Updates from October, 2006 Toggle Comment Threads | Keyboard Shortcuts

  • Nyenius 7:33 pm on October 30, 2006 Permalink | Reply
    Tags:   

    Surat Cinta Buat PHP 

    Php, my dear…

    Mari berkelana php sayangku, kita manipulasi para string dan integer,
    assign mereka ke dalam variabel dan objek-objek. Walau kau tak begitu
    mempedulikan ‘status’ mereka, dan menganggap semuanya adalah string,
    kau tetap hebat sayangku. Kita include() library-library, kita buka
    socket-socket, jelajahi tambun-nya database, mencari jarum haystack
    dalam timbunan data, mari berkelana.

    Masih kuingat, santunnya bahasamu kala perkenalan pertama kita; hanya
    sebuah echo “Hello world!”, dan aku jatuh cinta seketika. Takjubku
    bertambah ketika mysql_connect() bekerja dengan mulus menjembataniku
    dengan dimensi data mysql. Fopen() juga menarik perhatianku, dia
    bergaya didepanku dengan membaca file lokal dan remote, sambil mengatur
    ‘hanya membaca’, ‘baca-tulis’, ‘hanya-tulis’ dan sejumput kuasanya yang
    lain atas file. Kau membantuku memasukkan file dari client ke server
    dengan copy(), juga -tentu saja- move_uploaded_file().

    Cinta kepadamu terasa menyiksa, seperti menjalani cinta terlarang.
    Karena begitu jemariku menyentuhmu, akan sangat sulit melepaskannya
    dari keyboard dan meninggalkan kode-kode yang indah, sementara
    kewajiban lain menanti, ‘kewajiban utama’ yang ‘seharusnya’ aku jalani.
    Oh tidak, menahan diri darimu sama saja menahan tangan menggaruk kulit
    yang gatal, menggelisahkan. Walau aku berada dipasar, walau mataku
    menatap wanita-wanita cantik, yang ada dikepala hanyalah
    algoritma-algoritma untuk membuatmu ‘terbang’ lebih tinggi lagi dalam
    aplikasi-aplikasi. Bahkan domba-domba yang biasa dihitung untuk membuat
    lelah dan mata lelap, telah tergantikan oleh hitungan
    perulangan-perulangan, iterasi-iterasimu, for, while, do-while,
    foreach, merekalah yang setia mengantarkanku ke dunia mimpi.

    Php, walau saat ini aku belum mengenalmu lebih jauh lagi, walau
    kecantikanmu belum sepenuhnya kubelai, aku akan berusaha, aku akan
    berenang ke dalam manual-manual, tutorial-tutorial, membongkar
    aplikasi, demi meraihmu ke sisiku sepenuhnya. Biarkan orang lain
    mengklaim mereka yang terbaik, tetapi mataku hanya memandangmu. Aku
    hanya pemuda biasa, dengan kemampuan analitis terbatas, tapi salahkah
    bila aku mencintaimu?

    Kita harus memperjuangkan cinta ini.

     
  • Nyenius 7:31 pm on October 30, 2006 Permalink | Reply
    Tags:   

    mustnews recode 

    Sepertinya Mustnews, mesin berita yang menjadi tulang punggung blog ini, akan mengalami recode ulang secara keseluruhan. Dengan recode-ulang ini, diharapkan akan ada penghematan sumber daya, penambahan fitur, simplikasi expandability dan mungkin efisiensi kode.

     
  • Nyenius 4:55 pm on October 27, 2006 Permalink | Reply  

    Aku dan Penghujung Malam 

    Malam akhir ini terasa angin enggan bertiup
    kalaulah aku tak bisa katakan
    janganlah pintu kau tutup
    tak kau lihat bahwa aku menunggu di ambang pintu
    kau usir aku dengan pintu yang dibanting

    Penghujung malam t’lah mampir
    mengetok pintu dan t’lah ucapkan salam
    tak usah didengar jawab dariku
    masuklah kau dan ceritakan padaku kisah cucu Adam di malam yang lewat
    adakah kau dengar salam untukku?

