Updates from December, 2004 Toggle Comment Threads | Keyboard Shortcuts

  • Nyenius 7:09 pm on December 30, 2004 Permalink | Reply  

    Nangroe Atjeh Darussalam 

    Duka Atjeh,duka kita,
    Tangis Atjeh,tangis kita,
    Perih Atjeh,perih kita,
    Jeritan Atjeh,jeritan kita

    Bencana,tiada seorang pun yang menghendaki
    Bencana,tak ada seorangpun yang mengetahui
    Bencana…
    Bencana merupakan kuasa-Nya

    Apakah kau meraskan…
    Pedih,
    Pilu,
    Luka,

    Kita hanyalah makhluk ciptaan-Nya
    Apalah daya,kita adalah makhuluk yang kecil
    Berserah dirilah engkau kepada sang-Khalik
    Memohon,
    Berdoa,
    Tunduk.

    (kepedihan ku terhadap Tanah Rencong)


    Imanudin SiGalingMaut, 0
    1:20am
    30 Desember 2004

     
  • Nyenius 9:53 pm on December 29, 2004 Permalink | Reply  

    29 Desember 2004 

    Eli, Eli!

    Pada sedikit lempeng bumi yang Kau geser, merampungkan tugas malaikatmu.

    Eli, Eli!

    Begitu juga pada lintasan kereta tak berpalang, ketika satu keluarga melewatinya, pada bus antarkota yang mengejar waktu, pada anak kecil yang menyeberang jalan, merampungkan tugas malaikatmu.

    Eli, Eli!

    Maafkan aku yang takut melihat kehancuran itu. Tapi mayat yang berserakan itu Eli, sudah terlalu buat mataku.

    ELi!

    Pondasi darat yang bertumbuk pada kedalaman 10 KM, gelombang tinggi yang menggulung-gulung, ELi, terngiang jeritan mereka, terkapar terhantam balok, digulung air, terbentur-bentur segala.

    Berkahilah mereka yang terbujur mati dalam puing dan tak ditemukan, mereka yang masih hidup dan belum ditemukan, mereka yang hidup dan kehilangan habis-habisan.

    Mayat yang tergeletak, begitu sepi, sejarahnya habis dalam kota yang runtuh.

    Eli…

    Tak peduli apa agamanya, tak peduli pada Tuhan mana dia berpaling, selamatkan dia Tuhanku, selamatkan dia!

    ** Eli = Tuhanku

     
  • Nyenius 10:56 pm on December 21, 2004 Permalink | Reply
    Tags:   

    Kau Tak Bisa Kulewati 

    Tak bisa kuselesaikan
    puisi-puisimu
    dalam satu kedipan

    3-4 puisi yang terlewati
    selalu menghentak lambungku
    tak mampu terus lagi

    Luka dari
    kata-katamu
    mengucur bagai air mata

    aku tak pernah
    kenal kesunyian sepertimu
    alunan hidup yan kau ceritakan
    dan kerutan kening yang kau tuliskan

    Jiwamu seperti kapas
    lembut, hitam
    menjerat sebagai
    jaring laba-laba

    kau seakan tak menoleh
    sudah kupanggili namamu
    kupanggili namamu

    kau ada
    hanya untuk jendela-jendela
    di kamarmu

    Duduk di kursi
    menanti senja


    —-
    Toba.
    15 Januari 2003

    –edited on 12:46 pm 30/12/2010–

     
  • Nyenius 10:51 pm on December 21, 2004 Permalink | Reply  

    Kembali ke Kamar yang Dulu 

    Kembali
    ke kamar yang dulu

    merayap lagi
    di tembok-tembok sepi
    menerawang
    menembus bayangan gelap

    Ada hati kembali
    terasa benar
    pergantian musim dalam hidup

    cekaman yang halus
    dengan nikmat memijat kepala

    kembali ke kamar yang dulu
    tanpa ketakutan-ketakutan buruk
    di kepala

    aku bisa pukul temboknya
    kupecahkan dalam satu
    geliat segar

    Mampus kau semua!!!



    Toba.
    16 Januari 2004

     
  • Nyenius 10:50 pm on December 21, 2004 Permalink | Reply  

    Sebatang Tembakau dan Kopi 

    Dalam secangkir kopi
    yang meyisakan
    satu-dua asap
    Berenang jiwaku, berseloroh

    Semua kebusukan
    memang harus ada
    semua tikus-tikus
    memang harus hidup

    Dalam sebatang rokok asing
    senandung bergema
    rra ta tam tam
    rra ta tam tam
    rra ta ta tam

    kemudian tertawa geli
    melihat akuarium
    berisi ketololan-ketololan kita

    Tragisnya drama
    hasrat yang mandul
    Impian-impian muda
    Renungan-renungan cengeng

    perlahan hadir
    dalam secangkir kopi
    yang tercelup tembakau asing



    Toba.
    03/02/2003

     
  • Nyenius 10:18 pm on December 21, 2004 Permalink | Reply  

    21 Desember 2004 

    Apa yang akan kau lakukan pada suatu ketika: Kewajiban atau Keinginan?
     
