Updates from September, 2004 Toggle Comment Threads | Keyboard Shortcuts

  • Nyenius 2:02 pm on September 30, 2004 Permalink | Reply  

    01 Oktober 2004 

    Jiwaku tersangkut pada rentetan pohon yang santun, memangku tangannya pada bumi, meruntuhkan putih rambutnya menuruti angin. Hati ini meradang, mencari jajaran perasaan yang muncul begitu saja dari celah tanah. Aku masih gagap mengartikannya, bertanya dalam bisik kepada kabut yang dilahirkan hutan kecil itu, dia hanya menjawab dengan geleng kecil dan senyum malu-malu.

    Sisi yang sunyi muncul juga, kerinduan pelukan. Bingungnya romantisme anak kecil menagih untuk dijelaskan, ditantang kenyataan dan kesadaran yang lebih matang.

    Gadis yang kulihat dari jauh, aku tak tahu, tak dapat kujelaskan, aku akan terus membuntutimu.

     
    • aves 2:02 pm on September 30, 2004 Permalink | Reply

      wah… ternyata benar Toba sedang jatuh Cinta…. selamat ya… akhirnya, Gua udah ngira lo bahkalan jadi Homo, kan gua ngeri… hehehehehe

    • nazla 2:02 pm on September 30, 2004 Permalink | Reply

      jadi kemaren lu liat penampakan, ba? pantesan di bawah payung merah jambu daku merinding2 😀

  • Nyenius 9:06 am on September 30, 2004 Permalink | Reply  

    WAITING FOR DOG 

    (untuk Caesar,Layla,Priska,Kiki,Na,dan semua perempuan yang kusayangi. Semoga Tuhan memberikan kalian laki-laki yang baik)

    seorang wanita,
    bunting lima bulan,
    datang dengan ibu tengah baya,
    dan seorang anak diluar janinnya.
    wajahnya saat itu adalah kolam asa.

    “katanya ia akan datang jam 9”

    “ah dia itu tukang bohong, Teh”

    “kalau dia bohong biar celaka”

    “jangan Bu, kasihan Teteh”

    “daripada nyusahin”

    ini dia!
    Pangeran Yunani datang.
    dengan mahkota duri mawar
    ia berlagak tenang dan mengubah susunan
    drama tragedi yang akan berlangsung penuh darah menjadi suatu komedi kabaret dengan pilihan lagu hip-hop.

    “saya sudah tidak tinggal di kota ini”

    “jadi tinggal dimana sekarang?”

    “jauh dari kota ini”

    “saya minta biaya persalinan”

    “saya juga sedang tidak punya uang”

    “bagaimana donk? kamu sudah tiga bulan tidak mengirim biaya hidup, tidak pernah datang”

    “ini saja 25.000 rupiah, kembali lagi tanggal dua ke kantor saya”

    ia laki-laki yang berguna
    benihnya subur
    hasilnya cantik
    tapi hanya tahu menanam.
    atau memang hanya suka menanam.

    25.000 untuk persalinan istri ketiga yang cantik
    setengah juta untuk menggoyang malam ini dengan peluh.
    benar-benar berguna!

    aku jadi bertanya
    apakah cara kerja sperma begitu penuh perhitungan, hingga membosankan?

    =============
    Akbar

     
    • adjeng 9:06 am on September 30, 2004 Permalink | Reply

      I like it! 🙂 semoga saya didoain hal yang sama juga….

    • agam 9:06 am on September 30, 2004 Permalink | Reply

      waiting for godot??????

  • Nyenius 12:21 pm on September 29, 2004 Permalink | Reply  

    29 Sept 2004 

    Begitulah sepertinya hidup ini, wahai kakakku yang baik. Dia tak pernah henti memberi pilihan-pilihan. Apalagi setelah kita mengambil sebuah keputusan, pilihan-pilihan itu tetap saja datang, membuat kita berpikir-ulang, menggoda kita kepada penyesalan. Tapi kakakku, terus saja, pilihlah apa yang kau inginkan, selama pilihan itu adalah untuk terus hidup dan menjadi. Jangan takut mati atau tersesat, karena setiap pilihan itu mempunyai jalur aksi-reaksi nya sendiri. Sekali lagi, selama pilihan itu adalah pilihan untuk hidup, maka tak ada pilihan yang tak berujung, tak ada pilihan-jalan-buntu, ia berujung-bermuara, dengan dahsyatnya Tuhan aturkan semua itu untuk kita. Damailah kak, putuskan dan jalani dalam senyum.

    Kawanku ada berkata:”Ibuku bilang, kita harus membayar atas kebodohan yang kita perbuat. Seberapa mahal? Tergantung kebodohannya”. Semua ada harganya, kita berdagang dengan hidup. Mungkin jual-beli kita sistemnya kredit, karena kebodohan yang telah diperbuat hari ini, tak langsung merongrong serta-merta, ia akan menagih, merayapi kita nanti, -seperti kiamat- entah kapan, tapi hampir pasti. Bagaimana dengan kebaikan, oh tentu, tentu, bahkan seringkali kita mendapat bonus -tanpa diundi, tak kena pajak- karenanya.

