tulisan ini.

    Berkembang cukup jauh bukan? Jadi, mari kita menulis 🙂

    Tambahan mengenai penghalang dalam menulis:
    Ada hal lain yang dapat menghalangi kita untuk menulis, walau kita sudah memiliki setumpuk tema yang siap untuk ditulis. Yaitu rasa inferior, rasa rendah diri. Seringkali ketika akan menuliskan sesuatu ada pertanyaan usil yang muncul di kepala; “Siapa kamu berani-berani nulis tentang itu? Apa kompetensimu untuk menuliskan hal itu?” Hal ini saya anggap merupakan kerikil yang sangat mengganggu pembiasaan kegiatan menulis. Tuliskan saja dulu, ingat asumsi pertama kita “menulis tidak mesti selalu benar, kebenarannya baru diketahui setelah dituliskan.” Dan jangan pedulikan ‘pandangan orang lain’ yang sebetulnya itu hanyalah ‘orang-orang’ hayalan belaka, yang diciptakan oleh rasa takut dan rasa inferior dalam pikiran kita. Tuliskan saja dulu, uraikan semua isi kepala Anda, mulai dari sisi ekonomi, ketuhanan, moralitas, hukum, ilmu pengetahuan, hobi, politik, kenegaraan, apapun itu, tuliskan saja dulu. Sehingga isi kepala yang gaib itu bisa menjadi peta yang dapat kita baca, untuk mengenali diri kita, dan mengembangkan potensi pribadi ke langkah berikutnya.

     
    • Aves 6:43 am on October 28, 2010 Permalink | Reply

      Setuju, kepake banget sama gua yang susah nulis, pas nulis malah jadi acak kadul,teknis bla bla…

    • Nazla 10:00 am on October 28, 2010 Permalink | Reply

      Bener nih, yuk mari kita ngoceh di tulisan

  • Nyenius 1:23 am on October 27, 2010 Permalink | Reply  

    Sang Idola: Antara Pemikiran dan Pribadinya 

    senimans Sebagaimana orang-orang pada umumnya, saya punya idola, inspiring people with inspiring minds. Bisa seseorang bisa sebuah grup lawak, atau grup musik. Dan dari semua idola saya, ada satu hal yang baru saya sadari belakangan (sadar setelah chatting dengan kawan saya Lulu, seorang penulis tenar), bahwa saya senantiasa menjaga jarak dengan personal individu sang tokoh.

    Saya menyukai Rendra, tapi tak pernah benar-benar ingin bertemu Rendra. Saya menyukai Suede, tapi begitu grup musik itu datang ke Jakarta, saya tak lantas bela-belain bisa nonton konsernya, tidak seperti teman saya yang malah belum lama suka sama grup itu. Saya suka Emha, tapi itu tidak menguatkan tekad saya untuk ikut pengajian padang mbulannya. Dan seterusnya, dan seterusnya.

    Saya anggap mereka itu matahari, cukup dimanfaatkan sinarnya, tapi tidak perlu sampai didekati secara fisik. Teman saya langsung nembak, “Takut rusak ya image mereka di kepala lo?” Ya, ada benarnya, tapi saya koreksi, lebih tepat kalau dibilang, saya tidak ingin konsep pikiran/karya yang mereka utarakan rusak oleh ke’manusia’an mereka.

    Saya suka Suede, The Cure, tapi saya tidak suka menonton konser dimana Robert Smith dan gitarisnya berciuman bibir (walau Robert SMith tetap punya anak dan istri). Saya tidak akan suka menonton konser Suede yang ternyata dipenuhi orang-orang yang berdandanan gay. Itu semua merusak citra karya mereka di mata saya pribadi.

    Saya merasa cukup untuk mengambil saripati makna yang mereka tuangkan dalam karya dan pemikiran mereka, tapi lantas tidak ikut memuja pribadi personalnya. Mungkin ini sama seperti wanita yang menginginkan anak tapi tidak menginginkan suami (ya, itu ada guys, LOL).

    Amat sayang sekali kalau karya yang bagus, pemikiran yang indah rusak karena ke-alpa-an seseorang. Coba lihat Kahlil Gibran, puisi-puisi cintanya sangat romantis dan tinggi, tapi kehidupan pribadinya hancur lebur, pemabuk, dan sendirian sampai mati. Dan kebetulan ada tokoh nasional yang saya sempat berada di bawah bimbingannya, yang akhirnya saya lebih memilih sikap “Lihat apa yang disampaikan, jangan dilihat oleh siapa itu disampaikan”, alias mending tutup mata biar gak lihat dia, dan lebih mendengarkan tulisan-tulisan atau pidatonya.