    Dering telepon di sampingku seakan-akan membawakan sesuatu
    entah itu hanya perasaan sesaat
    atau kegalauan dalam jelmaan
    ya kutahu matahari t’lah tampak dan kau ingin meneruskan kembaramu
    selamat tinggal
    sampaikan salamku pada saudara-saudaraku
    yang kau hampiri dan berbagi kisah denganmu.

     
  • Nyenius 8:23 am on October 22, 2006 Permalink | Reply
    Tags:   

    Kau yang Sebatas Catatan Sejarah 

    *Dengan egois yang sadar

    Aku mengenangkanmu
    bukan karna cinta

    hanya rindu pada
    masa dimana jiwaku begitu bertenaga
    hanya rindu pada
    langit yang menaungi kemudaanku

    aku membacakan puisi
    bukan karena menginginkanmu

    hanya mencoba raih
    nyawa pekat yang meliputi hatiku dulu

    Langit betul-betul berawan antara kita
    Debu benar-benar mengacaukan pandang
    Jangankan sinaran Tuhan
    sedang mentari pun tidak menerangi
    jalan menujumu

    • aku tak (pernah) lagi protesi hal hal itu –

    Kau menjadi data yang kubaca
    dalam byte-byte kaku
    demi kepentinganku sendiri
    tanpa harap lebih jauh

    Hanya untuk merasakan pendaran-pendaran lama
    yang sama sekali tak berhubungan denganmu
    kisah kita kujadikan mesin pabrik
    untuk memerah kemurnian rasa
    yang dulu kau sia-sia

    Kubaca namamu
    bukan karena ada benih yang tumbuh lagi
    Hanya sedang belajar sejarah diriku

    —————
    3:11 22/10/2006

     
    • Putrie 8:23 am on October 22, 2006 Permalink | Reply

      kaya’na buku sejarah lo tuebel buanget deh ban, kayak ensiklopedy dirumah gue yg berjilid2.. hihii.. :p
      **pis atuh ban**

    • tobse 8:23 am on October 22, 2006 Permalink | Reply

      Huehehehehehe ga tebel-tebel amat put ;p

    • near_boyo 8:23 am on October 22, 2006 Permalink | Reply

      SWT LU BA!!!!!!!

    • tobse 8:23 am on October 22, 2006 Permalink | Reply

      Boyo bangsat, awas lo besok.

    • odie_ut 8:23 am on October 22, 2006 Permalink | Reply

      Tp sumpah Ban.. Gw suka puisi lo yg atu ini..!! 😀

    • TOba 8:23 am on October 22, 2006 Permalink | Reply

      Thanks put… 😀 *mukenye merah*

  • Nyenius 5:10 pm on October 20, 2006 Permalink | Reply  

    Saya Menunjuk Kesana 

    Sambil iseng, saya jadi teringat sebuah cerpen dari Sutardji Chalzoum Bachri, lantas gue menunjukan jari saya ke arah asal-asalan. Terbayang tangan gue nembus tembok kamar, nembus tembok rumah tetangga, kamar orang, masjid, gereja, halte bus, perkantoran yang masih sibuk, pasar yang mulai sepi, jalanan Jakarta yang macet. Melewati orang yang sedang mandi, suami-isteri yang bercengkrama, anak kecil yang sedang diomeli, imam masjid yang tengah memimpin ibadah, muda-mudi yang asyik-masyuk, redaktur majalah yang sedang pusing, mahasiswa yang ngedumel di tengah macet, programmer yang senewen dengan kode-kode, tikus-tikus DPR yang mengotak-atik angka dan beberapa orang yang hendak di bunuh. Tapi entah kenapa, kepala ini berkehendak menghentikan petualangan telunjuk jari saya di tanah paling timur Indonesia; Papua. Berhenti pada adegan sekumpulan orang papua yang tengah berkumpul dan mengeluhkan tentang pelarangan melakukan penambangan atas tailing PT. Freeport Indonesia. Tentang kekesalan mereka, kesulitan hidup yang menghadang mereka, tentang rasa terpinggirkan mereka, dan tentang pencurian sumber daya alam mereka yang entah apa mereka menyadarinya atau tidak. Dan saya disini tengah duduk menimang-nimang apa yang sekiranya enak saya lakukan saat ini.