    • patkay 10:18 pm on December 21, 2004 Permalink | Reply

      apa yang kau inginkan…?

    • fahdi 10:18 pm on December 21, 2004 Permalink | Reply

      ah, …

    • Aves 10:18 pm on December 21, 2004 Permalink | Reply

      Hahaha, GUa tau pasti Toba ,lagi pengen kawin tapi disuruh kuliah dulu sama emak ya????

    • SiGalingMaut 10:18 pm on December 21, 2004 Permalink | Reply

      Hahahaha…..gw stuju ama Avez,soalnya kemaren2 hasrat pengin kawinnya tinggi

  • Nyenius 10:17 pm on December 21, 2004 Permalink | Reply  

    19 Desember 2004 

    Sebuah telur pecah, karena busuk atau karena itik telah siap lahir? Isinya -entah apa- pergi meninggalkan cangkang, berlarian menuju dunia baru. Entah pembuangan atau kejayaan dari sebuah pertumbuhan. Retakan cangkang yang tertinggal membuktikan bahwa dia pernah menjadi bukan apa-apa.

    Sekali lagi pembicaraan dengan kawan memecahkan bisul yang selama ini mengganggu duduk. Jalan yang ada dan tak terlihat, jadi menganga minta dilangkahi. Ini mahal. Dalam peradabannya manusia selalu menghargai cahaya, bahkan sebagian menunjukkanya dengan penuhanan. Api yang remeh punya hakikat ‘menghidupi’ manusia. Ini mahal. Dalam sejarah peradabannya manusia berulangkali lupa, harga sebuah cahaya, lupa menjaganya dari redup dan angin zaman yang terus berjalan. Sehingga tak terhitung jalan yang lepas dari pantauan. Pada esok yang selalu gelap, kemauan menentukan.

    Karena busuk atau itik siap dilahirkan?

     
    • aves 10:17 pm on December 21, 2004 Permalink | Reply

      kalo menurut gua karena busuk… heheheh

  • Nyenius 11:25 pm on December 16, 2004 Permalink | Reply  

    Almarhum 

    kapan lagi lonceng-lonceng berdentang?
    suaranya mengancam setiap detik dalam hidup ini

    atau kapan lagi takbir berkumandang?
    gemanya mengisyaratkan rindu pada sang khalik

    lalu, harus kah kita setia menantinya?
    bila maut memang sebuah keharusan tuk dihadapi

    atau kita hadang maut ditepi ajal,
    yang menjadikan kita sebagai Almarhum



    Rakhmat.

     
  • Nyenius 6:17 pm on December 13, 2004 Permalink | Reply  

    Nyanyi Kesepian 

    aku ingin sekali bisa mendendang merdu
    semerdu nyanyi peri-peri kamarku
    menyibak tirai bisu
    apa kau ingin aku disitu
    agar kita bisa saling merayu
    agar kita bisa lebih lama bercerita
    tentang kau dan aku

    sekarang aku sepi
    tak ada kamu bahkan peri kamarku



    Diva.

     
    • reeko 6:17 pm on December 13, 2004 Permalink | Reply

      wow.. peri kamar? selama ini gw cma hidup bareng dia tapi ga pernah skalipun punya ide buat tulis ke puisi

  • Nyenius 8:49 pm on December 12, 2004 Permalink | Reply  

    Sembilan lagi menunggu mati 

    Sembilan lagi menunggu mati,
    di bawah tiang gantung yang siap mematahkan leher mereka,
    menjerit tanpa suara dan lalu hilang dari ingatan,
    ini negri orang, itulah faktanya… lebih tidak.
    ah, kawan… seakan tak pernah lain kisah ini,

    mereka disebut pembunuh,
    penjual ganja,
    berasal dari sekumpulan yang tidak berguna.

    halaman belacu ini belum lagi ditutup,
    ini negri kita,
    dan mereka tetap menjadi sampah
    yang akan segera memasuki keranjang pemulung.
    Sekarang aku bertanya
    „Apakah ada akhir untuk mereka?”



    Patkay.
    ( sedikit edit kata dari Nyenius )

     
    • Toba 8:49 pm on December 12, 2004 Permalink | Reply

      hmmmm….

    • patkay 8:49 pm on December 12, 2004 Permalink | Reply

      puisi ini bener2 cuma penyampaian rasa kesel gw, krn mslh TKI di malaysia. gw kurang perhatiin mslh keindahan bahasanya. jd sorry klo berantakan.

    • Toba 8:49 pm on December 12, 2004 Permalink | Reply

      Nggak, ini OK! kok, sorry, gue cuma ngedit satu kata: mari itu doang

    • patkay 8:49 pm on December 12, 2004 Permalink | Reply

      iye..iye..:@) gw faham. ;P

c
Compose new post
j
Next post/Next comment
k
Previous post/Previous comment
r
Reply
e
Edit
o
Show/Hide comments
t
Go to top
l
Go to login
h
Show/Hide help
shift + esc
Cancel