Updates from June, 2006 Toggle Comment Threads | Keyboard Shortcuts

  • Nyenius 10:04 pm on June 30, 2006 Permalink | Reply  

    Fear 

    “Buka mata dan tataplah ketakutanmu. Dengan mata tertutup, di balik kelopak matamu wajah ketakutan itu menjadi semakin besar. Buka matamu dan lihat wujud ketakutan yang sebenarnya”

    Komik 20th Century Boys vol. 4
     
    • aves 10:04 pm on June 30, 2006 Permalink | Reply

      nice quote 😀

    • toba 10:04 pm on June 30, 2006 Permalink | Reply

      yeah, nice comic book :))

  • Nyenius 9:53 pm on June 30, 2006 Permalink | Reply  

    Evaluasi sebuah shooting amatir, tertanggal 30 Maret 2003… 

    Ini adalah file evaluasi shooting sebuah film indie berjudul : ‘Sebuah Cerpen’ , berlokasi di Bandung, di sebuah kafe bernama Kafe 33, yang sampai sekarang film indie tersebut masih berbentuk kaset-kaset vhs, alias belum diedit. Sampai sekarang masih utang 2 scene lagi, tapi ga bisa kebayar, karena aktornya dan aktrisnya  sudah jauh berubah perawakannya.

    evaluasi syuting hari kedua di kafe 33

    pertama syuting hari ini dilaksanakan dalam keadaan sang sutradara capek berat setelah seminggu sebelumnya (hampir berturut-turut) terlibat dalam beragam aktivitas yang semuannya menguras energi. kedua sang sutradara dalam keadaan tidak enak hati kepada pemilik tempat syuting dan juga kepada para pemainnya, sehingga timbullah kepanikan tersendiri dalam dirinya yang mengakibatkan ke-terburu-buruan, sehingga banyak hal yang terlewat atau tidak terlaksanakan dengan baik. storyboard dan shoot list juga skenario yang seharusnya menjadi pegangan utama, justeru sering terbengkalai. kepanikan dari sutradara ini fatal dan mempengaruhi jalannya pengambilan gambar. baik dari segi keteraturan pengambilan gambar maupun mood pemain dan crew.

    pengorganisiran keuangan kacau. karena tidak adanya rapat-rapat pra-produksi yang intens. tidak lupa juga kondisi wacana (baik teknis maupun praktis) dari sutradara, crew dan pemain tentang perfileman yang masih dalam tahap belajar.

    satu hal yang jangan pernah hilang dalam suasana shooting (baik setelah marah-marah sekalipun) yaitu senyum, ini vital alias penting. karena secara psikologis, senyum menetralkan suasana mood yang kacau dan manimbulan kelegaan dan ketenangan tersendiri dalam diri setiap unit shooting.

    buat kedepannya, tenang, rileks, dan lakukan sesuatu dengan lebih terencana, tidak asal jadi. sebelum bergerak pikirkan dan lihat lagi perencanaan awal, sehingga segala sesuatunya berjalan sesuai dengan rencana.

    jangan menganggap enteng, dan jangan pernah membayangkan segala sesuatunya akan berjalan terlalu mudah atau terlalu sulit. bayangan berbeda (hampir) 100% dari kenyataan di lapangan.
    good luck.

     
    • abay 9:53 pm on June 30, 2006 Permalink | Reply

      hahahhaahaha… gw jadi kangen… spirit nya masi ada, jadi anytime, gimme called when u get ur madness, dude

    • TOba 9:53 pm on June 30, 2006 Permalink | Reply

      dude, sadarilah, sudah tak terkejar dua scene sisa itu, liat perut you itu, whahahahahahhahahaha…. ok, ngerti gue =)

    • Bayu Arjuka 9:53 pm on June 30, 2006 Permalink | Reply

      Man, film itu mungkin lum waktunya realese hehe,
      kita realease dengan tambahan alur, BEBERAPA TAHUN KEMUDIAN,terus kita shoot lagi hehe,realis gak tuh,hahaha