    Dan mereka berkata: “Kitorang hanya ambil dorang punya sampah”

     
  • Nyenius 8:34 am on October 16, 2006 Permalink | Reply  

    Girls and Screen Saver 

    Wanita-wanita bertebaran dimana-mana. Beredar rumor bahwa rasio antara
    pria dan wanita adalah 1:9. There are good girls, bad girls,
    good-looking girls, fat-bottomed girls etc. Hmmm, para feminists pasti
    langsung jengkel waktu baca kalimat gue barusan; “kok cuma mandang
    cewek dari segi fisik aja sih, seolah-olah kita ini cuma objek…
    bla… bla.. bla…” But thats the fact. Sebagian besar kita (terutama
    pria), masih suka dan rela ‘tertipu’ oleh mata, oleh apa yang dipandang
    (tolong garis bawahi kata-kata “rela”). Bahkan bukan hanya suka dan
    rela, secara alami kita mencari ‘pemandangan’ tersebut (hehehe
    feminists ngamuk lagi neh ;P). Tapi memang di lapangan, mereka (wanita)
    seolah-olah berlomba untuk memberikan ‘tontonan’ yang terbaik bagi
    mata. Hufff, kalian mungkin memprotes pernyataan tersebut dengan: “Itu
    kan hak mereka untuk mengekspresikan diri, karakter, dan pribadi mereka
    dalam fashion? Kalo you yang ngeliat jadi ‘senewen’, ya itu urusan
    ‘dapur’ you.” But gals, tak ada asap tanpa api. Dan reaksi ‘senewen’
    itu adalah salah satu hal yang paling alami yang melekat pada diri tiap
    manusia (pria dan wanita, hanya saja reaksinya berbeda). Ok, kita
    hentikan sampai disini perdebatan abadi itu, gak akan beres, sumpah dah.

    Mendiang nenek gue punya komentar mengenai wanita; “Yah kalo soal cewek mah gak ada abisnya, kita kemari ada yang cakep, pindah kesono, ada yang lebih cakep lagi….
    Yup betul sekali nek, gak ada abisnya, biar kata kita kawin/pacaran
    seratus kali juga pasti selalu ada yang lebih, lebih, dan lebih.
    Padahal kalo aja kita lebih concern pada satu pribadi, rela menelan
    pahit-manis keringat yang dia keluarkan, mungkin kita bakal lebih
    sadar, ada sesuatu yang lebih ketimbang physical attraction, apa itu???
    Ah, jawab aja sendiri hehehe ^_^

    Dan juga, bagi pria-pria yang mau sedikit lebih jeli, mereka hanya akan
    melihat wanita-wanita ‘wah’ itu dengan sepintas lalu. Mata, hati,
    bahkan kakinya akan dapat terpicing kaku ketika dia melihat wanita yang
    berlumuran cahaya kecantikan, yup, betul, inner-beauty! Yang ketika
    melihatnya seperti melihat pemandangan alam yang megah, sehingga
    kata-kata yang keluar bukan lagi cantik, tetapi indah. Indah bukan
    dalam artian sebagai benda atau objek, tetapi sebagai hakikat dari
    kata-kata indah itu sendiri, ‘indah’ yang terlepas dari benda-benda
    ragawi keduniawian, saripati dari kata-kata indah itu sendiri. Seorang
    wanita yang ketika melihatnya, semua aspek-aspek jasmaninya tak
    terlihat lagi, yang terlihat adalah langsung jiwanya, bersinar-sinar,
    memancarkan cahaya yang memanggil belahan jiwanya. Dan sebagaimana
    teori pencahayaan, bahwa benda yang berwarna merah tidak dapat dengan
    sendirinya terlihat berwarna merah, tetapi warnanya akan ‘keluar’
    sempurna begitu mendapat pancaran cahaya yang mengandung spektrum warna
    merah yang sempurna juga. Begitulah mungkin jiwa-jiwa yang berpasangan
    saling memanggil. Yang satu menunggu spektrum cahaya yang tepat, yang
    lain terus memancarkan cahaya spektrumnya, mencari jiwa yang memberikan
    refleksi sempurna spektrum yang dipancarkannya.