    Announcement kecil

    Tadi nelpon Rizal (Bandung, STSI), ngobrol bentar, dan…. dia belum tau gue pindah kuliah kemana! Duh parah ini, gue jadi kayak orang gak tau diri, gak ngasih kabar apa2 ke anak STSI. Padahal gue udah sms-in kawan-kawan di Bandung (begitu pengumuman lulus, langsung gue ngirim sms 20-an biji ke mereka). Daaaaaaannnnn rupanyaaaaaaa, sms-sms itu sebagian KAGAK NYAMPE!

    Huff, ya udah, buat kerabat-kerabat gue nun di sana-sini, gue sekarang dah di Ciputat, sukur keterima di FSRD Interior Trisakti 2004. Dan gue minta maaf kalo gue blom sempet / gagal memberitahu kalian berita ini. Maaf, maafiinn, maapp, sumpah maap, mudah-mudahan kita segera ketemu lagi.

    Sukses buat hidup kalian!

     
  • Nyenius 1:39 pm on September 27, 2004 Permalink | Reply  

    28 Sept 2004 

    Ciputat Setelah Hujan

    Begitu hujan berhenti bicara, tanah ini jadi penuh cumbu-rayu, romantisme merayap pada tiap sudut udara. Segalanya tampak menenangkan. Tak ada yang berkejaran dan yang menangis disudut debu jalan, semuanya istirah, menikmati sisa belaian manja hujan pertama.

    Setiap tempat tampak menyenangkan dan penuh kenang. Aku ingin berlama-lama di terminal yang lengang, meraup hawa gaib hujan yang tersangkut di sela pohon kering dan genangan-genangan kecil air di atas beton yang selalu sibuk. Jejak-jejak kebaikan hujan melembutkan suara-suara kondektur batak yang biasanya garang. Menikmati udara keberkahan hujan bersama manisnya asap rokok, kami bertiga saling cumbu, tawa-menertawai, dan menggaruki batin kami yang gatal.

    Begitu hujan usai mengabarkan kedatangannya, hawa dingin tak ingin diam begitu saja, digigitinya tulang-tulang kami yang mengering oleh kegilaan kota, jelas, dengan mesra! Tak lupa dikirimkan angin-angin manis berpita lucu, hujan menyapu galau mereka yang terus berjalan.

    Semua berubah wajah, menjadi gelap, biru gelap yang mendamaikan. Malam bertambah genit, bagai gadis misterius bergaun anggun yang tak henti tersenyum dan meninggalkan pesona dalam di hati pemuda kasmaran. Semua dikecupnya, hingga cinta-cinta hadir dan benar-benar tak terucapkan.

    Aku jatuh gandrung, sepertinya Ramadhan datang lebih cepat.

     
    • fahdi 1:39 pm on September 27, 2004 Permalink | Reply

      dan di pasar terlihat becek dan makin macet
      DOH CIPUTAT
      DOH CIPUTAT

    • nazla 1:39 pm on September 27, 2004 Permalink | Reply

      iya nih, malam nisfu ini gw berasa sendu sendiri…puasa bentar lagi.

  • Nyenius 11:25 am on September 25, 2004 Permalink | Reply  

    Tidak yang Itu 

    Tubuhku biru lebam,
    kuserahkan.

    Tapi mataku,
    tidak!

    =============
    Toba, 25/09/04

     
  • Nyenius 2:22 pm on September 24, 2004 Permalink | Reply  

    25 Sept 2004 

    Kesedihan mengental di ulu hati, bila teringat tanah itu. Tanah yang kelam dan cemerlang. Penuh dengan bajingan-bajingan istimewa. Begini rupanya, kukira mereka yang akan pergi lebih dulu, rupanya aku.

    Memang konyol, aku rindu kebodohanku, aku rindu masa-masa kelam itu. Semesta seperti tak punya kuasa atasku. Malam kubalik siang, dan siang kujadikan malam. Dan mereka -para kumbang yang baik- tak henti berceloteh, nasihat-nasihat manis, dalam cinta. Datang silih berganti, menggantikan tugas angin merubah musim. Adakalanya kecanggihan meraja, ada musimnya ikan hias berenang-renang, tak lupa masa puitis dan drama berjaya, pecintaan-percintaan muda, kenakalan-kenakalan berandal amatir, dan keseriusan-keseriusan tersembunyi yang kadang terkuak. Aku merindukannya, ya. Tergila-gila, ya. Tapi tahu, itu sudah lewat.

    Kesedihan melanda tiba-tiba, bila ingat tanah itu. Tapi aku belum dapat tahu kesedihan macam apa itu, karena air mata tak keluar walau hati sudah sesak-melesak, sebaliknya senyum seringkali keluar dengan bahagia.

    Ah, mungkin ini yang namanya haru.