    • abay 9:53 pm on June 30, 2006 Permalink | Reply

      yang penting muka gw tetep cute hahahhahahahaha…. urusan perut, buat apa hitler menemukan alat fitness kalo cuma kita sia2kan hahahahha…

    • Toba 9:53 pm on June 30, 2006 Permalink | Reply

      Bar, lo fitness kan cuma tahan sebulan =p Wah boleh juga usul bayu tu.. =D

  • Nyenius 6:11 pm on June 23, 2006 Permalink | Reply  

    Penganjingan Manusia disini.. 

    Bau hujan tercium dari jauh
    bercampur asap tabunan
    udara jadi pekat sephia

    terbayangkan masa lalu
    masa kecil di tanah ini
    ketika definisi beban sebatas
    bermain dan larangan-larangan ibu

    di kota ini
    orang terus berpacu seperti kuda rabies
    liur iri dan kesombongan
    menjadikan manusianya anjing-anjing
    turunan dajjal

    kemarin Arjuna dan Gatot Kaca turun
    mengajarkan ke-kesatriaan
    audience bertanya: “Berapa honor menjadi seorang ksatria?”
    berapa persentase buat analis ksatria?
    audience mulai mendebat audience lainnya.
    Masing-masing memperjuangkan agar bagiannya lebih besar
    mereka terus bicara, hingga wajahnya menjadi babi.

    nilai-nilai jungkir balik
    curiga telah menggantikan tugas oksigen

    Gerimis turun
    senang rasanya hati
    cuma ini yang selalu tulus
    walau cucurannya telah bercampur kimia

    kami terus berpacu
    hingga lupa keindahan
    semuanya tercebur ke dalam agenda-agenda
    sampai ke titik ibu harus membuat janji
    untuk bisa bertemu mahluk yang keluar dari selangkangannya

    Mengenaskan, seperti di medan perang
    melihat teman sendiri mati jiwanya
    menjadi bangsat

    Bau hujan tercium dari jauh
    hawa udara yang basah bercampur tanah

    terkenang kembali masa lalu
    ketika beban tanah kampung ini
    hanyalah kebun-kebun dan beberapa gelintir rumah
    bukan tusukan beton-beton rumah kontrakan
    dan real estate

    Jakarta, 18:06 23/06/2006

     
    • ndree 6:11 pm on June 23, 2006 Permalink | Reply

      ba, yg gw liat kok kayak kiamat sih.. menyeramkan euy… But it really happened

  • Nyenius 10:46 pm on June 22, 2006 Permalink | Reply  

    Terima kasih Tuhan… 

    • Terima kasih Tuhan, atas 6 tahun yang kulalui dengan terus bermain selama SD (sampai aku lupa, apakah benar-benar pernah belajar suatu pelajaran disana).
    • Terima kasih Tuhan, atas revolusi pemikiran selama 3 tahun di ‘smp’, kegagalan mendapat cewek, dan berkenalan dengan teater.
    • Terima kasih Tuhan, atas 6 tahun petualangan di kota Bandung, bersama orang-orang yang menarik dan penuh semangat.
    • Terima kasih Tuhan, karena telah memulangkanku ke kampung halaman (Kau benar-benar perhatian padaku).

     
    • fahdi 10:46 pm on June 22, 2006 Permalink | Reply

      lah seh …
      ngape lo?

    • toba 10:46 pm on June 22, 2006 Permalink | Reply

      bersukur aja nyeng ;p

  • Nyenius 3:02 am on June 22, 2006 Permalink | Reply  

    Trash 

    Bersihkanlah kotoran, sebelum mereka sulit dibersihkan…

     
  • Nyenius 3:00 pm on June 16, 2006 Permalink | Reply  

    New Look 

    sebelum cukur



    aaaannnnndddd....

    sesudah….