    And when you found that girl, stand by your side, faithfully, you just
    can say: “Those girls are screen savers, but she’s the real thing for
    me, she’s my processor, dia adalah rumah tempat pulang, dia adalah
    pandangan mata, dia adalah dunia tempatku hidup, dia adalah kenyataan.”
    Seperti yang Tuhan katakan bahwa Dia ciptakan segala sesuatunya
    berpasangan, yang berarti siang akan mati bila tidak ada malam, kering
    akan musnah bila tidak ada basah, juga bahwa kita akan cacat tanpa
    kehadirannya (begitu juga sebaliknya).

    PS: pernyataan terakhir
    tidak berlaku buat para bajingan yang berprinsip; “cewek ini mah buat
    maen-maen, nah yang satu lagi buat serius”. No, NOT AT ALL!!!

     
    • aves 8:34 am on October 16, 2006 Permalink | Reply

      Kalo gua pake Windows dan screen saver gua menggambarkan Mac, kayanya seru ya… ;))

    • toba 8:34 am on October 16, 2006 Permalink | Reply

      hihihihi, maksudnya apaaa yaaaa…. 😀 wah aves nakal…

    • vamos 8:34 am on October 16, 2006 Permalink | Reply

      makhluk klingon satu ini memang slalu tajam pemikirannya tentang wanita..memang sebagai salah satu pendiri mustang society ini tidak memalukan..memang,memalukan hehe3

  • Nyenius 5:30 pm on October 15, 2006 Permalink | Reply  

    Rumus yang Manis… 

    Huff, dengan kemampuan matematika yang cekak, belakangan ini saya coba
    paksakan untuk menceburkan diri ke dalam rumus-rumus hitungan tentang
    pencahayaan ruang. Berdasarkan tuntunan di buku (rumus baku + 1 buah
    contoh soal tiap rumusnya) saya turuti apa kata penulisnya. Sambil
    mengingat-ingat; “…. perasaan kalo rumus ini, koma-nya dibeginikan…
    perasaan dulu rumus buat ngitung ini tuh begini…” Saya masukkan
    angka-angka, saya hitung, ketika keluar hasilnya, dan selanjutnya saya
    perhatikan tabel angka-angka yang dipaparkan di halaman sebelah,
    tiba-tiba saya tersadar: “JADI ANGKA INI GUNANYA BUAT APA??!!!”


    [email protected](*#$*[email protected]#()^(#&^[email protected]#[email protected]#$([email protected]*%*[email protected]$&*&^@!!

    **Kenapa dulu matematika tak terlihat seindah sekarang ini… saya kangen sama guru mtk SD saya….

     
    • Aves 5:30 pm on October 15, 2006 Permalink | Reply

      dulu lo kelas 4 nama guru nya bu Ida bukan ba 😀

    • vamos 5:30 pm on October 15, 2006 Permalink | Reply

      ba prasaan dulu kalo plajaran matematika lu kan tidur..bisa bisanya lu bilang kok dulu ngitung nya ga gini..heheh..harusnya lu bilang, dulu mimpinya ga gini..haha

  • Nyenius 5:03 pm on October 13, 2006 Permalink | Reply  

    Mengapa Jangan Menaruh Asbak di atas Kasur? 

    Ini merupakan pembahasan yang mendalam tentang mengapa jangan (terlalu lama) menaruh asbak di atas kasur. Pembahasan ini didapat dari pengalaman dan pengamatan yang telah berjalan selama beberapa tahun.

    BAB I :

    Kenapa jangan menaruh asbak di atas kasur?

    1. Tidak semua perokok akurat dalam membuang abu-nya ke dalam asbak (terutama perokok kretek), sehingga kemungkinan besar abunya jatuh ke kasur atau seprai (bila memakai seprai). Bahaya abu di kasur dijelaskan pada Bab II.

    2. Tidak semua lintingan rokok itu rapih, sehingga bisa saja, ketika rokok sedang dijentikkan ke asbak bara apinya mental ke kasur, sukur kalo keliatan sama kita, kalo kagak???

    3. Asbak akan overload, dan kelebihan ‘muatan’nya itu bisa mengotori kasur.

    4. Anda bisa saja lupa memindahkan asbak itu dari kasur setelah menggunakannya.

    5. Karena Anda lupa memindahkannya dari kasur, maka suatu ketika, anda juga lupa bahwa di kasur ada asbak, dan terinjaklah oleh Anda.