    Saya yakin kekayaan dan kedalaman maksud dari karya pikiran manusia itu berasal dari Tuhan, bersumber dari yang Agung. Karena yang benar dan indah hanya datang dari inspirasi-Nya. Dan saya tidak mau, hal itu rusak oleh karena wadag manusia yang tidak sanggup membawa makna dan keindahan secara sempurna.

     
    • Nazla 8:47 am on October 27, 2010 Permalink | Reply

      Ngga tau deh apa gue bisa baca karya Goenawan Muhamad tanpa terbayang tweet2nya lg atau ngga 🙁

    • nazla 8:48 am on October 27, 2010 Permalink | Reply

      Weh, avatar gue knp yg itu ye

    • Aves 6:46 am on October 28, 2010 Permalink | Reply

      Apa yang dipikiran para Fans2 nya Ariel ya 😀

    • nyenius 10:23 am on October 28, 2010 Permalink | Reply

      @nazla, foto anak tetangga dijadiin avatar

      @aves, NAH itu salah satu contoh konkrit. Lirik lagunya kan bagus-bagus tuh, lumayan dalem.

    • akbar 3:04 pm on October 29, 2010 Permalink | Reply

      @toba: ga nyangka dalam hal lirik lagu ariel, loe ternyata sependapat dengan kunye hahaha. mantap ba.

  • Nyenius 1:01 am on October 26, 2010 Permalink | Reply
    Tags: broken heart, diputusin pacar, hampa, kehilangan kekasih, kosong, patah hati, putus cinta   

    Posting Penting Tentang Putus Cinta, Patah Hati, etc. etc. 

    Seorang teman saya sedang merasakan pahit-sepahit-pahitnya kehilangan seorang terkasih. It shocks his world of conscience so hard. Ditambah lagi rasa kehilangan tersebut disebabkan karena telat menyadari perasaannya sendiri, hal ini menambah efek benturannya bertambah menjadi tiga kali lipat dari rasa kehilangan cinta pada umumnya.

    Tapi bagaimanapun, esensinya adalah kehilangan. Ketika rasa kehilangan itu membentur seseorang, akan ada sebuah ruang kosong yang menganga di dalam dirinya. Kekosongan yang tampak tak beralasan dan tak dapat dimengerti. Dan karenanya banyak disalahpahami, bahwa sebetulnya kekosongan tersebut adalah sebuah energi besar, yang sama besarnya dengan rasa bahagia orang yang sedang jatuh cinta.

    Tidak heran apabila orang yang sedang jatuh cinta dapat melakukan apapun demi mengekspresikan cintanya kepada sang terkasih (konstruktif, bersifat membangun). Begitu pula sebaliknya, orang yang sedang patah hati dapat melakukan apapun untuk mengekspresikan kehampaan yang dirasakannya karena kehilangan (destruktif, menghancurkan).

    Ketidakmengertian bahwa patah hati merupakan sebuah energi dengan potensi yang sama besar dengan jatuh cinta, dapat menuntun kepada pengambilan solusi yang fatal dan destruktif.

    Memang kesedihan dan kebahagiaan bukanlah suatu hal yang dapat diukur dengan rumus apa pun. Kesedihan dan kebahagiaan bukan mahluk yang dapat diusir dan dipanggil sesuka hati. Mereka punya wilayahnya sendiri dalam diri manusia, dengan segala syarat dan ketentuan yang berlaku yang datang bersamanya.

    Yang lebih penting lagi, mereka bukanlah suatu hal yang akan mati dengan cara dilupakan begitu saja apalagi dihindari. Karena sebagaimana sifat energi, dia bersifat kekal (Energi tidak dapat dihancurkan, tapi berubah ke bentuk yang lain). Karena itu, melupakan atau memendam suatu kesedihan bukanlah suatu solusi yang tepat, karena itu tidak menyelesaikan apapun. Malah menjadi penyakit laten yang dapat meledak sewaktu-waktu, dia menjadi penyakit yang menggerogoti kita dari dalam, seperti korosi terhadap besi.

    Dengan berbekal pemahaman inilah kita tahu bahwasanya patah hati bukanlah akhir dari segalanya, tapi -sebagaimana jatuh cinta- ia merupakan sebuah awal yang baru.

