Updates from March, 2001 Toggle Comment Threads | Keyboard Shortcuts

  • Nyenius 11:02 pm on March 20, 2001 Permalink | Reply  

    Elegi Musim Gugur 

    ELEGI MUSIM GUGUR

    Sesuap nasi untuk surga
    Disuguhkan bocah
    Demi damai yang hilang
    Antara peperangan raja-raja
    Meski serasa tanah
    Inilah dunia punya

    Semenjak kemarin
    Salib dipasak sudah pada ufuk
    Menanti Mesiah dari selatan
    Hanya sebatang lilin,
    setangkai bunga,
    dan secuil roti
    Hadiah bumi untuk sang rasul
    Selebihnya mahkota duri,
    beberapa paku
    Dan sebongkah palang kayu untuk ditukar dengan rela Tuhan

    Nasi sudah basi
    Dia yang dijanjikan tak jua datang
    Bocah pun menghujat langit
    Mengulang-ngulang nyanyi musim gugur
    Sebait ilalang kering yang tertawan kematian

     
  • Nyenius 10:59 pm on March 20, 2001 Permalink | Reply  

    riwayat naif 

    RIWAYAT NAIF

    Aku lelaki tak lagi punya kemaluan
    Kasihkupun hilang rasa
    Kami tak lagi bicara
    Kami hanya bercinta secara ontologis
    Sejauh dia ada dan aku ada
    Itu saja!
    Selebihnya adalah ketiadaan
    Yang tak pernah sanggup kami khayalkan

    Aku lelaki mandul sudah
    Kasihkupun putus doa
    Kami tak lagi satu ranjang
    Kami hanya bercinta secara haram
    Tidak penghulu kami datangi
    Tidak pula akad nikah kami ucapkan
    Kami hanya berikrar
    Bahwa aku atau dia adalah aku itu jua

    Biar tak berkemaluan atau mandul
    Itu sudah pilihan kami
    Maklum…
    Kami takut akan cemburu
    Bila ada yang ketiga
    Ya… terpaksa aku kebiri
    Dia pun matikan rasa
    Katanya sih demi cinta
    Dengan dalil seharga kematian setan

     
  • Nyenius 10:55 pm on March 20, 2001 Permalink | Reply  

    kematian pertama 

    KEMATIAN PERTAMA

    Bukan bayang biasa ternalar
    Tapi awan-awan damai seorang perawan
    Yang dibisik anak kecil
    Dari mantra-mantra surga yang masih tersisa

    Hendak ku meraja-raja di lubuknya
    Tak jua berlafal ini teriak cinta
    Menampar-namparlah diri pada altar biara
    Tak jua bersaksi ini pinta

    Oh..pada doa-doa leluhurku
    Aku suluhkan munajat tanah
    campakkan nasib pada riwayat lilin
    seraya melangkahi maut pada alinea terkahir

    biar tak berkafan ini tubuh
    tak pun kubur digali
    ini mayat cinta tak jasad dipunya
    hanya bayang hidup di batas kematian pertama
    tuturkan ayat-ayat suci

     
  • Nyenius 10:53 pm on March 20, 2001 Permalink | Reply  

    jarak dua kata 

    JARAK DUA KATA

    Tentang kemarin
    Tentang mimpi semalam dan selembar daun
    Dosaku bercerita
    Kata-katanya membakar matahari
    Higga telanjanglah aku dikeramaian

    Bayang!
    Pernah kutanya pada pengemis tua
    Tentang jarak dua kata
    Antara benci dan cinta
    Antara pupus dan harap
    Antara mati dan hidup
    Hanya sekujur mayat ditunjukkan
    Dan seruling patah

    Oh… makin menangis ku pada bisu isyarat
    Luput kian ini makna
    Entah di mana hening kan dirasa

    Berlariku pada sekumpul orang-orang gila
    Bernyanyi mereka tiada suara
    Seraya menarikan diri tanpa gerak
    Mengucap nama tanpa kata
    Menulis asma tanpa aksara

    Oh…bukan jawab ditemuku
    Tapi selaksa rahsia kian direntangkan

    Pada petapa mana ku kan bertanya
    Pada nabi mana ku kan haturkan

    Mungkin cinta adalah benci kemarin
    Mungkin harap adalah pupus semalam
    Mungkin hidup adalah mati lusa lalu
    Andai zaman tak lagi mengikat jiwa
    Jarak antara dua kata
    Takkan lagi dirasa
    Hingga abadilah segalanya

     
  • Nyenius 6:59 pm on March 20, 2001 Permalink | Reply  

    Malam itu, akhiri kisah Volume pertama 

    Sudah banyak tanda
    Yang hendak meruntuhkan tenda
    Dimulai dari kepulan asap dulu,
    Diakhiri dengan marahnya benda kelabu

    Semacam kasih sayang yang kuberikan padamu
    Mesti tidak sehebat matahari untuk dunia
    Jelasku, yakin kan dia
    Jawabnya, bagi nya terasa singkat
    Yang bagiku terpikir berkarat
    Sungguh jawaban yang mengajak, anggap-ku

    Ketika awan kelabu
    Langit sunyi
    Hanya pohon bamboo yang menunduk itu
    Mengajak canda dalam kegalauan

    Bayang-ku di lambang plus
    Walaupun tak berlangsung mulus
    Jauh-ku dilambang minus
    Agar tak pupus, leleus, atau pepeus

    Ku-duga, ingin mu menikmati hari
    Hari-hari yang penuh imaji
    Hari-mu yang penuh kreasi
    Yang tak terkait oleh kail si pemula

    Sungguh kasihan keadaan mu sobat
    Mungkin kau menangis ketika tawa-ku
    Mungkin kau mengemis ketika bingung-ku
    Mungkin kau merengek ketika bimbang-ku
    Tapi sekarang kau bersedih ketika senyum-ku

    Buat apa kau adu-kan padaku
    Sudah kubilang, kenapa kau berada disitu
    Dibalik rongga-rongga yang terpenjara
    Ditemani darah dan gelap tanpa akhir

    Tanganku hanya bisa menulis sampai titik
    Mulutku hanya bisa meracau sampai air itu berteriak
    Telingaku hanya bisa mendengar sampai mulut itu bisu
    Mataku hanya bisa melihat sampai batas-batas itu
    Tapi ketika semua itu telah,
    Patah…
    Bisu…
    Tuli…
    Buta….
    Apa arti dunia ini bagiku
    Tubuhku hanya bangkai-bangkai kehidupan

    Sekarang seterah kau, sobat
    Apakah perlu lembaran baru
    Yang kutulis di volume kedua
    Kau tanya aku..!!!
    Aku cukup senang menunggu apa kata Tuhan
    Tentang kisah kita

    MaMaT
    23:07
    15/02/05

     
c
Compose new post
j
Next post/Next comment
k
Previous post/Previous comment
r
Reply
e
Edit
o
Show/Hide comments
t
Go to top
l
Go to login
h
Show/Hide help
shift + esc
Cancel