    6. Asbak bisa terinjak karena lupa, biasanya karena Anda sedang terburu-buru, (bila anda rajin/perfeksionis) ini bisa menyita waktu anda, karena anda akan membersihkannya lebih dulu. Dan (bila anda pemalas) diperkirakan akan membuat kasur anda kotor/tidak bisa digunakan dalam jangka yang cukup lama.

    7. Kelanjutan dari poin keenam (tidak peduli anda pemalas atau rajin) dan juga inti dari efek samping menaruh asbak di atas kasur adalah RASA JENGKEL yang sangat!

    BAB II :

    Bahaya abu di atas kasur.

    1. Sulit dibersihkan.

    2. Kalau kita mau tidur, dan kebetulan muka kita berada tepat di bekas jatuhnya abu, maka bisa mengganggu indera penciuman kita. Karena kemungkinan masih ada sisa debu abu rokok disana.

    3. Walau sudah dibersihkan,sering menimbulkan bau tidak sedap.

    4. Bila jentikan bara rokok mengenai seprei, bisa menimbulkan bolong. Parah-parahnya kebakaran!

    5. Tidur tidak tenang, karena rasanya kasur tidak bersih.

    6. Timbul rasa jengkel karena kasur telah/pernah dikotori oleh abu rokok yang tumpah dari asbak.

    7. Kejengkelan bertambah apabila ternyata didalam asbak itu tidak hanya terdapat abu rokok, tapi juga, sisa kulit pisang, bungkus lontong, sambel/saos yang dibuang, dan parahnya lagi, air ludah (bah!) dsb..

    BAB III :

    Cara membersihkannya.

    1. Jangan gunakan tangan untuk membersihkan abu dari atas material bahan kain (kasur/seprai). Karena sapuan tangan justru akan membuat abu itu meresap ke dalam pori-pori kain. Yang mengakibatkan pembersihan kurang sempurna + menimbulkan bau kurang ajar.

    2. Gunakanlah sapu kecil (yang biasa dijual si supermarket se-paket sama pengki nya). Usahakan buluh sapunya itu kaku. Atau bisa juga kuas cat.

    3. Gunakan kertas untuk menadahi abu.

    4. Sapukan abu itu sebagaimana seorang ahli arkeologi menyapu lokasi penelitiannya, pelan dan hati-hati, jangan sampai ada yang terlewat.

    5. Setelah disapu. Nyalakan kipas angin, arahkan ke kasur. Pukul-pukul kasur Anda, sehingga sisa-sisa abunya terbang dan langsung terbawa oleh angin.

    6. Bila terdapat unsur-unsur ke-basahan dalam asbak yang tumpah, jangan lupa lap kasur anda dengan lap basah, jemur bila perlu.

    7. Bersabarlah, karena RASA JENGKEL pasti akan terbit ketika kita membersihkannya.

    Sekian hasil penelitian sementara, tentang Kenapa Jangan Menaruh Asbak di Atas Kasur?

    Bila ada revisi dari Anda sekalian, silahkan reply posting ini, terima kasih.

     
    • aves 5:03 pm on October 13, 2006 Permalink | Reply

      bagai mana kalo ngga usah pake asbak aja;))

    • ndree 5:03 pm on October 13, 2006 Permalink | Reply

      telen aja tuh abu serokok2nya sekalian, cape dwueeh…

    • Patkay 5:03 pm on October 13, 2006 Permalink | Reply

      Buset deh, sebagian dari isi di Bab I mengingatkan gw sm kejadian-kejadian bodoh yang pernah loe buat sendiri.

    • ali harokan 5:03 pm on October 13, 2006 Permalink | Reply

      wakakaka… jadi inget waktu SMP dulu di DN… ngerokok diatas loteng Mekkah 4… wkwkwkwkw.. ga kebakaran seh, tp panasna ampyuuun dah gt atu roko bwt rame2

  • Nyenius 5:33 pm on October 12, 2006 Permalink | Reply  

    Tentang Konstrain 

    Bila saya teringat pada dosen Merancang Interior 1 saya (Ir. …) ada satu petuahnya yang seringkali terngiang di kepala belakangan ini, mengenai constraint atau ‘pembatas’.