    Dalam kesenangan orang cenderung meluap-luap (dalam kegembiraan), begitupun orang yang patah hati, dia akan meluap-luap, hanya dalam wajah yang berbeda.

    Jadi tampaknya layak untuk kita coba mengubah paradigma dan gambaran umum mengenai patah hati. Dengan memanfaatkan luapan energi patah hati; just go crazy! Lakukan hal-hal baru, build a positive monument in your life! Luapkan dia ke arah yang bukan cinta atau sedih, tapi lebih kepada energi mentah untuk mencangkul ladang kehidupan lebih keras lagi.

    ++Mobile

     
    • fahdi 6:48 am on October 26, 2010 Permalink | Reply

      Tuhan itu menciptakan sesuatu tanpa kesia-siaan. Bahkan Tuhan menciptakan putus cinta, patah hati, itu pasti ada sebabnya.

      Oleh karena itu, untuk mengatasi dan memaknai putus cinta dan patah hati, ada baiknya disediakan satu botol smirnoff, 3 botol pu tao chi chew (minuman persahabatan), dan beberapa linting ganja.

      Oh iya, pernyataan di atas harap diinget, this comment only.

    • nyurian 11:22 am on October 27, 2010 Permalink | Reply

      🙁
      :”(
      😀

    • nyenius 10:27 am on October 28, 2010 Permalink | Reply

      @nyurian, komennya singkat, jelas, dan bercerita banyak 😀 bravo!

    • ndree 4:17 pm on March 14, 2011 Permalink | Reply

      telat baca post ini. thanks for the input 😀

  • Nyenius 1:01 am on October 25, 2010 Permalink | Reply
    Tags: , komitmen, pendewasaan cinta, pertumbuhan cinta   

    Sebuah Posting Gak Penting Tentang Cinta 

    Saya tahu rasanya dada berdenyut sesak karena mendambakan seseorang. Seolah seluruh oksigen di dunia habis, seolah tanah tempat berpijak adalah rawa yang labil. Rasa takut, rasa rindu, rasa senang, menekan berbarengan tepat di ulu hati, serasa jantung diremas-remas tanpa bisa melawan. Banyak yang bilang ini adalah jatuh cinta, atau orang dulu bilangnya gandrung.

    Setelah rasa itu mendarat keras di dalam hati dan pikiran, akan ada hal lain ikut menelusup; rasa cemburu. Sebuah bumbu indah yang mewarnai jalannya percintaan, sekaligus bisa menghancurkannya. Tapi saya rasa penghancuran hubungan cinta melalui cemburu adalah sebuah sistem alami untuk membuat seseorang bertemu dengan orang yang lebih tepat untuknya. Atau biasa dikenal sebagai seleksi alam.

    Sudah umum, sebelum dua insan membuat komitmen, sebelumnya mereka menjalin hubungan pertemanan terlebih dulu. Beberapa orang tidak sadar, bahwa begitu memasuki suatu hubungan berkomitmen, segalanya tidak akan sama.

    Dari ketidakmengertian akan satu hal ini saja beberapa orang mengalami ‘seleksi alam’ (baca: perpisahan) lebih cepat dari yang lain. Tidak bisa kita mengharapkan seorang pacar bersikap sepenuhnya seperti seorang teman biasa, dan tidak bisa kita berharap seorang suami/istri akan bersikap sepenuhnya seperti seorang pacar. Akan selalu ada tuntutan yang meningkat, seiring dengan bertambahnya tingkat keseriusan sebuah komitmen.

    Dan denyutan-denyutan asing yang mengasyikkan tadi berangsur-angsur akan mereda, berganti sesuatu yang lebih dewasa; tanggung-jawab. Dia mereda, bukan hilang, menjadi sebuah perasaan yang lebih terstruktur dan rasional. Denyutan itu akan sesekali muncul pada momen yang tak pernah bisa ditaksir, menjadi penguat akan rasa cinta yang semakin bijak. Sebuah sistem alam untuk membangun fondasi-fondasi cinta sejati di alam raya.

    [spoiler name=”Terjemahan google translate”]I know it’s throbbing chest tightness due to crave someone. As if all the oxygen in the world runs out, as is the swamp land where an unstable footing. Fear, a sense of longing, pleasure, pressing together right in the solar plexus, heart seemed to knead without being able to fight. Many say this is love, or someone had told you in infatuated.