     
    • ceuceu 2:22 pm on September 24, 2004 Permalink | Reply

      aku yakin, mereka merindukan kamu juga 🙂

    • sarah... 2:22 pm on September 24, 2004 Permalink | Reply

      lg kangen ya? sama nih..!!sar jg lagi kangen2nya ma smuth

    • Toba 2:22 pm on September 24, 2004 Permalink | Reply

      Heeuh….. hiks hiks hisk

  • Nyenius 6:55 am on September 23, 2004 Permalink | Reply
    Tags:   

    Tentang Seorang Gadis 

    Air beriak-riak
    Hujan memantau-mantau
    Seorang gadis berlompatan
    berkejaran dengan hujan

    Dalam diam yang senyum
    Dia sodorkan dua kerat taman bungan
    dan sepotong kata
    Sorry, cuma ini”

    Lantas dia lompat dan pergi
    belum sempat aku tersadar
    dia sudah tembak aku bertubi-tubi
    kukutuk kesadaran yang terlambat

    angin berbisik dari lompatannya
    megipasi bibirku yang tersenyum

    Ihh!
    Kutangkap nanti
    Dan kau kubuat mati

    Toba 2000
    =====================
    Revised on 23 sept 2004

     
    • tamu 6:55 am on September 23, 2004 Permalink | Reply

      ehem!!

    • adjeng 6:55 am on September 23, 2004 Permalink | Reply

      kalo sekarang, gadis mana yang mengetuk kesadaranmu Ba??

  • Nyenius 1:16 pm on September 21, 2004 Permalink | Reply  

    22 Sept 2004 

    Surat Cinta

    Sayangku,
    setelah menggambar puluhan kubus, tahulah aku, bahwa hakikatnya kau adalah kubus yang menggairahkan…

     
    • lio sayang siti 1:16 pm on September 21, 2004 Permalink | Reply

      ba ..ini love apa lust?

  • Nyenius 11:31 am on September 19, 2004 Permalink | Reply  

    19 Sept 2004 

    Ada yang hendak melangkah jauh. Wajahnya terang dan matanya penuh sinar kemudaan. Penderitaannya hampir berakhir, segala sumbatan ditanggalkan, tanpa daya, terbaring penuh senyum. Sudahilah keluhan-keluhan itu, semua pengapuran dan sesak di dada, malaikat menunggu di gerbang sana. Aku tak bisa apa-apa, dada penuh buncahan lambai, sedih tak terperi, mengingat kesepianmu dalam sangkar besar pada hari-hari terakhir.

    Aku cium tangan, dan dua kecup untuknya.
    “Nek, kau terlihat manis hari ini”

     
    • Luigi 11:31 am on September 19, 2004 Permalink | Reply

      Nek, senantiasalah memanjatkan doa & pengampunan kepadaNya, agar mudah perjemputan dan perjalananmu kemudian..doaku buatmu selalu kupanjatkan padanya.., Salam kenal & Salam hangat dari Tanah Monrovia 🙂

    • nyenius 11:31 am on September 19, 2004 Permalink | Reply

      Tanah Monrovia? Kelurahan mana tuh?

  • Nyenius 3:00 pm on September 17, 2004 Permalink | Reply
    Tags:   

    Sejurus Mandang Lautan 

    sejurus mandang lautan
    menengok luka yang tersisa
    satu-dua uratnya masih berdenyut malu

    Tak usah lambaikan tangan
    tak usah ucapkan pisah
    pandangi ia makin hanyut ke tengah
    jauh dari dada kita

    di pantai ini
    kita hanyalah pelancong
    yang mengagumi paduan
    matahari sore dan keindahan luka

    pelesiran ini jadi rutin
    karena kita butuh romantisme
    kita butuh menyerap keindahan tangis dan ratap
    agar penyesalan malu

    sejurus mandang lautan
    wajahmu dan harap yang menggantung
    terbingkai jelas berlumur matahari senja

    ================
    18 Sept 2004

     
    • adjeng 3:00 pm on September 17, 2004 Permalink | Reply

      kalo ada temen maen ke pantai, aku suka minta dibawakan pasir…… kalo kamu sempet, bawakan juga pasir dari pantaimu ya 🙂

    • pengembara 3:00 pm on September 17, 2004 Permalink | Reply

      Mbak, kalo mao mbangun rumah, jangan pakai pasir pantai… lagipula, lebih efektif kalo beli, ketimbang nitip sama temen yang ke pantai (gak setiap minggu kan?)

    • adjeng 3:00 pm on September 17, 2004 Permalink | Reply

      aku minta pasir bukan buat bangun rumah kok. aku minta pasir dari pantai yang aku belum pernah kunjungin. aku kenalan dulu ma mereka, biar suatu hari, waktu aku ke pantai itu, mereka bisa kenal aku ^_^

c
Compose new post
j
Next post/Next comment
k
Previous post/Previous comment
r
Reply
e
Edit
o
Show/Hide comments
t
Go to top
l
Go to login
h
Show/Hide help
shift + esc
Cancel