    Waktu itu dikelas Merancang Interior (MI) kita lagi ngerjain tugas maket, dan sedang dalam tahap pengerjaan fisik maketnya (setelah konsep). Material yang digunakan saat itu adalah polyfoam, bahan sejenis styrofoam tapi ketebalannya hanya 3 mm dan bahannya lebih padat dan lebih lentur ketimbang styrofoam. Dalam konsep yang gue bikin banyak bentuk-bentuk tembok yang melengkung. Dosen itu sampe di meja gue dan memperhatiin kerjaan gue (belum banyak yang gue kerjain waktu itu, hehehe). Dosen itu nanya sambil senyum,

      “Apa bahan ini bisa dibuat melengkung seperti di konsep kamu itu?”
      “Bisa pak”
      “Apa kamu sudah berhasil membuatnya melengkung?”
      “Hehehe, belum pak, dari tadi patah terus”
      “Nah itulah, dalam merancang dan membuat sesuatu kamu harus sadar material apa yang kamu gunakan. Dan kamu mesti tahu konstrain-konstrain yang menghadang konsepmu, salah satunya dari material yang kamu pakai. Kamu harus paham betul karakter material tersebut.”
      “Ooh..”

    Kemudian beliau mengambil sebuah potongan polyfoam gue dan mencoba melengkungkannya sedikit demi sedikit, hingga semakin lama makin membentuk lengkungan. Dan beliau meneruskannya hingga akhirnya patah.

      “Nah, kamu lihatkan (pada polyfoam yang patah tadi), berarti itu batas dari bahan yang kamu pakai. Itu konstrain kamu. Dengan memahami konstrain yang kamu miliki, kamu akan dapat lebih bijak dalam mengatasi konstrain tersebut dalam pengaplikasiannya pada rancangan kamu. Bila dia tidak sanggup dilengkungkan hingga titik tertentu ya jangan dipaksakan, karena percuma saja, dan dalam beberapa hal malah mungkin bisa membahayakan.”

      “Oooh…”

    Penjelasan pak dosen tersebut selain menyinari pemahaman gue tentang konstrain dalam hal perancangan, material, juga membantu gue dalam menghadapi keadaan sekitar gue. Bahwa segala sesuatunya memiliki porsi tersendiri, memiliki kadar masing-masing. Membantu gue dalam memahami pacar, teman, lalu-lintas, dan kambing bandot yang hobi kawin (???). Cuma mungkin dalam kasus manusia, konstrain itu sepertinya bersifat sementara. Semisal, cewek saya sekarang lagi susah buat ngertiin, ya itu konstrain dari dia UNTUK SAAT INI, banyak faktor yang membuatnya lagi begitu, tapi besok, lusa, atau kapan, sejalan dengan waktu dan proses-proses lebih lanjut, konstrain itu punya kemungkinan untuk berkurang, atau hilang sama sekali, karena dia manusia, mahluk yang berpotensi untuk terus berkembang dan berubah. Beda dengan kambing bandot, konstrain penjual bandot adalah ya itu, hobi kawin, gak bisa dirubah lagi. Maka si penjualnya harus memakai taktik atau perlakuan tertentu agar hal itu tidak terjadi (memberikan jarak antar kambing misalkan).

    Tapi toh ya manusia juga punya konstrain-konstrain yang gak bisa berubah. Mengenai konstrain yang nggak bisa berubah ini, gue gak mau ngomongin panjang lebar, karena sepertinya hal itu berbeda pendapatnya pada tiap-tiap orang, jadi soal itu silahken apa kata ente aja dah. Hehehehe, soalan aspek-aspek yang bisa-dan-tidak-bisa berubah dalam diri manusia itu emang seringkali berbeda pendapatnya antar tiap orang. Bahkan dalam taraf kajian ilmiah sekalipun hal itu tetep aja berbeda-beda, tergantung dari teori mana hal tersebut diukur.

    Konstrain itu ada, agar kita tahu cara menyikapinya.

     
c
Compose new post
j
Next post/Next comment
k
Previous post/Previous comment
r
Reply
e
Edit
o
Show/Hide comments
t
Go to top
l
Go to login
h
Show/Hide help
shift + esc
Cancel