    After feeling it landed hard in the hearts and minds, there will be other things involved menelusup; jealousy. A wonderful spice that characterizes the course of romance, at once can destroy it. But I think the destruction of the relationship of love through jealousy is a natural system to get someone to meet with someone more right for her. Or commonly known as natural selection.

    It is common, before the two beings make a commitment, before they establish a relationship of friendship first. Some people do not realize, that once entered a committed relationship, everything will not be the same.

    From this lack of understanding of one thing only some people have ‘natural selection’ (read: breakup) faster than others. We can not expect a boyfriend to be entirely like a normal friend, and we can not expect a husband / wife will be completely like a girlfriend.There will always be demand to increase, along with increasing levels of seriousness of a commitment.

    Foreign-throbbing and throbbing exciting earlier will gradually subside, change something more mature; the responsibility. He eased, not disappeared, to be a feeling that more structured and rational. Pulsation would occasionally appear at the moment that could never be estimated, the amplifier will sense the love that the wiser. A natural system to build the foundations of true love in the universe.[/spoiler]

    ++Mobile

     
    • nyurian 7:30 am on October 25, 2010 Permalink | Reply

      ini ba maksud nya…

    • nyenius 1:03 pm on October 25, 2010 Permalink | Reply

      iya re 🙂

    • Bayu 8:30 pm on October 25, 2010 Permalink | Reply

      nice, makin tajam penulisannya, btw, numpang mampir dah lama ga mampir kesini hehe

    • bayu lagi 8:32 pm on October 25, 2010 Permalink | Reply

      forum total udah ga ada lagi ba ye? btw ga tertarik ngembangin aplikasi blog lu ni buat bb? hehe pake java jg cukup koq hehe

    • nyenius 10:28 am on October 28, 2010 Permalink | Reply

      @bayu, iya bay, forum saat ini masih ‘bertapa’ di database. Menunggu timing yang tepat untuk keluar lagi (data2 masih lengkap 😀 )

  • Nyenius 1:01 am on October 24, 2010 Permalink | Reply  

    Seting Akuarium Laut 

    Gak kerasa udah 2 tahun gue ngelakonin hobi akuarium laut, lumayan banyak suka duka yang terjadi selama kurun waktu tersebut. Mulai dari masuk UGD gara-gara jatuh pas bersihin akuarium sampai melihat akuarium gw berjalan secara ‘auto pilot’. Yup, berjalan secara auto-pilot, itu sebutan gue buat sedikitnya keterlibatan pemilik akuarium (gue) yang diperlukan dalam merawat dan menjaga akuarium itu tetap berjalan.

    Orientasi saya di hobi ini pun terus berevolusi. Awalnya didorong sebuah pemikiran bodoh -yang diyakini sepenuh hati- bahwa ‘memelihara akuarium laut itu gampang’. Kemudian juga karena mengejar keindahan ikan-ikan yang berenang di sela terumbu karang, hingga akhirnya orientasi saya sekarang adalah ‘pencapaian’. Bagaimana menciptakan sistem yang fool-proof, yang bila suatu keadaan terpaksa akuarium ini mesti dirawat oleh orang yang tidak mengerti apa-apa tentang akuarium laut. Bagaimana menciptakan sistem yang tetap berjalan meski ketika rasa bosan melanda, yang otomatis akan mengurangi tingkat perhatian pemilik terhadap akuarium. Bagaimana menciptakan akuarium yang self-supporting; menghasilkan makanan sendiri, memfilter racun kimia sendiri, membuat siklus siang-malam sendiri (beserta arusnya), bahkan menambahkan air sendiri (sesuai penguapan yang terjadi). Intinya, bagaimana menciptakan sistem akuarium laut yang hampir maintenance-free.

    Walau begitu, target saya saat ini bukanlah berusaha membuat ‘sepotong lautan kecil’ di dalam rumah. Karena dengan alat yang saya punya saat ini masih jauh dari itu, baru pada tahap ‘survive‘ saja.

    Auto-pilot Doesn’t Mean Neglecting
    Meski sedikit sekali keterlibatan gue secara langsung didalam proses maintenance rutin, bukan berarti ditinggalkan. Sebab, sebelum tahap ini tercapai, cukup banyak proses dirty-work yang harus dikerjakan. Dan kondisi ini pun tercapai berkat pengalaman memelihara akuarium laut selama hampir 2 tahun itu.