     
  • Nyenius 7:26 pm on June 14, 2006 Permalink | Reply  

    Di lantai 2 toko H. Konin lama, Ciputat 

    Sesaat menghempaskan diri pada seperangkat kursi sofa keluaran lama, dengan ruang luas dan kosong menghampar di muka, keheningan mengambang di udara. Seperti ada di bioskop yang sunyi, tanpa penonton lain, tanpa layar pemutar film; kenangan masa lampau, itulah pertunjukan yang segera tergelar.

    Masih kulihat anak kecil yang berlarian diantara sofa-sofa yang dijual, menemani ayahnya atau ibunya atau kakeknya yang melayani pembeli. Terdengar kembali hiruk-pikuk pasar yang dulu, pasar tradisional, lambang perkembangan enkonomi rakyat kecil. Sejarah, sepucuk sejarah masih menggenang di ruangan ini. Dengan sebagian langit-langit yang bobol, lantai kayu yang lapuk. Aku duduk disini, di tengah keheningan sempurna. Merasa jauh dari suara-suara, distorsi-distorsi pandangan mata, kegelapan ruang, cahaya menyilaukan, juga jauh dari kelembaban atau hawa panas, keheningan sempurna. Rasanya seperti istirahat sebulan penuh. Aku hanya duduk, merokok, dan merokok.

     
  • Nyenius 8:11 pm on June 12, 2006 Permalink | Reply  

    untuk lelaki tangguhku 

    seperti baja kau keras, tak tergoyah
    bagaikan batu kau diam membisu
    tak bisa luluh….
    apalagi kutaklukan

    napasmu napas pejantan
    warnamu merah membara
    hatimu keras sekeras karang
    senyumu….., sungguh teramat mahal

    angkuh benar pribadimu…….
    bertahta diatas kesombongan
    kokoh tak bergeming

    kutantang kau dibara rindu
    aku bersumpah….akan kulebur kerasnya baja
    diatas lahar cinta yang membara

    hai lelaki tangguhku…
    kau semakin mempesona


    (dalam keterasingan, california juni 2006)

     
  • Nyenius 12:01 am on June 1, 2006 Permalink | Reply  

    Mau tidak mau 

    Masalahnya adalah bukan bisa atau tidak bisa, tapi mau atau tidak. Itu mendesak, karena waktu terus berjalan, setiap detik terhitung. Kemampuan adalah sesuatu yang diraih, bukan dewa yang datang dengan sendirinya. Jika keadaan ideal terlalu jauh dari kita, dekatkan, dengan jalan menurunkan kadar ideal itu untuk sementara kepada hal yang paling mungkin saat ini.

    Bila bicara multi-tasking (mengerjakan beberapa hal bersamaan atau ‘dalam satu kurun waktu tertentu’), kita harus sadar, segala sesuatu didunia ini butuh ruang dan waktu demi eksistensi materi-nya. Ruang dan waktu dalam bentuk fisik juga dalam alam pikiran. Bila prasyarat tersebut nol, tidak terpenuhi, maka materi tidak dapat mengejawantah dalam alam riil. Ibarat planet tidak dapat dihuni mahluk hidup jika tak ada air, unsur yang menopang kehidupan. Apapun itu, aksi nyata ataupun ide, dia butuh ruang dan waktu. Jelas ruang dan waktu yang kita punya untuk segala sesuatu itu terbatas, limit. Dua hal tersebut adalah faktor ‘pemaksa’ eksternal, yang kita bisa hanya menyiasatinya.

     
    • Aves 12:01 am on June 1, 2006 Permalink | Reply

      ko comment gua ke apus ya?… hehehe.. BTW gua suka tulisan ini.. realistis abis 🙂

c
Compose new post
j
Next post/Next comment
k
Previous post/Previous comment
r
Reply
e
Edit
o
Show/Hide comments
t
Go to top
l
Go to login
h
Show/Hide help
shift + esc
Cancel