    Akuarium -dalam hal ini akuarium laut- adalah sebuah closed system atau sistem tertutup. Dalam artian semua input dan output zat (nutrisi, gizi, ekses, dsb.) hanya berputar disitu-situ saja. Dan sebagaimana di alam, segala sesuatunya mesti diolah agar ia bisa jadi bermanfaat atau tidak menjadi bahaya. Dalam akuarium pengolahan dan penambahan zat-zat ini semua bergantung pada alat, pakan, seting habitat, dan zat tambahan (additive) yang diberikan oleh user atau pemilik akuarium.

    Auto-pilot yang saya bangun dapat mengurangi keterlibatan pemilik hingga aktifitas pemilik hanya memberi pakan (harian)-pemberian additive (harian dan mingguan)-penambahan air seminggu sekali (tapi salinitas harian tetap terjaga stabilitasnya)-pembersihan lumut (2 minggu sekali, atau 2 bulan sekali kalo lagi males). Wakakakakaka ‘hanya’ nya banyak juga ya, tapi pada praktiknya sangat-sangat sedikit yang saya lakukan terhadap akuarium saya sekarang, lebih banyak menikmati dan mengamati.

    So What’s My Setup?

    Berikut ini daftar perlengkapan setup akuarium laut saya beserta kegunaannya.

    1. Akuarium utama 100x50x50. Ini adalah akuarium utama atau biasa disebut oleh para hobiis sebagai Main Tank
    2. Akuarium filter 40x40x40
    3. Akuarium refugium 35x30x30
    4. 2x39watt T5HO (daylight dan actinic blue)
    5. 1 submersible lamp warna biru (nggak direndem, ditaroh di bawah lampu utama).
    6. 2 wavemaker + 2 powerhead buat sirkulasi internal main tank.
    7. 1 return pump buat ngalirin air dari akuarium filter (posisi di bawah main tank).
    8. DIY protein skimmer
    9. DIY Coil Denitrator
    10. 2 AC Fan
    11. Timer analog
    12. Phillips daylight untuk refugium
    13. DIY water auto-top up
    14. Thermometer probe
    15. DIY auto-on air pump
    16. Automatic pellet feeder

    ++Mobile

     
  • Nyenius 10:28 pm on October 23, 2010 Permalink | Reply
    Tags: puisi kangen, , , puisi putus cinta, puisi rindu pada kekasih   

    Serakan Antara Kau dan Aku 

    Kita pisah
    Meninggalkan serakan pasir
    Di dasar hati

    Bertanya, tak bertanya
    Tentang apa kenapa
    genangan sayang habis tak bersisa

    Kilas-kilas kenangan
    Mengerat kesehatan hati
    Dan tangis tak bisa berbohong

    Di balik punggung yang bertemu
    Ada kerinduan akan manja dan sapa
    Tapi kita berkeras untuk diam

    Dan jadilah kita pembunuh
    Keadaan membuat kita terbunuh
    Anak panah cinta patah terinjak kenyataan

    Perlahan
    Berjalan menjauhimu
    Dan mulutku mengaduh
    “Aku merindukanmu,
    aku merindukanmu,
    aku merindukanmu…”

    ++Mobile

     
  • Nyenius 4:39 am on October 23, 2010 Permalink | Reply  

    [draft] 

    no post

     
  • Nyenius 3:43 am on October 23, 2010 Permalink | Reply  

    Ketika Sebuah Vas Jatuh 

    sebuah vas pecah
    berkeping menumpahkan diri ke lantai

    terasa lantai dingin dipipiku
    dan hangatnya darah
    pada kening yang tergeletak jauh

    sebuah vas utuh pecah
    berserakan di lantai dan tersasar

    tanganku yang terputus, berusaha meraih dada
    yang terpental keluar pintu

    sebuah vas utuh kemudian pecah
    ketika gravitasi yang selama ini dikenalnya
    menariknya tanpa ampun, berdebam

    dalam tercecer seperti sampah
    aku marah

     
    • nazla 9:07 pm on October 23, 2010 Permalink | Reply

      gue selalu kasih empat bintang pada puisi yang gue ngga ngerti. Bravo!

    • nyenius 10:32 am on October 28, 2010 Permalink | Reply

      @nazla, eh kemaren lo ceting sama gue katanya ngerti. Ini gara2 mecin nih :p

c
Compose new post
j
Next post/Next comment
k
Previous post/Previous comment
r
Reply
e
Edit
o
Show/Hide comments
t
Go to top
l
Go to login
h
Show/Hide help
shift + esc
Cancel